Friday, April 30, 2004
Skripsi edisi 30 APRIL 2004
SKRIPSI edisi 30 April 2004BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagai mahluk hidup manusia punya hubungan yang erat dengan bahasa. Dari waktu ke waktu bahasa senantiasa mengalami perkembangan. Demikian juga dengan ilmu bahasa. Adanya ilmu bahasa telah mempermudah manusia dalam mempelajari bahasa, bahkan bahasa asing sekalipun.
Fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Menurut Gulāyaini (2002:9) bahasa adalah lafal-lafal yang digunakan oleh suatu kaum untuk mengungkapkan maksud-maksud hati mereka. Salah satu unsur bahasa yang sering digunakan manusia untuk berkomunikasi adalah kalimat.
Ada berbagai jenis kalimat yang kita kenal. Antara lain: kalimat aktif dan kalimat pasif. Kalimat aktif adalah kalimat yang subjek gramatikal verbanya melakukan suatu kegiatan atau proses (Samsuri, 1981;12), contoh:
Saya menulis surat.
Adapun kalimat pasif adalah kalimat yang subjek gramatikal verbanya menderita atau dikenai verba itu (Samsuri, 1981;13), contoh:
Surat itu dibuang.
Surat itu ditulis dengan pensil.
Kalimat pasif dalam beberapa bahasa seperti Indonesia dan Inggris menggunakan kata kerja pasif sebagai predikatnya. Hal ini juga berlaku di dalam bahasa Arab. Perhatikan ketiga kalimat di bawah ini:
Indonesia: Ikan asin dimakan kucing
Inggris: I was hit by my parent
‘Aku dipukul oleh orang tuaku’
Arab: أفلا يعلم اِذا بُعثِر ما فى القبر (العاديات:9)
‘Apakah dia tidak bila kelak segala yang ada di dalam kubur dibangkitkan’
Jadi, kata kerja bisa dibagi menjadi dua macam; aktif dan pasif. Ketiga kata kerja dalam kalimat-kalimat di atas berbeda dengan kata kerja aktifnya (memakan, hit, bu`sira). Lihat tabel berikut ini.
Kata kerja aktif Kata kerja pasif
Memakan Dimakan
Hit ‘memukul’ Was hit ‘dipukul’
بَعْثَرَ بُعْثِرَ
Dalam A Dictionary of Theoritical Lingustics English-Arabic (Ali, 1922) dan Mu`jamu Al-istilāhati Al-`Arabiyyati Fi Al-Lugati Wal-Adab (Mahdi,tt) padanan kata kerja aktif (active verb) adalah fi`l ma`lūm, sedangkan kata kerja pasif (passive verb) padanannya adalah fi`l majhūl.
Fi`l ma´lūm adalah kata kerja yang fā`il-nya disebutkan dalam kalimat (Gulāyaini, 1912;104), sedangkan fi`l majhūl adalah kata kerja yang fā’il-nya tidak disebut dalam kalimat (dihilangkan) dengan tujuan tertentu (Gulāyaini , 1912:104). Kalimat aktif bisa dibentuk dengan menggunakan fi`l ma´lūm sebagai predikatnya sedangkan kalimat pasif bisa dibentuk dengan menggunakan fi`l majhūl. Contoh:
Kalimat aktif: قراءْتُ القرءانَ
‘Saya sudah membaca Al-Quran’
Kalimat pasif: قُرِاءَ القرءانُ
‘Al-Quran itu sudah dibaca’
Akan tetapi, kita bila diperhatikan kedua kalimat di atas secara lebih jeli, pelaku dalam kalimat aktif di atas (kata ganti orang pertama: تُ ‘Saya’) tidak muncul dalam kalimat pasifnya. Hal ini karena kalimat tersebut menggunakan fi`l majhūl sebagai predikatnya sehingga pelakunya harus dihilangkan (tidak disebut dalam kalimat).
Uraian di atas menunjukkan bahwa, fi`l majhūl hanya bisa digunakan untuk membentuk kalimat pasif yang tanpa pelaku. Jadi, kalimat pasif yang memunculkan pelakunya tidak bisa dibentuk dengan fi`l majhūl sebagai perdikatnya.
Bila kita ingin membentuk kalimat pasif tanpa menyembunyikan pelakunya maka kita harus menggunakan fi`l ma´lūm sehingga kalimat di atas menjadi:
القرءان قرئْتُهُ
‘Al-Quran itu sudah kubaca’
Dalam buku-buku Nahwu dan Sarf, penulis tidak menemukan pembahasan secara khusus dan menyeluruh tentang kalimat pasif. Penulis hanya menemukannya dalam bab-bab yang menerangkan tentang fi`l majhūl atau nā’ibul fā`il. Akan tetapi, dalam bab-bab tersebut tidak ada pembahasan tentang bentuk kalimat pasif yang pelakunya dimunculkan atau bentuk-bentuk kalimat pasif yang lain. Hal ini tidak berarti kalimat pasif dalam bahasa Arab selalu tidak menyebut pelakunya dalam kalmat.
Penulis menemukan berbagai bentuk kalimat pasif dalam berbagai teks berbahasa Arab. Tidak semua kalimat pasif dalam bahasa Arab menggunakan fi`l majhūl sebagai predikatnya. Ada beberapa bentuk kalimat pasif yang tidak menggunakan fi`l majhūl. Contoh:
-(Hasanah, 1998: 4) هذِه الطلبة قد وافقها العميد
‘Permintaan ini telah disetujui oleh dekan.’
- (Syamsuddin, tt: 3) المياه تنقسم على أربعة أقسام ٍ
‘Air terbagi menjadi empat jenis.’
- اذا مات ابن آدم انقطع عمله....(الحديث)
‘Apabila anak adam telah meninggal maka terputuslah amalnya.’
Kalimat-kalimat di atas menunjukkan bahwa, ada bentuk-bentuk kalimat pasif yang tidak menggunakan fi`l majhūl sebagai predikatnya. Hal ini menarik untuk diteliti lebih lanjut. Apakah kalimat pasif bisa dibentuk tanpa menggunakan fi`l majhūl. Untuk itu, penulis mencoba melihat bagaimana Nawāl As-Sa`dawiy mengungkapkan kalimat-kalimat pasif dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr. Dengan begitu, kita bisa melihat bentuk-bentuk kalimat pasif yang beraneka-ragam, setidaknya yang terdapat dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr. Pemilihan novel ini, sebagai objek penelitian, karena dalam novel ini ada banyak kalimat pasif. Penulis menemukan 55 buah kalimat pasif dan 36 frasa pasif.
1.2 Pokok Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bentuk dan struktur kalimat pasif yang terdapat dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr karya Nawāl As-Sa`dawiy.
1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan pokok masalah di atas, maka tujuan praktis penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan dan menguraikan bentuk dan struktur kalimat pasif yang terdapat dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr. Adapun tujuan teoretisnya adalah untuk menambah wawasan dalam bidang lingustik Arab, khususnya kalimat pasif.
1.4 Landasan Teori
Untuk membahas kalimat pasif dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr ini digunakan pendekatan teori struktural. Strukturalisme dalam linguistik adalah pendekatan pada analisis bahasa yang memberi perhatian yang eksplisit kepada berbagai unsur bahasa sebagai unsur dan sistem (kridalaksana, 1983:47). Unsur-unsur yang dimaksud adalah fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik.
Dalam penelitian ini, penulis akan menganalisis bentuk dan struktur kalimat pasif. Oleh karena itu, penulis akan melihat melihat kalimat sebagai bangunan yang terdiri dari beberapa unsur. Unsur penyusun kalimat adalah kata. Menurut Verhar (1996:162), teori yang yang membahas hubungan antar kata dalam tuturan adalah tata bahasa atau sintaksis. Ada tiga cara untuk mengkaji kalimat atau klausa secara sintaksis yaitu analisis fungsi, analisis peran dan analisis kategori (Verhaar, 1996;162).
Dengan ketiga analisis ini: (1) Data diuji kepasifannya. Hal ini dilakukan dengan melihat apakah subjek gramatikalnya ke dikenai verba atau melakukan verba yang mengisi fungsi predikat. Bila subjek gramatikal tersebut dikenai verba maka kalimat tersebut adalah kalimat pasif. Demikian sebaliknya, apabila ternyata subjek gramatikal tersebut melakukan verba maka kalimat tersebut bukan kalimat pasif. (2) Penulis akan melihat struktur kalimat pasif dari sampel. Apakah berbentuk jumlah ismiyah ataukah jumlah fi`liyah. Kata kategori apa yang mengisi fungsi-fungsi sintaksisnya.
1.5 Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tiga tahapan strategis yaitu; tahap pengumpulan dan penyediaan data, analisis data dan penyajian data.
1.5.1 Tahap pengumpulan dan penyediaan data
Data, yang berupa kalimat-kalimat pasif, dikumpulkan dengan metode simak dan teknik catat. Penulis membaca novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr karya Nawāl As-Sa`dawiy lalu mencatat kalimat-kalimat pasif yang ditemukan ke dalam kartu data. Selanjutnya, data yang terkumpul tersebut dipilah berdasarkan struktur kalimatnya dengan memberi tanda-tanda pada kartu data.
Dari masing-masing kelompok data, secara acak, diambil tiga buah data yang dianggap bisa mewakili, untuk dijadikan sampel yang akan dianalisis.
1.5.2 Tahap analisis data
Proses analisis data dilakukan dengan metode agih. Metode agih adalah metode penelitian yang alat penentunya menggunakan unsur bahasa itu sendiri (Sudaryanto, 1993:15). Lebih lanjut Sudaryanto (1993) menyebutkan bahwa, metode agih mempunyai teknik dasar dan beberapa teknik lanjutan. Teknik dasarnya adalah teknik bagi unsur langsung (BUL), yaitu pembagian satuan lingual datanya menjadi beberapa bagian atau unsur.
Adapun teknik lanjutan dari metode agih ini setidaknya ada tujuh macam, yaitu; teknik Lesap, teknik Ganti, teknik Perluasan, teknik Sisip, teknik Balik, teknik Ubah Ujud, dan teknikUlang.
Dalam penelitian ini teknik lanjutan yang dipakai adalah teknik Ubah Ujud dan teknik Lesap. Teknik Ubah Ujud dilakukan dengan mengubah kalimat yang menjadi kalimat aktif. Bila kalimat tersebut tidak bisa diubah menjadi kalimat aktif maka perlu diragukan kepasifannya. Adapun teknik Lesap dilakukan dengan menghilangkan unsur-unsur penyusun kalimat, satu persatu dan secara bergantian. Teknik digunakan untuk mengetahui unsur inti penyusun kalimat pasif. Selain itu, teknik Lesap juga digunakan untuk menguji tingkat keintian unsur-unsur penyusun kalimat.
1.5.3 Tahap penyajian data
Dalam menyajikan hasil analisis, penulis menggunakan metode informal dan metode formal. Metode formal adalah dengan menggunakan bahasa secara biasa, sedangkan metode informal adalah dengan menggunakan lambang-lambang (Sudaryanto, 1993:145).
1.6 Tinjauan Pustaka
Sejauh pengamatan penulis, belum pernah ada penelitian ilmiyah yang membahas kalimat pasif dengan objek material novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr karya Nawāl As-Sa`dawiy, khususnya di fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Adapun penelitian lain yang hampir serupa adalah skripsi Darul Akhirah, mahasiswi Sastra Asia Barat, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, dengan judul Penggunaan Fi`l Majhūl Dalam Novel Salamatu Al-Qas: Analisis Struktural. Skripsi ini membahas penggunaan kata kerja pasif (fi`l majhūl) dalam novel Salamatu Al-Qas.
Adapun novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr sudah pernah dijadikan objek material penelitian bahasa dengan topik yang lain. Penelitian tersebut adalah skripsi Amin Ma’ruf dengan judul Penanda Negasi Verba dalam Novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr: Analisis Kategori dan Peran. Dalam skripsi ini Amin Ma’ruf meneliti macam-macam verba penanda negasi verba yang digunakan oleh Nawāl As-Sa`dawiy dalam novel tersebut.
1.7 Sistematika Penyajian
Hasil penelitian ini akan disajikan dalam lima bab; Bab I merupakan pendahuluan yang meliputi Latar Belakang, Pokok Masalah, Tujuan Penelitian, Tinjauan Pustaka, Landasan Teori, Metode Penelitian, Sistematika Penyajian, dan Pedoman Transliterasi Arab-Latin. Bab II berisi uraian tentang fungsi-fungsi sintaksis dan struktur kalimat dalam bahasa Arab. Bab III berisi tentang pola-pola kalimat pasif. Bab IV merupakan analisis data yaitu pemabahsan kalimat-kalimat pasif dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr. Bab V merupakan bab penutup. Bab ini berisi kesimpulan hasil analisis dan saran-saran.
1.8 Pedoman Transliterasi Arab-Latin
Dalam penyusunan skripsi ini, untuk penulisan kata-kata Arab yang dianggap perlu ditransliterasi, penulis menggunakan Pedoman Transliterasi Arab-Indonesia berdasarkan SKB Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, tertanggal 22 Januari 1988 No: 158/1987 dan 0543b/U/1987, sebagai berikut:
1.8.1 Konsonan
Huruf Arab Huruf Latin Keterangan
ا - tidak dilambangkan
ب B Be
ت T Te
ث S Es dengan titik di atasnya
ج J Je
ح H Ha dengan titik di bawahnya
خ Kh huruf ka dan ha
د D De
ذ Z Zet dengan titik di atasnya
ر R Er
ز Z Zet
س S Es
ش Sy Es dan ye
ص S Es dengan titik di bawahnya
ض D De dengan titik dibawahnya
ط T Te dengan titik di bawahnya
ظ Z Zet dengan titik di bawahnya
ع ‘ Koma terbalik
غ G Ge
ف F Ef
ق Q Qi
ك K Ka
ل L El
م M Em
ن N En
و W We
ه H Ha
ء ` apostrof, dipakai jika berada di tengah kalimat
ي Y Ye
1.8.2 Vokal
Vokal pendek Vokal panjang Diftong
… َ… : a َا… … : ā َي … : ai
…ُ ... : u ُو … … : ū َو … : au
…ِ … : i ي ِ… … : ī
1.8.3 Ta’ Marbutah
Transliterasi untuk Ta’ marbutah ada dua macam, yaitu: Ta’ marbutah yang hidup dan Ta’ marbutah yang mati. Ta’ marbutah yang hidup atau mendapat harakat fathah, kasrah, dan dammah trasliterasinya adalah /t/. Adapun Ta’ marbutah yang mati atau mendapat harakat sukun, transliterasinya adalah /h/. Jika pada kata yang terakhir dengan ta’ marbutah diikuti oleh kata yang terakhir menggunakan kata sandang al serta bacaan kedua kata itu terpisah maka ta’ marbutah itu ditransliterasikan dengan /h/. Contoh: المدينة المنورة ditransliterasikan al-Madinah-al-Munawwarah atau al-Madinatul-Munawwarah.
1.8.4 Syaddah ( Tasydid)
Syaddah atau tasydid dalam sistem penulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda syaddah atau tasydid, dalam transliterasi dilambangkan dengan huruf yang sama dengan huruf yang diberi tanda syaddah itu.
Contoh: رّبنا rabbanā.
1.8.5 Kata Sandang
Dalam sistem penulisan Arab kata sandang dilambangkan dengan ال , tetapi dalam transliterasi dibedakan menjadi dua, yaitu:
1.8.5.1 Kata sandang yang diikuti oleh huruf syamsiyah
Kata sandang yang diikuti oleh huruf syamsiyah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya, yaitu huruf /l/ diganti dengan huruf yang sama dengan huruf yang langsung mengikuti kata sandang itu. Contoh: الشمس asy-syamsu.
1.8.5.2 Kata sandang yang diikuti oleh huruf qamariyah
Kata sandang yang diikuti oleh huruf qamariyah ditransliterasikan sesuai dengan huruf aturan yang digariskan di depan dan sesuai pula dengan bunyinya. Contoh: القمر ditulis al-qamaru
1.8.6 Hamzah
Sebagaimana dinyatakan di depan bahwa, hamzah ditransliterasikan dengan apostrof, tetapi ini hanya berlaku bagi hamzah yang terletak di tengah dan di akhir kata. Bila hamzah terletak di awal kata maka tidak dilambangkan karena dalam tulisan Arab berwujud alif. Contoh: أخذ akhaza, سأل sa’ala.
1.8.7 Penulisan Kata
Pada dasarnya setiap kata, baik fi’il, isim, dan harf ditulis terpisah. Hanya kata-kata tertentu yang penulisannya dengan huruf Arab sudah lazim dirangkaikan dengan kata lain karena ada huruf atau harakat yang dihilangkan maka dalam transliterasi ini penulisan kata tersebut dirangkaikan juga dengan kata lain yang mengikutinya. Contohوإن اللّه لهو خير الرازقين : Wa innallāha lahuwa khair al-rāziqin.
1.8.8 Huruf Kapital
Meskipun dalam sistem penulisan Arab tidak mengenal huruf kapital, tetapi dalam transliterasi ini huruf kapital ditulis sebagaimana peraturan yang ada dalam Ejaan yang Disempurnakan (EYD). Contoh: رسول وما محمد إلا Wa mā Muhammadun illā Rasul.
BAB II
FUNGSI-FUNGSI SINTAKSIS
DAN STRUKTUR KALIMAT BAHASA ARAB
Sebelum menguraikan tentang struktur kalimat pasif dalam bahasa Arab, terlebih dahulu penulis menguraikan batasan-batasan kalimat dalam bahasa Arab (Al-Jumlah atau al-kalam) dan fungsi-fungsi sintaksisnya.
2.1 Al-Jumlah
Dalam bahasa Arab istilah kalimat disebut Al-kalam atau Al-Jumlah. Al-Kalam atau Al-Jumlah adalah susunan dari dua kata atau lebih yang mempunyai makna lengkap (Hasan, tt: 15) Contoh:
أقبل الظيفُ ’Seorang tamu sudah tiba.’
Al-Jumlah dibagi menjadi dua; Jumlah Ismiyyah dan Jumlah fi`liyyah. Jumlah Ismiyyah adalah kalimat yang diawali dengan ism (Hāsimiy, tt:11). Contoh:
إنّ العدل قِوام الملك ‘Keadilan adalah tiangnya kerajaan.’
Adapun Jumlah fi`liyyah adalah kalimat yang dimulai dengan fi`l (Hāsimiy, tt :11). Contoh:
جاء الحقُ ‘Kebenaran telah datang’
Jumlah ismiyyah (kalimat nominal) tersusun dari mubtada’ + khabar. Adapun jumlah fi`liyyah (kalimat verbal) tersusun dari fi`l + fā`il + maf`ūl bih. Fi`l dalam jumlah fi`liyyah dan khabar dalam jumlah ismiyyah memduduki fungsi musnād (predikat). Adapun fā`il atau nā’ibul fā`il dalam jumlah fi`liyyah dan mubtada’ dalam jumlah ismiyyah menduduki fungsi musnād ilaih (subjek). Kedua unsur inilah (musnād dan musnād ilaih) yang menjadi unsur inti dalam sebuah kalimat dalam bahasa Arab. Kedua unsur inilah yang disebut sebagai fungsi sintaksis bahasa Arab.
2.2. Fungsi-Fungsi Sintaksis Bahasa Arab
Menurut Syihabuddin (2002: 42), fungsi sintaksis adalah tempat yang diduduki oleh sebuah kata dalam menjalankan fungsinya. Dalam istilah Cahyono (1995: 180), fungsi mengacu pada tugas dari unsur kalimat.
Menurut Gulāyaini (2002:604), jumlah merupakan susunan dari musnād dan musnād ilaih. Dalam jumlah fi`liyyah, fungsi musnād ilaih berupa fā`il atau nā’ibul fā`il, sedangkan musnād-nya berupa fi`l. Adapun dalam jumlah ismiyah, fungsi musnād ilaih dalam jumlah fi`liyah berupa mubtada’ sedangkan fungsi musnād berupa khabar.
2.3 Struktur-Struktur Kalimat Bahasa Arab
2.3.1 Struktur jumlah fi’liyyah
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa, musnād ilaih dalam jumlah fi`liyyah berupa fā`il atau nā’ibul fā`il sedangkan musnād-nya berupa fi`l. Berikut ini penulis uraikan satu persatu.
2.3.1.1 Fi`l
Menurut Hasyimi (tt: 17), fi`l adalah kata yang menunjukkan pada suatu kejadian yang berkaitan dengan kala (lampau, sedang, atau akan). Melihat definisi tersebut, istilah fi`l bisa disamakan dengan istilah ‘kata kerja’ dalam bahasa Indonesia. Peran fi`l sebagai musnād ilaih dalam jumlah fi`liyyah bisa diisi dengan berbagai macam fi`l (kata kerja). Berdasarkan kala, fi`l dibagi menjadi tiga macam; fi`l mādi (kata kerja lampau), fi`l mudāri` (kata kerja present atau future), fi`l ‘amr (kata kerja perintah). Contoh:
Fi`l Amr Fi`l Mudhari` Fi`l Mādi
قُلْ يقول قال
‘Berkatalah’ ‘Sedang berkata’ atau ‘Akan berkata’ ‘Telah berkata’
Berdasarkan kebutuhannya terhadap maf’ūl bih, fi`l dibagi menjadi dua macam, yaitu: fi`l muta`addi (kata kerja intransitif), dan fi`l lāzim (kata kerja transitif). Contoh:
Fi`l Muta`addi Fi`l Lāzim
أقراء القرءان أجري
Saya membaca Al-Quran Saya berlari
Berdasarkan fā`il-nya, fi`l dibagi menjadi dua macam; fi`l ma`lūm (kata kerja aktif), dan fi`l majhūl (kata kerja pasif). Contoh:
Fi`l Majhūl Fi`l Ma`lūm
قُرِء القرءانُ قرئت القرءانَ
Al-Quran itu sudah dibaca Saya membaca Al-Quran
2.3.1.2 Fā`il dan Nā’ibul Fā`il
Fā`il adalah ism yang di-i`rab rafa’, yang menunjukkan siapa yang melakukan fi`l atau pekerjaan yang menjadi musnād-nya. Adapun nā`ibul fā`il adalah pengganti fā`il apabila fi`l-nya berupa fi`l majhūl. Jadi nāibul fā`il adalah ism yang dibaca rafa’ yang didahului oleh fi`l majhūl (Hasyimi, tt;120). Contoh:
Nā’ibul Fā`il Fā`il
قُرِء القرءانُ قرأ الطالبُ القرءانَ
‘Al-Quran itu sudah dibaca’ ‘Mahasiswa itu sudah membaca Al-Quran’
Peran fā`il atau nā’ibul fā`il sebagai musnād dalam jumlah fi`liyyah bisa diisi oleh ism. Ism adalah kata yang menunjuk pada sesuatu yang dinamai atau suatu makna yang tidak berkaitan dengan kala. Ism dibagi menjadi tiga macam; muzhar (yaitu ism yang menunjuk pada maknanya tanpa membutuhkan qarinah, mudmar, dan mubham (Hasyimi, tt:16) Contoh:
Muzhar Mudmar Mubham
سعد أنا هذا
‘Saad’(nama orang) ‘Saya’ ‘Ini’
Peran fā`il atau nā’ibul fā`il sebagai, musnād dalam jumlah fi`liyyah bisa diisi ism mudmar (kata ganti) atau ism mudhar.
2.3.2 Struktur Jumlah Ismiyyah
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, bahwa, jumlah ismiyyah (kalimat nominal) tersusun dari mubtada’ sebagai musnād ilaih-nya dan khabar sebagai musnād-nya. Mubtada’ dan khabar merupakan dua ism yang membentuk suatu jumlah mufidah (kalimat lengkap). Mubtadā’ adalah musnād ilaih yang tidak didahului oleh suatu `āmil, sedangkan khabar adalah kata yang menerangkan mubtada’ (Gulāyaini , 2002:348-349)
Jadi, ada lima macam struktur dasar bahasa Arab:
Jumlah fi`liyyah dengan fi`l ma`lūm model I
Urutan 3 2 1
Fungsi Mukammil Musnād ilaih Musnād
Peran Mafūl bih Fā`il Fi’l
Kategori Ism Ism Fi’l ma’lūm muta`addiy
Contoh القرءانَ الطالبُ قرأَ
Arti perkata ‘Al-Quran’ ‘Mahasiswa’ ‘Talah membaca’
Arti kalimat ‘Mahasiswa itu telah membaca Al-Quran.’
Jumlah fi`liyyah dengan fi`l ma`lūm model II
Urutan 2 1
Fungsi Musnād ilaih Musnād
Peran Fā`il Fi’l
Kategori Ism Fi’l ma’lūm
Contoh الطالب يجري
Arti perkata ‘Mahasiswa’ ‘Sedang berlari’
Arti kalimat ‘Mahasiswa itu sedang berlari.’
Jumlah fi`liyyah dengan fi`l majhūl
Urutan 2 1
Fungsi Musnād ilaih Musnād
Peran Nāibul fā`il Fi’l
Kategori Ism Fi’l majhūl
Contoh القرءانُ قُرِء
Arti perkata ‘Al-Quran’ ‘Telah dibaca’
Arti kalimat ‘Al-Quran itu telah dibaca’
Jumlah ismiyyah mufrad
Urutan 2 1
Fungsi Musnād ilaih Musnād
Peran Khabar Mubtada’
Kategori Ism Ism
Contoh طالبٌ أنا
Arti perkata ‘Mahasiswa’ ‘Saya’
Arti kalimat ‘Saya adalah mahasiswa.’
Jumlah ismiyyah dengan khabar jumlah
Urutan 2 1
Fungsi Musnād ilaih Musnād
Peran Khabar jumlah Mubtada’
Maf`ul bih Fā`il Fi`l Mubtada’
Kategori Ism Ism Fi`l Ism
Contoh قرئتُه القرءان
هُ تُ قرأ القرءان
Arti perkata ‘Dia’ ‘Saya’ ‘Membaca’ ‘Al-Quran’
Arti kalimat ‘Al-Quran itu sudah saya baca.’
BAB III
KALIMAT PASIF DALAM BAHASA ARAB
Kalimat pasif dalam bahasa Arab tidak hanya bisa berbentuk kalimat verbal (jumlah fi`liyyah) tapi juga kalimat nominal (jumlah ismiyyah).
3.1 Kalimat Pasif dalam Bentuk Jumlah fi`liyyah
3.1.1 Kalimat Pasif dengan Fi`l Majhūl
Sebagaimana telah penulis sebutkan di dalam BAB I, fi`l majhūl adalah fi`l (kata kerja) yang fā`il (pelaku)-nya tidak disebut dalam kalimat, melainkan dibuang karena suatu alasan (Gulāyaini , 1992:105). Fi`l majhūl dibentuk dari fi`l ma’lum dengan mengubah beberapa harakat (vokal)-nya. Untuk membentuk fi`l mādi majhūl huruf sebelum terakhir harakatnya diganti kasrah, dan semua huruf yang hidup yang berada di depannya, harakat (vokal)-nya diganti dengan dammah (Gulāyaini , 1992:105). Contoh:
Fi`l Ma’lūm Fi`l Majhūl
ضرَبَ ضُرِبَ
‘memukul’ ‘dipukul’
Adapun untuk membentuk fi`l mudāri` majhūl maka harakat huruf yang pertama diganti dengan dammah dan harakat huruf sebelum akhir diganti dengan fathah (Gulāyaini , 1992:105). Contoh:
Fi`l Ma’lūm Fi`l Majhūl
يَضْرِبُ يُضْرَبُ
‘memukul’ ‘dipukul’
Fi`l majhūl hanya bisa dibentuk dari fi`l muta`addi, tidak bisa dibentuk dari fi`l lāzim (Gulāyaini , 1992:106). Fi`l muta`addi (kata kerja transitif) adalah fi`l yang membutuhkan maf`ūl bih (Gulāyaini , 1992:98). Adapun fi`l lāzim adalah fi`l yang tidak membutuhkan maf`ūl bih (Gulāyaini , 1992:102). Contoh:
Fi`l lazim Fi`l Muta`adiy
غابتْ رسالتي شهدتُ التلفاز
‘Suratku sudah hilang’ ‘Saya menyaksikan televisi’
Akan tetapi kadang ada juga fi`l majhūl yang dibentuk dari fi`l lazim. Hal ini diperbolehkan dengan syarat subjek gramatikalnya berupa mashdar atau daraf (Gulāyaini , 1992:106). Contoh: صيم رمضانَ ‘Bulan Ramadan telah dipuasai.’
Selanjutnya diperlu diperhatikan bahwa, fi`l majhūl merupakan fi`l yang fā`il-nya tidak disebut dalam kalimat. Dengan demikian berarti, kalimat pasif yang menggunakan fi`l majūl adalah kalimat pasif yang pelakunya tidak disebut. Oleh karena itu, kalimat قرئتُ القراء نَ ‘Saya telah membaca Al-Quran’ tidak bisa dipasifkan dengan menggunakan fi`l majhūl kecuali bila pelakunya dihilangkan. Apabila pelakunya tetap disebutkan, maka fi`il majhūl-nya harus diubah menjadi fi`l ma`lūm. Perubahan fi`l ini juga mengubah struktur kalimatnya. Inilah pola kalimat pasif yang akan penulis uraikan pada point 3.2.1
3.1.2 Kalimat Pasif dengan Fi`l Mutāwa`ah
Ada tiga pola fi`l yang berfungsi mutāwa`ahyaitu fi`l berpola افْتَعَلَ, انْفَعَل تَفَعلَ . Fi`l yang mengikuti pola افْتَعَل antara lain berfungsi sebagai mutāwa`ahdari fi`l yang berpola فعل (Ma’shum, tt, 22-23) Contoh:
جمعتُ الإ بلَ فاجْتمع
‘Saya mengumpulkan onta, maka terkumpullah onta tersebut.’
Fi`l yang mengikuti mengikuti polaانْفَعَل antara lain berfungsi sebagai mutāwa`ah dari fi`l yang berpola فعل dan juga mutāwa`ah dari fi`l yang berpola أفعل (tapi jarang) (Ma’shum,tt 24-25). Contoh:
كسرْتُ الزجاجَ فا نكسر
‘Saya memecah kaca maka terpecahlah kaca tersebut.
Fi`l yang mengikuti pola تَفَعلَ antara lain berfungsi sebagi mutāwa`ah dari fi`l yang berpola فعل (Ma’shum, tt: 20-21).Contoh:
كسّرْتُ الزجاجَ فتكسّر
‘Saya memecahkan pecah maka terpecahkanlah kaca tersebut.’
Fi`l mutāwa`ah juga bisa digunakan dalam kalimat pasif dalam bentuk jumlah ismiyyah. Lihat point 3.2.4
3.2 Kalimat Pasif dalam Bentuk Jumlah Ismiyyah
3.2.1 Kalimat Pasif dengan Fi`l Ma`lūm sebagai Khabar
Kalimat pasif dengan pola ini merupakan kalimat pasif yang dibentuk dengan pentopikan objek. Hal ini dilakukan dengan menjadikan jumlah fi`liyyah (yang tersusun atas fi`l maklum dan fā`il-nya) menjadi khabar. Adapun objek (maf`ūl bih)-nya dijadikan mubtada’.
Maf`ūl bih adalah isim yang menunjukkan terjadi atau tidak terjadinya perbuatan yang dilakukan oleh fā`il. (Gulāyaini , 2003: 412). Maf`ūl bih (objek langsung) hanya kita temui dalam jumlah fi`liyyah yang menggunakan fi`l ma`lūm yang muta`addi. Contoh:
قرئتُ القراء نَ
‘Saya telah membaca Al-Quran’.
Untuk memperjelas pola kalimat pasif di atas, berikutk penulis uraikan tentang struktur asal jumlah fi`liyyah. Menurut Gulāyaini (2003:413), dalam jumlah fi`liyyah, fā`il berjajar langsung dengan fi`l-nya setelah itu baru diikuti maf`ūl bih. Dengan struktur asal seperti itu, yang menjadi orientasi kalimat atau yang diterangkan (musnād ilaih) adalah fā`il bukan maf’ūl bih (objek). Hal ini berbeda dengan kalimat pasif. Dalam kalimat pasif, yang menjadi orientasi adalah maf’ūl bih. Jadi, untuk membentuk kalimat pasif dengan fi`l ma`lūm kita harus menjadikan maf`ūl bih-nya menjadi musnād ilaih yaitu dengan menempatkannya sebagai mubtada’. Adapun fi`il dan fā`il-nya dijadikan sebagai khabar jumlah.
Khabar jumlah adalah khabar yang berbentuk kalimat (jumlah) baik berupa jumlah fi`liyyah ataupun jumlah ismiyyah (Gulāyaini , 2002:355). Lihat contoh perubahan kalimat aktif menjadi pasif berikut ini:
Aktif قراءْتُ القرءانَ ‘Saya telah membaca Al-Quran
Pasif القرءان قرئْتُهُ ‘Al-Quran telah kubaca’
Pola kalimat pasif semacam ini juga bisa menggunakan fi`l majhūl. Lihat point 3.2.2
3.2.2 Kalimat Pasif dengan Fi`l Majhūl sebagai Khabar
Kalimat pasif model ini merupakan jumlah ismiyyah dengan khabar jumlah yang diisi dengan fi`l majhūl dan nā`ibul fā`il berupa damir mustatir yang merujuk ke mubtada’. Contoh:
(Hasanah, 1998:28) أوْرق الشاي تُبَذلُ بعد القطف
‘Daun-daun teh dialumkan setelah pemetikan’
3.2.3 Kalimat Pasif dengan Ism Maf`ūl sebagai khabar
Menurut Gulāyaini (1992:112) Ism maf`ūl adalah ism yang diambil dari fi`l (majhūl) yang menunjukkan terjadinya suatu perbuatan padanya. Contoh: مضروب ‘sesuatu yang dipukul’.
Ism maf`ūl dari fi`l śulāśiy mujarrad dibentuk dengan mengikuti pola مفعولٌ . contoh: مكتوبٌ ‘sesuatu yang ditulis’. Adapun Ism maf`ūl yang bukan dari fi`l śulāśiy mujarrad dibentuk berdasarkan lafal fi`l mudāri`-majhūl-nya. Huruf mudāri`-nya diganti Mim dan di-harakat dammah. Contoh:مستَغْفَرٌ ‘sesuatu yang diampuni’. Ada juga ism maf`ūl yang polanya sama dengan ism fā`il. Contoh: مختارٌ ‘yang memilih atau yang dipilih’(Gulāyaini , 2003:135).
3.2.4 Kalimat Pasif dengan Fi`l Mutāwa`ah sebagai Khabar
Kalimat pasif model ini meletakkan fā`il dari fi`l mutāwa`ah sebagai mutada’. Adapun fi`l mutāwa`ah-nya sendiri menjadi khabar jumlah. Contoh: الحبل انقطع ‘Tali itu terputus’.
BAB IV
PEMEBAHASAN KALIMAT PASIF
DALAM NOVEL IMRĀ’ATU `INDA NUQTATI AS-SIFR
Sebagaimana telah diuraikan pada bab III bahwa, kalimat pasif dalam bahasa Arab ada yang berbentuk kalimat verbal (jumlah fi`liyyah) dan ada juga yang berbentuk kalimat nominal (jumlah ismiyyah). Kalimat Pasif dalam bentuk Jumlah fi`liyyah dibagi menjadi dua macam, yaitu: Kalimat Pasif dengan f dan Kalimat Pasif dengan Fi`l Mutāwa`ah. Adapun Kalimat Pasif dalam Bentuk Jumlah Ismiyyah dibagi menjadi empat macam, yaitu: Kalimat Pasif dengan Fi`l Ma`lūm sebagai khabar, Kalimat Pasif dengan Fi`l Majhūl sebagai Khabar, Kalimat Pasif dengan Ism Maf`ūl sebagai khabar, Kalimat Pasif dengan Fi`l Mutāwa`ah sebagai Khabar
Dalam novel Imrā’atu `Inda Nuqtati As-Sifr penulis menemukan 36 kalimat pasif. Data tersebut dikelompok-kelompokkan berdasarkan struktur kalimatnya sesuai dengan 6 jenis kalimat pasif di atas. Tiap kelompok akan diambil tiga buah data sebagai sampel untuk dianalisis. Akan tetapi ada beberapa jenis kalimat pasif yang datannya hanya ada satu atau dua buah kalimat sehingga terpaksa data yang dianalisis hanya satu atau dua buah.
Sampel-sampel tersebut akan dianalisis dengan teknik Ubah Ujud. Teknik ini dilakukan dengan mengubah data menjadi kalimat aktif. Dengan begitu bisa dibuktikan bahwa, kalimat tersebut benar-benar berupa kalimat pasif. Setelah itu data akan dianalisis lebih kanjut dengan teknik Lesap. Dengan teknik ini bisa dilihat unsur-unsur inti penyusun kalimat pasif tersebut.
4.1 Kalimat Pasif dalam Bentuk Jumlah fi`liyyah
4.1.1 Kalimat Pasif dengan Fi`l Majhūl sebagai musnad
1. (السعدوي, 24:1989) أيُمكن أنْ يوْلدَ الانسانُ مرّتين
‘Mungkinkah manusia dilahirkan dua kali?’
2. (السعدوي, 88:1989) قدْ وُلدْتُ أنا
‘Aku sendiri benar-benar telah dilahirkan.’
3. (السعدوي, 29:1989) يُطْفَؤُ نوْر العنْبَر
‘Lampu gudang itu dipadamkan.’
Untuk membuktikan kepasifannya, tiga kalimat di atas diubah menjadi kalimat aktif. Hal ini dilakukan dengan mengubah fi`l majhūl-nya menjadi fi`l ma’lum. Perubahan fi`l ini berarti juga penghadiran pelaku. Oleh karena itu penulis menghadirkan noimna baru sebagai pelaku dalam kalimat (1a), (2a), dan (3a) yang merupakan bentuk aktif dari kalimat (1), (2), dan (3).
1a. أيُمكن أنْ تلدَ الأمُّ الإنسانَ مرّتين
‘Mungkinkah ibu melahirkan melahirkan dua kali?’
2a. قد ولدَتْني الأمُّ
‘Ibu benar-benar telah melahirkanku.’
3a. يُطْفِؤُ الحارسُ نورَ العنْبَرِ
‘Penjaga itu memadamkan lampu gudang.’
Selanjutnya data akan dianalisis dengan teknik Lesap untuk mengetahui unsur-unsur intinya. Sebagaimana disebutkan dalam bab II, unsur-unsur inti kalimat adalah musnād dan musnād ilaih. Hal ini menunjukkan bahwa, unsur-unsur selain musnād dan musnād ilaih bisa dilesapkan tanpa menghilangkan kegramatikalan kalimat.
1b Ø يوْلدَ الانسانُ Ø
‘Manusia dilahirkan.’
2b Ø وُلدْتُ Ø
‘Aku sendiri telah dilahirkan.’
Kalimat (1b) dan (2b) di atas adalah kalimat yang masih mempunyai unsur inti yang utuh walaupun konstituen أ ‘apakah’, يُمكن ‘mungkin’, أنْ , dan مرّتين ‘dua kali’ dalam kalimat (1) dan konstituen قدْ ‘benar-benar’ dan أنا ‘saya’ dalam kalimat (2) dilesapkan. Konstituen-konstituen tersebut itu tidak berfungsi sebagai musnād atau musnād ilaih. Berikut penulis uraikan satu persatu:
· Konstituen أ ‘apakah’ dalam kalimat (1) berfungsi sebagai kata tanya.
· Konstituen يُمكن ‘mungkin’ dalam kalimat (1) berfungsi sebagai kata kerja bantu yang memberi makna kemungkinan.
· Konstituen أنْ dalam kalimat (1) berfungsi sebagai amil yang bisa masuk ke dalam fi`l mudari`.Konstituen ini berfungsi untuk mengubah makna kata kerja menjadi kata benda. kata tanya.
· Konstituen مرّتين ‘dua kali’ dalam kalimat (1) berfungsi sebagai kata keterangan.
· Konstituen قدْ ’benar-benar’ dalam kalimat (2) berfungsi sebagai kata penguat atau taukid.
· Konstituen أنا ’saya’ dalam kalimat (2) merupakan kata yang ditambahkan. Sebenarnya dalam kalimat dua sudah ada damir تُ ‘saya’ yang berfungsi sebagai fā`il. Tambahan konstituen أنا dalam kalimat (2) berfungsi sebagi penguat atau taukid.
Kalimat-kalimat dibawah ini menunjukkan bahwa, keintian fā`il sebagai musnād, tidak kuat. Adapun keintian fi`l sebagai musnād ilaih kuat. Fi`l tidak bisa dilesapkan, sedangkan fā`il bisa dilesapkan. Hal ini karena dalam fi`l selalu tersimpan fā`il berupa damir.
1c-1c. أيُمكن أنْ Ø الانسانُ مرّتين*
‘Mungkinkah manusia dua kali?’
2c. *قدْ Ø أنا
‘Aku benar-benar.’
3b. *Ø نوْر العنْبَر
‘Lampu gudang itu.’
1d. أيُمكن أنْ يوْلدَ Ø مرّتين
‘Mungkinkah dia dilahirkan dua kali?’
2d. قدْ وُلدْتُØ
‘Aku benar-benar telah dilahirkan.’
3c. يُطْفَؤُ Ø
‘Dia dipadamkan.’
Dari analisis-analisis di atas bisa disimpulkan bahwa, kalimat pasif dengan fi`il majhūl mempunyai struktur inti sebagai berikut :
Urutan 2 1
Fungsi مسناد مسناد إليه
Peran نائب فاعل فعل
Kategori اسم الفعل المجهول
2.1.2 Kalimat Pasif dengan Fi`l Mutāwa`ah
Sebagaimana telah penulis uraikan dalam bab III bahwa, ada tiga pola fi`l mutāwa`ah, yaitu : انفعل, افتعل, dan تفعّل . Dalam novel ini penulis hanya menemukan kalimat pasif dengan fi`l mutāwa`ah yang berpola انفعل dan افتعل. Adapun yang berpola تفعّل tidak penulis temukan.
2.1.2.1 Kalimat pasif dengan fi`l yang berpola انفعل
4. (السعدوي, 35:1989) انْفرَجَتْ سفتاي
‘Kedua bibirku terbuka’
5. (السعدوي, 80:1989) انقطع صوتهُ
‘Suaranya terpotong’
6. (السعدوي, 83:1989) اندفع الدم الى رأسي
‘Darah itu terdorong ke kepalaku’
Untuk membuktikan kepasifannya, ketiga data di atas dianalisis dengan teknik Ubah Ujud menjadi kalimat aktif. Hal ini dilakukan dengan menghilangkan harf zāidah yang berfungsi memberi makna mutāwa`ah. Bentuk aktif dari kalimat (4), (5), dan (6) adalah kalimat (4a), (5a), dan (6a).
4.a فرجْتُ سفتي
‘Aku telah membuka kedua bibirku’
5.a قطع عليٌ صوتَه
‘Ali telah memotong suaranya’
6.a دفع الغضبُ الدم الى رأسي
‘Kemarahan itu telah mendorong darah ke kepalaku’
Selanjutnya, data dianalisis dengan teknik Lesap untuk mengetahui unsur-unsur intinya. Kalimat (4) dan (5) hanya terdiri dari dua konstituen inti, yatu musnād dan musnād ilaih. Sedangkan dalam kalimat (6), selain musnād dan musnād ilaih, juga ada konstituen lain yang berfungsi sebagai pelengkap yaitu : الى رأسي ‘ke kepalaku’. Konstituen ini dapat dilesapkan sebagaimana ditunjukkan oleh kalimat (6b).
6b. اندفع الدم Ø
‘Darah itu telah terdorong.’
Adapun musnād dan musnād ilaih dalam jumlah fi`liyyah merupakan unsur inti yang wajib hadir. Walaupun begitu, tingkat keintian fā`il sebagai musnād tidak sekuat keintian fi`l yang berfungsi sebagai musnād ilaih. Kalimat-kalimat di bawah ini menunjukkan bahwa, keintian fā`il sebagai musnād tidak kuat. Adapun keintian fi`l sebagai musnād ilaih kuat. Fā`il bisa dilesapkan tanpa menghilangkan kegramatikalan kalimat, sedangan fi`l tidak bisa dilesapkan. Hal ini karena dalam fi`l selalu tersimpan fā`il berupa dāmir.
4b. انْفرَجَتْ Ø
‘Dia telah terbuka’
5b. انقطع Ø
‘Dia sudah terpotong’
6c. اندفع Ø الى رأسي
‘Dia telah terdorong ke kepalaku.’
4c *Ø سفتاي
‘Kedua bibirku.’
5c *Ø صوتهُ
‘Suaranya.’
6d *Ø الدم الى رأسي
‘Darah itu ke kepalaku’
2.1.2 .2 Kalimat pasif dengan fi`l yang berpola افتعل
Dalam novel Imrā’atun `Inda Nuqtati As-Sifr, penulis hanya menemukan satu buah kalimat pasif yang menggunakan fi`l افتعل sebagai pengisi fungsi musnād ilaih.
7. (السعدوي, 60:1989) إنتقض جسدي فوق المقعد
‘Tubuhku terhempas di atas bangku’
Untuk membuktikan kepasifannya, data di atas dianalisis dengan teknik Ubah Ujud menjadi kalimat aktif. Hal ini dilakukan dengan menghilangkan harf zāidah yang berfungsi memberi makna mutāwa`ah. Perubahan ini juga harus diikuti dengan penghadiran pelaku. Oleh karena itu penulis pronominal sebagai pelaku dalam kalimat (7a) yang merupakan bentuk aktif dari kalimat (7).
7a أنقض جسدي فوق المقعد
‘Aku telah menghempaskan tubuhku di atas bangku.’
Selanjutnya data dianalisis dengan teknik Lesap untuk mengetahui unsur-unsur intinya. Konstituen فوق المقعد ‘di atas bangku’ dalam kalimat (7) bukan konstituen inti. Konstituen ini tidak berfungsi sebagai musnād atau musnād ilaih. Konstituen ini berfungsi sebagai kata keterangan yang menunjukkan tempat. Konstituen ini bisa dilesapkan tanpa menghilangkan kegramatikalan kalimat. Lihat kalimat (7b).
7b إنتقض جسدي Ø
‘Tubuhku telah terhempas.’
Seperti dalam kasus sebelumnya, fi`l, sebagai musnād ilaih dalam kalimat (7), juga mempunyai keintian yang kuat. fi`l tidak bisa dilesapkan. Lihat kalimat (7c). Adapun fā`il sebagai musnad dalam kalimat (7) tidak mempunyai keintian yang kuat. Fā`il bisa dilesapkan. Lihat kalimat (7d).
7c *Ø جسدي فوق المقعد
‘Tubuhku di atas bangku’
Secara struktur kalimat di atas masih gramatikal tapi mempunyai arti yang sangat berbeda dengan kalimat (7).
7d إنتقض Ø فوق المقعد
‘Dia terhempas di atas bangku.’
Dari analisis-analisis di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa, kalimat pasif dengan fi`l mutāwa`ah mempunyai struktur inti sebagai berikut:
Urutan 2 1
Fungsi مسناد مسناد إليه
Peran فاعل فعل
Kategori اسم فعل مطاوعة mutāwa`ah
3.2 Kalimat Pasif dalam Bentuk Jumlah Ismiyyah
3.2.1 Kalimat Pasif dengan Fi`l Ma`lūm sebagai Khabar
8. (السعدوي, 24:1989) هذا الفستان القصير والحذاءُ إشتراها لي عمّي
‘Gaun kecil dan sepatu ini dibeli oleh pamanku untukku.’
9. (السعدوي, 59:1989) البيوت تحوطها أسوارٌ
‘Rumah-rumah itu dikelilingi pagar.’
Untuk membuktikan kepasifannya, dua kalimat di atas diubah menjadi kalimat aktif. Hal ini dilakukan dengan mengubahnya menjadi jumlah fi`liyyah. Dengan demikian orientasi kalimat tersebut tidak lagi pada pasien melainkan pada pelaku. Bentuk aktif dari kalimat (8) dan (9) adalah kalimat (8a), (9a).
8.a إشترا لي عمّي هذا الفستانَ القصير والحذاءَ
‘Pamanku membelikanku gaun kecil dan sepatu ini.’
9.a تحوط أسوارٌ البيوتَ
‘Pagar-pagar itu mengelilingi rumah.’
Dalam jumlah ismiyyah, musnād ilaih diisi oleh mubtada’, sedangkan musnād-nya diisi oleh khabar. Dua fungsi itulah yang menjadi unsur inti jumlah ismiyyah. Kedua unsur tersebut wajib hadir, sedangkan unsur-unsur yang lain bisa dilesapkan.
Dalam kalimat (8), mubtada’ diisi oleh konstituen هذا الفستان القصير والحذاءُ, sedangkan khabar-nya berupa khabar jumlah. Khabar jumlah ini berbentuk jumlah fi`liyyah yang tersusun atas fi`l, fā`il, maf`ūl bih. Khabar jumlah tersebut diisi oleh konstituen إشتراها لي. Konstituen إشترى ‘telah membeli’ sebagai fi`l, عمّي ‘pamanku’ sebagai fā`il, dan ها ‘nya’ (kata ganti) sebagai maf`ūl bih. Sedangkan konstituenلي ‘untukku’ berfungsi sebagai pelengkap, sehingga bisa dilesapkan. Lihat kalimat (8b)
8b. هذا الفستان القصير والحذاءُ إشتراهاØ عمّي
‘Gaun kecil dan sepatu ini dibeli oleh pamanku.’
Kedua unsur (mubtada’ dan khabar ) sebagai musnād dan musnād ilaih mempunyai keintian yang kuat. Keduanya tidak bisa dilesapkan tanpa mempengaruhi makna kalimat. Kalimat-kalimat di bawah ini tidak gramatikal karena salah satu unsur intinya dilesapkan.
8c. Øإشتراها لي عمّي*
‘Paman membelinya untukku.’
9b. تحوطها أسوارٌ*
‘Pagar-pagar mengelilinginya’
8d. هذا الفستان القصير والحذاءُ*Ø
‘Gaun kecil dan sepatu ini.’
9d. البيوتØ *
‘Rumah-rumah itu.’
Kalimat (8c) dan (9b) bukanlah jumlah mufidah atau kalimat lengkap karena mubtada’-nya dilesapkan. Demikian juga dengan kalimat (8d) dan (9c). Kedua kalimat ini tidak lengkap dan tidak gramatikal karena khabar-nya dilesapkan.
Dari analisis di atas, terlihat bahwa, struktur kalimat pasif dengan menggunakan fi`l ma`lūm sebagai khabar adalah sebagai berikut:
Urutan 2 1
Fungsi مسناد إليه مسناد
Peran خبر جملة مبتداء
فاعل مفعول به فعل
Kategori اسم ضمير فعل معلوم اسم
2.2.2 Kalimat Pasif dengan Fi`l Majhūl sebagai Khabar
10. (السعدوي, 33:1989) النوافذُ أُغْلِقَتْ
‘Jendela-jendela itu telah ditutup.’
11. (السعدوي, 80:1989) الكلمة قد نُفِذتْ كالسهم إلى رأسي
‘Kata yang seperti belati itu ditusukkan ke kepalaku.’
12. (السعدوي, 85:1989) الواحدة منهنّ تُنْقِل إلى مكان آخر
‘Salah satu di antara mereka dipindahkan ke tempat yang lain.’
Untuk membuktikan kepasifannya, ketiga data diatas diubah menjadi kalimat aktif. Hal dilakukan dengan mengembalikan fi`l majhūl-nya ke bentuk ma`lūm. Perubahan fi`l ini menuntut penghadiran pelaku. Oleh karena itu penulis menghadirkan kata tambahan sebagai pelaku dalam kalimat (10a), (11a) dan (12a) yang merupakan bentuk aktif dari kalimat (10), (11), dan (12).
10a أغْلقَ الحارسُ النوافذ
‘Penjaga menutup jendela-jendela itu.’
11a نفذ الرجلُ الكلمة كالسهم إلى رأسي
‘Laki-laki itu menusukkan kata yang seperti belati itu ke kepalaku.’
12a ينقَل الرجلُ الواحدة منهنّ إلى مكان آخر
‘Lelaki itu memindah salah seorang di antara mereka ke tempat yang lain.’
Sebagaimana telah diuraikan pada point 2.2.2, bahwa, mubtada’ dan khabar merupakan unsur inti yang tidak bisa dilesapkan. Oleh karena itu kalimat-kalimat di bawah ini tidak gramatikal.
10b. Ø أُغْلِقَتْ*
‘telah ditutup.’
11b Ø قد نُفِذتْ كالسهم إلى رأسي*
‘Kata yang seperti belati itu ditusukkan ke kepalaku.’
12b Ø تُنْقِل إلى مكان آخر*
‘Dipindahkan ke tempat yang lain.’
10c النوافذُ *Ø
‘Jendela-jendela itu telah ditutup.’
11c. الكلمة Ø كالسهم إلى رأسي*
‘Kata yang seperti belati itu ditusukkan ke kepalaku.’
12c. *الواحدة منهنّ Ø إلى مكان آخر
‘Salah satu di antara mereka dipindahkan ke tempat yang lain.’
Kalimat (10b), (11b), dan (12b) tidak gramatikal karena konstituen النوافذُ, الكلمة , dan الواحدة منهنّ sebagai mubtada’-nya dilesapkan. Begitu juga dengan kalimat (10c), (11c), dan (12c). Ketiga kalimat tersebut tidka gramatikal karena konstituen أُغْلِقَتْ, قد نُفِذتْ, dan تُنْقِل sebagai khabar dilesapkan.
Kalimat (10) hanya terdiri atas dua konstituen inti, sedangkan kalimat (11) dan (12) selain mempunyai dua konstituen inti, juga mempunyai konstituen lain yang bukan inti. Konstituen ini bisa dilesapkan tanpa menghilangkan kegramatikalan kalimat. Dalam kalimat (11), konstituen قد merupakan `amil yang masuk ke fi`l mudāri`. ‘āmil ini berfungsi sebagai penguat (taukid). Adapun konstituen كالسهم ‘bagai belati’ dan إلى رأسي ‘ke kepalaku’berfungsi sebagai kata keterangan. Ketiga konstituen di atas bukan konstituen inti sehingga dapat dilesapkan seperti dalam kalimat (11d).
11. الكلمة Ø نُفِذتْ Ø
‘Kata itu telah ditusukkan..’
Konstituen إلى مكان آخر ‘ke tempat lain’ dalam kalimat (12) merupakan konstituen bukan inti. Oleh karena itu, konstituen ini dapat dilesapkan tanpa menghilangkan kegramatikalan kalimat, seperti terlihat dalam kalimat (12d) di bawah ini.
12d الواحدة منهنّ تُنْقِل Ø
‘Salah satu di antara mereka dipindahkan.’
Dari analisis-analisis di atas kita bisa menyimpulkan bahwa, kalimat pasif dengan fi`l majhūl sebagai khabar mempunyai struktur sebagai berikut:
Urutan 2 1
Fungsi مسناد إليه مسناد
Peran خبر جملة مبتداء
نائب الفاعل فعل
Kategori اسم فعل مجهول اسم
2.2.3 Kalimat Pasif dengan Ism Maf`ūl sebagai khabar
13. (السعدوي, 17:1989) شعري مصفّفٌ عند حلاقٍ
‘Rambutku dirawat di salon.’
14. (السعدوي, 70:1989) النوافذُ والأبوابُ مغلقة
‘Jendela-jendela dan pintu-pintu itu tertutup.’
15. (السعدوي, 80:1989) يدايّ مرفوعتين
‘Kedua tanganku terangkat.’
Untuk membuktikan kepasifannya, ketiga data di atas diubah menjadi kalimat aktif. Hal ini dilakukan dengan mengubah ism maf`ūl mejadi fi`l ma’lūm. Dengan demikian, orientasi kalimat tidak lagi pada pasien tapi pada pelaku. Perubahan ini harus diikuti dengan pengahdiran pelaku. Oleh karena itu, penulis mengahadirkan pronominal sebagai pelaku dalam kalimat kalimat (13a), (12a), dan (14a) di bawah ini yang merupakan bentuk aktif dari kalimat (13), (14), dan (15).
13.a صفّفتُ شعري عند حلاق
‘Kurawat rambutku di salon.’
14.a تغلق النوافذَ والأبوابَ
‘Kau menutup jendela-jendela dan pintu-pintu itu.’
15.a رفعْتُ يديّ
‘Aku mengangkat kedua tanganku.’
Selanjutnya, untuk mengetahui struktur inti dan keintian unsur-unsurnya, data dianalisis dengan teknik Lesap. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa, struktur inti jumlah ismiyyah adalah mubtada’ sebagai musnād dan khabar sebagai musnād ilaih. Dalam ketiga data di atas, fungsi mubtada’ diisi oleh konstiuen شعري ‘rambutku’ (13), النوافذُ والأبوابُ ‘Jendela-jendela dan pintu-pintu’ (14), dan يدايّ ‘kedua tanganku’ (15). Ketiga konstituen itu bila dilesapkan. Oleh karenanya, kalimat-kalimat di bawah ini tidak gramatikal karena konstituen yang berfungsi sebagai mubtada’ dilesapkan.
13b Ø مصفّفٌ عند حلاقٍ*
‘yang dirawat di salon.’
14b Ø مغلقة*
‘yang tertutup.’
15b Ø مرفوعتين*
‘yang terangkat.’
Demikian juga bila konstituen مصفّفٌ ‘yang dirias’ (13), مغلقة ‘yang ditutup’ (14) dan مرفوعتين ‘yang terangkat’ (15) yang berfungsi sebagai khabar tersebut dilesapkan, maka ketiga kalimat tersebut (13, 14, dan 15) menjadi tidak gramatikal sebagaimana dapat dilihat dalam kalimat (13c), (14c) dan (15c) di bawah ini.
13c شعري Øعند حلاقٍ*
‘Rambutku di salon.’
14c النوافذُ والأبوابُ *Ø**
‘Jendela-jendela dan pintu-pintu.’
15c. يدايّ *Ø
‘Kedua tanganku.’
Kalimat (14) dan (15) hanya tersusun atas dua konstituen inti, sedangkan kalimat (13) terdiri atas tiga konstituen; dua konsituen inti dan satu konstituen tidak inti. Konstituen tidak inti tersebut adalah عند حلاق ‘di salon’. Konstituen ini berfungsi sebagai kata keterangan tempat sehingga bisa dilesapkan tanpa menghilangkan kegramatikalan kalimat. Kalimat (13d) di bawah ini tetap gramatikal walaupun konstituen عند حلاقٍ dilesapkan.
13d شعري مصفّفٌ Ø
‘Rambutku dirawat.’
Selanjutnya bisa dilihat struktur kalimat pasif dengan ism maf`ūl sebagai khabar. Dari analisis-analisis di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa, struktur dasar kalimat pasif dengan ism maf`ūl sebagai khabar adalah sebagi berikut:
Urutan 2 1
Fungsi مسناد إليه مسناد
Peran خبر مبتداء
Kategori اسم المفعول اسم
2.2.4 Kalimat Pasif dengan Fi`l Mutāwa`ah sebagai Khabar
Sebagai mana telah penulis uraikan dalam bab III, bahwa, ada tiga pola fi`l mutāwa`ah, yaitu : انفعل, افتعل, dan تفعّل. Akan tetapi penulis hanya menemukan kalimat pasif dalam bentuk jumlah ismiyyah yang menggunakan fi`l mutāwa`ah yang berpolaانفعل .
16. (السعدوي, 18:1989) جلبابي انحسر عن فخذي
'Galabeyaku tersingkap dari pahaku.’
17. (السعدوي, 47:1989) عالم آخر ينفتح أمامي
‘Alam lain terbuka di depanku.’
18. (السعدوي, 85:1989) جسدي ينضغطُ بين الأجساد في الأتوبيس
‘Tubuhku terhimpit di antara tubuh-tubuh di bus.’
Untuk membuktikan kepasifannya, ketiga data diatas diubah menjadi kalimat aktif. Hal ini dilakukan dengan membuang harf zāidah yang berfungsi mutāwa`ah. Dengan demikian orientasi kalimat tidak lagi pada pasien, melainkan pada pelaku. Perubahan ini juga menuntut penghadiran pelaku. Oleh karena itu, penulis menghadirkan nomina tambahan sebagai pelaku dalam kalimat (16a), (17a) dan (18a) di bawah ini, yang merupakan bentuk aktif dari kalimat (16), (17), dan (18).
16.a عمّي حسر جلبابي عن فخذي
‘Pamanku menyingkap galabeyaku dari pahaku.’
17.a العلم فتح عالَماً آخر أمامي
‘Pengetahuan itu membuka alam lain di depanku.’
18.a الناس يضْغطون جسدي بين الأجساد في الأتوبيس
‘Orang-orang menghimpit tubuhku diantara tubuh-tubuh di bus.’
Selanjutnya untuk melihat struktur inti dan menguji keintian unsur-unsurnya, data dianalisis dengan teknik Lesap. Karena kaliamt ini berbentuk jumlah ismiyyah, maka unsur intinya adalah mubtada’ dan khabar.
Dalam kalimat (16), (17), dan (18) fungsi mubtada’ diisi oleh konstituen جلبابي ‘galabeyaku’, عالم آخر ‘Dunia lain’, dan جسدي ‘tubuhku’. Ketiga konsituen tersebut merupakan konstiuen inti yang wajib hadir. Bila konstituen-konstituen tersebut dilesapkan, maka kalimatnya menjadi tidak gramatikal. Lihat kalimat (16b), (17b), dan (18b) di bawah ini
16b. Ø انحسر عن فخذي*
'Tersingkap dari pahaku.’
17b Øينفتح أمامي *
‘Terbuka di depanku.’
18b Ø ينضغطُ بين الأجساد في الأتوبيس*
‘Terhimpit diantara tubuh-tubuh di bus.’
Demikian juga bila konstituen yang berfungsi sebagai khabar dilesapkan, maka kalimat menjadi tidak gramatikal. Lihat kalimat (16c), (17c), dan (18c) di bawah ini.
16c جلبابي Ø عن فخذي*
'Galabeyaku dari pahaku.’
17c عالم آخر Ø أمامي*
‘Alam lain di depanku.’
18c جسدي Ø بين الأجساد في الأتوبيس
‘Tubuhku diantara tubuh-tubuh di bus.’
Selain dua konstituen inti (mubtada’ dan khabar), ketiga data di atas juga mempunyai konstituen bukan inti. Dalam kalimat (16) terdapat konstituen عن فخذي ‘dari pahaku’ yang berfungsi sebagai kata keterangan tempat. Dalam kalimat (17) terdapat konstituen أمامي ‘di depanku’ yang berfungsi sebagai kata keterangan tempat. Demikian juga dengan kalimat (18). Kalimat ini mempunyai konstituen بين الأجساد ‘di antara tubu-tubuh’ dan في الأتوبيس ‘di dalam bus’. Kedua konstituen tersebut berfungsi sebagai kata keterangan tempat. Jadi, kalimat (16d), (17d), dan (18d) tetap gramatikal walau konstituen-konstituen tersebut dilesapkan.
16.d جلبابي انحسر Ø
'Galabeyaku tersingkap.’
17d عالم آخر ينفتح *Ø
‘Alam lain terbuka.’
18d جسدي ينضغط*Ø
‘Tubuhku terhimpit.’
Dari analisis-analisi di atas, dapat disimpulkan bahwa, struktur kalimat pasif dengan fi’`l mutāwa`ah sebagai khabar adalah sebagai berikut:
Urutan 2 1
Fungsi مسناد إليه مسناد
Peran خبر جملة مبتداء
الفاعل فعل
Kategori ضمير فعل مطاوعة اسم
BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis-analisis yang telah dilakukan pada Bab IV, maka dapat disimpulkan beberapa hal di bawah ini:
1. Dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr ada dua macam kalimat pasif yaitu berbentuk jumlah fi’liyyah dan berbentuk jumlah ismiyyah.
2. Kalimat pasif yang berbentuk jumlah fi`liyyah dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr ada dua pola, yaitu : Kalimat pasif dengan Fi`l Majhūl sebagai musnād dan kalimat pasif dengan Fi`l Mutāwa`ah.
3. Kalimat pasif yang berbentuk jumlah ismiyyah dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr ada empat pola, yaitu: Kalimat pasif dengan Fi`l Ma`lūm sebagai Khabar, kalimat pasif dengan Fi`l Majhūl sebagai Khabar, kalimat pasif dengan Ism Maf`ūl sebagai Khabar, dan kalimat pasif dengan Fi`l Mutāwa`ah sebagai Khabar.
4. Struktur dasar kalimat-kaliamt pasif tersebut adalah sebagai berikut:
Kalimat Pasif dengan Fi`l Majhūl sebagai Musnad Ilaih
Urutan 2 1
Fungsi مسناد مسناد إليه
Peran نائب فاعل فعل
Kategori اسم الفعل المجهول
Kalimat Pasif dengan Fi`l Mutāwa`ah sebagai Musād Ilaih
Urutan 2 1
Fungsi مسناد مسناد إليه
Peran فاعل فعل
Kategori اسم فعل مطاوعة mutāwa`ah
Kalimat Pasif dengan Fi`l Ma`lūm sebagai Khabar
Urutan 2 1
Fungsi مسناد إليه مسناد
Peran خبر جملة مبتداء
فاعل مفعول به فعل
Kategori اسم ضمير فعل معلوم اسم
Kalimat Pasif dengan Fi`l Majhūl sebagai Khabar
Urutan 2 1
Fungsi مسناد إليه مسناد
Peran خبر جملة مبتداء
نائب الفاعل فعل
Kategori اسم فعل مجهول اسم
s
Kalimat Pasif dengan Ism Maf`ūl sebagai Khabar,
Urutan 2 1
Fungsi مسناد إليه مسناد
Peran خبر مبتداء
Kategori اسم المفعول اسم
Kalimat Pasif dengan Fi`l Mutāwa`ah sebagai Khabar
Urutan 2 1
Fungsi مسناد إليه مسناد
Peran خبر جملة مبتداء
الفاعل فعل
Kategori ضمير فعل مطاوعة اسم
DAFTAR PUSTAKA
Al-Gulāyaini , Syekh Mustafa. 1916. Ad-Durusu Al-`Arabiyatu. Cetakan I. Beirut: Al-Mathba'atu Al-Ahliyah.
______. 2003. Jami`u Ad-Durusi Al-`Arabiyati. Cetakan ke-21. Beirut: Al-Mathba'atu Al-Ahliyatu.
Al-Hasyimi, Ahmad. tt. Al-Qawa`idu Al-Asaasiyyatu Lilughati Al-`Arabiyyati. Beirut: Dar Al-Kutubu Al-'Ilmiyyati.
Ali, Muhammad. 1922. A Dictionary of Theoritical Lingustics, English – Arabic. Lubnan: Librairie Du Liban
Al-Jarim, Ali Musthafa Amin. 1956. An-Nahwu Al-Wadhihu. Juz I. Mesir: Darul Ma'arif.
Cahyono, Bambang Yudi. 1995. Kristal-kristal Ilmu Bahasa. Surabaya: Airlangga University Press
Hasan, Abbas. Tt. An-Nahwu Al- Waviyyu. Almujallad Awwal. Kairo: Darul Ma`arif.
Hasanah, Uswatun. 1998. El-Muna, Kamus Indonesia-Arab. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik, cetakan III. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Ma`shūm, Muhammad. Tt. Al-`Amsilatu At-Tashrifiyyatu. Surabaya: Maktabat wa Mathbaat Salim Nabhan.
Mahdi dan Wahbih. Tt. Mu`jamu Al-istilāhatu Al-Arabiyyati Fi Al-Lugati Wal-Adab. Beirut: Maktabah Lubnan.
Munawwar, Ahmad Warson. 1984. Al-Munawir, Kamus Arab-Indonesia. Yogyakarta: Al-Munawwir.
Syamsuddin, Abu Abdillah. Tt. Terjemah Fathul Qarib. Kudus: Menara Kudus
Syihabuddin. 2002. Teori dan Praktik Penerjemahan Arab-Indonesia. Bandung: Departemen Pendidikan Nasional
Sudaryanto. 1992. Metode Lingusitik: Ke Arah Memahami Metode Lingustik, cetakan III. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
______1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa, Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Lingusistis. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.
Verhaar, J.W.M. 1996. Asas-asas Lingustik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Verhaar, J.W.M. 1984. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagai mahluk hidup manusia punya hubungan yang erat dengan bahasa. Dari waktu ke waktu bahasa senantiasa mengalami perkembangan. Demikian juga dengan ilmu bahasa. Adanya ilmu bahasa telah mempermudah manusia dalam mempelajari bahasa, bahkan bahasa asing sekalipun.
Fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Menurut Gulāyaini (2002:9) bahasa adalah lafal-lafal yang digunakan oleh suatu kaum untuk mengungkapkan maksud-maksud hati mereka. Salah satu unsur bahasa yang sering digunakan manusia untuk berkomunikasi adalah kalimat.
Ada berbagai jenis kalimat yang kita kenal. Antara lain: kalimat aktif dan kalimat pasif. Kalimat aktif adalah kalimat yang subjek gramatikal verbanya melakukan suatu kegiatan atau proses (Samsuri, 1981;12), contoh:
Saya menulis surat.
Adapun kalimat pasif adalah kalimat yang subjek gramatikal verbanya menderita atau dikenai verba itu (Samsuri, 1981;13), contoh:
Surat itu dibuang.
Surat itu ditulis dengan pensil.
Kalimat pasif dalam beberapa bahasa seperti Indonesia dan Inggris menggunakan kata kerja pasif sebagai predikatnya. Hal ini juga berlaku di dalam bahasa Arab. Perhatikan ketiga kalimat di bawah ini:
Indonesia: Ikan asin dimakan kucing
Inggris: I was hit by my parent
‘Aku dipukul oleh orang tuaku’
Arab: أفلا يعلم اِذا بُعثِر ما فى القبر (العاديات:9)
‘Apakah dia tidak bila kelak segala yang ada di dalam kubur dibangkitkan’
Jadi, kata kerja bisa dibagi menjadi dua macam; aktif dan pasif. Ketiga kata kerja dalam kalimat-kalimat di atas berbeda dengan kata kerja aktifnya (memakan, hit, bu`sira). Lihat tabel berikut ini.
Kata kerja aktif Kata kerja pasif
Memakan Dimakan
Hit ‘memukul’ Was hit ‘dipukul’
بَعْثَرَ بُعْثِرَ
Dalam A Dictionary of Theoritical Lingustics English-Arabic (Ali, 1922) dan Mu`jamu Al-istilāhati Al-`Arabiyyati Fi Al-Lugati Wal-Adab (Mahdi,tt) padanan kata kerja aktif (active verb) adalah fi`l ma`lūm, sedangkan kata kerja pasif (passive verb) padanannya adalah fi`l majhūl.
Fi`l ma´lūm adalah kata kerja yang fā`il-nya disebutkan dalam kalimat (Gulāyaini, 1912;104), sedangkan fi`l majhūl adalah kata kerja yang fā’il-nya tidak disebut dalam kalimat (dihilangkan) dengan tujuan tertentu (Gulāyaini , 1912:104). Kalimat aktif bisa dibentuk dengan menggunakan fi`l ma´lūm sebagai predikatnya sedangkan kalimat pasif bisa dibentuk dengan menggunakan fi`l majhūl. Contoh:
Kalimat aktif: قراءْتُ القرءانَ
‘Saya sudah membaca Al-Quran’
Kalimat pasif: قُرِاءَ القرءانُ
‘Al-Quran itu sudah dibaca’
Akan tetapi, kita bila diperhatikan kedua kalimat di atas secara lebih jeli, pelaku dalam kalimat aktif di atas (kata ganti orang pertama: تُ ‘Saya’) tidak muncul dalam kalimat pasifnya. Hal ini karena kalimat tersebut menggunakan fi`l majhūl sebagai predikatnya sehingga pelakunya harus dihilangkan (tidak disebut dalam kalimat).
Uraian di atas menunjukkan bahwa, fi`l majhūl hanya bisa digunakan untuk membentuk kalimat pasif yang tanpa pelaku. Jadi, kalimat pasif yang memunculkan pelakunya tidak bisa dibentuk dengan fi`l majhūl sebagai perdikatnya.
Bila kita ingin membentuk kalimat pasif tanpa menyembunyikan pelakunya maka kita harus menggunakan fi`l ma´lūm sehingga kalimat di atas menjadi:
القرءان قرئْتُهُ
‘Al-Quran itu sudah kubaca’
Dalam buku-buku Nahwu dan Sarf, penulis tidak menemukan pembahasan secara khusus dan menyeluruh tentang kalimat pasif. Penulis hanya menemukannya dalam bab-bab yang menerangkan tentang fi`l majhūl atau nā’ibul fā`il. Akan tetapi, dalam bab-bab tersebut tidak ada pembahasan tentang bentuk kalimat pasif yang pelakunya dimunculkan atau bentuk-bentuk kalimat pasif yang lain. Hal ini tidak berarti kalimat pasif dalam bahasa Arab selalu tidak menyebut pelakunya dalam kalmat.
Penulis menemukan berbagai bentuk kalimat pasif dalam berbagai teks berbahasa Arab. Tidak semua kalimat pasif dalam bahasa Arab menggunakan fi`l majhūl sebagai predikatnya. Ada beberapa bentuk kalimat pasif yang tidak menggunakan fi`l majhūl. Contoh:
-(Hasanah, 1998: 4) هذِه الطلبة قد وافقها العميد
‘Permintaan ini telah disetujui oleh dekan.’
- (Syamsuddin, tt: 3) المياه تنقسم على أربعة أقسام ٍ
‘Air terbagi menjadi empat jenis.’
- اذا مات ابن آدم انقطع عمله....(الحديث)
‘Apabila anak adam telah meninggal maka terputuslah amalnya.’
Kalimat-kalimat di atas menunjukkan bahwa, ada bentuk-bentuk kalimat pasif yang tidak menggunakan fi`l majhūl sebagai predikatnya. Hal ini menarik untuk diteliti lebih lanjut. Apakah kalimat pasif bisa dibentuk tanpa menggunakan fi`l majhūl. Untuk itu, penulis mencoba melihat bagaimana Nawāl As-Sa`dawiy mengungkapkan kalimat-kalimat pasif dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr. Dengan begitu, kita bisa melihat bentuk-bentuk kalimat pasif yang beraneka-ragam, setidaknya yang terdapat dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr. Pemilihan novel ini, sebagai objek penelitian, karena dalam novel ini ada banyak kalimat pasif. Penulis menemukan 55 buah kalimat pasif dan 36 frasa pasif.
1.2 Pokok Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bentuk dan struktur kalimat pasif yang terdapat dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr karya Nawāl As-Sa`dawiy.
1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan pokok masalah di atas, maka tujuan praktis penelitian ini adalah untuk mendiskripsikan dan menguraikan bentuk dan struktur kalimat pasif yang terdapat dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr. Adapun tujuan teoretisnya adalah untuk menambah wawasan dalam bidang lingustik Arab, khususnya kalimat pasif.
1.4 Landasan Teori
Untuk membahas kalimat pasif dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr ini digunakan pendekatan teori struktural. Strukturalisme dalam linguistik adalah pendekatan pada analisis bahasa yang memberi perhatian yang eksplisit kepada berbagai unsur bahasa sebagai unsur dan sistem (kridalaksana, 1983:47). Unsur-unsur yang dimaksud adalah fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik.
Dalam penelitian ini, penulis akan menganalisis bentuk dan struktur kalimat pasif. Oleh karena itu, penulis akan melihat melihat kalimat sebagai bangunan yang terdiri dari beberapa unsur. Unsur penyusun kalimat adalah kata. Menurut Verhar (1996:162), teori yang yang membahas hubungan antar kata dalam tuturan adalah tata bahasa atau sintaksis. Ada tiga cara untuk mengkaji kalimat atau klausa secara sintaksis yaitu analisis fungsi, analisis peran dan analisis kategori (Verhaar, 1996;162).
Dengan ketiga analisis ini: (1) Data diuji kepasifannya. Hal ini dilakukan dengan melihat apakah subjek gramatikalnya ke dikenai verba atau melakukan verba yang mengisi fungsi predikat. Bila subjek gramatikal tersebut dikenai verba maka kalimat tersebut adalah kalimat pasif. Demikian sebaliknya, apabila ternyata subjek gramatikal tersebut melakukan verba maka kalimat tersebut bukan kalimat pasif. (2) Penulis akan melihat struktur kalimat pasif dari sampel. Apakah berbentuk jumlah ismiyah ataukah jumlah fi`liyah. Kata kategori apa yang mengisi fungsi-fungsi sintaksisnya.
1.5 Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tiga tahapan strategis yaitu; tahap pengumpulan dan penyediaan data, analisis data dan penyajian data.
1.5.1 Tahap pengumpulan dan penyediaan data
Data, yang berupa kalimat-kalimat pasif, dikumpulkan dengan metode simak dan teknik catat. Penulis membaca novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr karya Nawāl As-Sa`dawiy lalu mencatat kalimat-kalimat pasif yang ditemukan ke dalam kartu data. Selanjutnya, data yang terkumpul tersebut dipilah berdasarkan struktur kalimatnya dengan memberi tanda-tanda pada kartu data.
Dari masing-masing kelompok data, secara acak, diambil tiga buah data yang dianggap bisa mewakili, untuk dijadikan sampel yang akan dianalisis.
1.5.2 Tahap analisis data
Proses analisis data dilakukan dengan metode agih. Metode agih adalah metode penelitian yang alat penentunya menggunakan unsur bahasa itu sendiri (Sudaryanto, 1993:15). Lebih lanjut Sudaryanto (1993) menyebutkan bahwa, metode agih mempunyai teknik dasar dan beberapa teknik lanjutan. Teknik dasarnya adalah teknik bagi unsur langsung (BUL), yaitu pembagian satuan lingual datanya menjadi beberapa bagian atau unsur.
Adapun teknik lanjutan dari metode agih ini setidaknya ada tujuh macam, yaitu; teknik Lesap, teknik Ganti, teknik Perluasan, teknik Sisip, teknik Balik, teknik Ubah Ujud, dan teknikUlang.
Dalam penelitian ini teknik lanjutan yang dipakai adalah teknik Ubah Ujud dan teknik Lesap. Teknik Ubah Ujud dilakukan dengan mengubah kalimat yang menjadi kalimat aktif. Bila kalimat tersebut tidak bisa diubah menjadi kalimat aktif maka perlu diragukan kepasifannya. Adapun teknik Lesap dilakukan dengan menghilangkan unsur-unsur penyusun kalimat, satu persatu dan secara bergantian. Teknik digunakan untuk mengetahui unsur inti penyusun kalimat pasif. Selain itu, teknik Lesap juga digunakan untuk menguji tingkat keintian unsur-unsur penyusun kalimat.
1.5.3 Tahap penyajian data
Dalam menyajikan hasil analisis, penulis menggunakan metode informal dan metode formal. Metode formal adalah dengan menggunakan bahasa secara biasa, sedangkan metode informal adalah dengan menggunakan lambang-lambang (Sudaryanto, 1993:145).
1.6 Tinjauan Pustaka
Sejauh pengamatan penulis, belum pernah ada penelitian ilmiyah yang membahas kalimat pasif dengan objek material novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr karya Nawāl As-Sa`dawiy, khususnya di fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Adapun penelitian lain yang hampir serupa adalah skripsi Darul Akhirah, mahasiswi Sastra Asia Barat, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, dengan judul Penggunaan Fi`l Majhūl Dalam Novel Salamatu Al-Qas: Analisis Struktural. Skripsi ini membahas penggunaan kata kerja pasif (fi`l majhūl) dalam novel Salamatu Al-Qas.
Adapun novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr sudah pernah dijadikan objek material penelitian bahasa dengan topik yang lain. Penelitian tersebut adalah skripsi Amin Ma’ruf dengan judul Penanda Negasi Verba dalam Novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr: Analisis Kategori dan Peran. Dalam skripsi ini Amin Ma’ruf meneliti macam-macam verba penanda negasi verba yang digunakan oleh Nawāl As-Sa`dawiy dalam novel tersebut.
1.7 Sistematika Penyajian
Hasil penelitian ini akan disajikan dalam lima bab; Bab I merupakan pendahuluan yang meliputi Latar Belakang, Pokok Masalah, Tujuan Penelitian, Tinjauan Pustaka, Landasan Teori, Metode Penelitian, Sistematika Penyajian, dan Pedoman Transliterasi Arab-Latin. Bab II berisi uraian tentang fungsi-fungsi sintaksis dan struktur kalimat dalam bahasa Arab. Bab III berisi tentang pola-pola kalimat pasif. Bab IV merupakan analisis data yaitu pemabahsan kalimat-kalimat pasif dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr. Bab V merupakan bab penutup. Bab ini berisi kesimpulan hasil analisis dan saran-saran.
1.8 Pedoman Transliterasi Arab-Latin
Dalam penyusunan skripsi ini, untuk penulisan kata-kata Arab yang dianggap perlu ditransliterasi, penulis menggunakan Pedoman Transliterasi Arab-Indonesia berdasarkan SKB Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, tertanggal 22 Januari 1988 No: 158/1987 dan 0543b/U/1987, sebagai berikut:
1.8.1 Konsonan
Huruf Arab Huruf Latin Keterangan
ا - tidak dilambangkan
ب B Be
ت T Te
ث S Es dengan titik di atasnya
ج J Je
ح H Ha dengan titik di bawahnya
خ Kh huruf ka dan ha
د D De
ذ Z Zet dengan titik di atasnya
ر R Er
ز Z Zet
س S Es
ش Sy Es dan ye
ص S Es dengan titik di bawahnya
ض D De dengan titik dibawahnya
ط T Te dengan titik di bawahnya
ظ Z Zet dengan titik di bawahnya
ع ‘ Koma terbalik
غ G Ge
ف F Ef
ق Q Qi
ك K Ka
ل L El
م M Em
ن N En
و W We
ه H Ha
ء ` apostrof, dipakai jika berada di tengah kalimat
ي Y Ye
1.8.2 Vokal
Vokal pendek Vokal panjang Diftong
… َ… : a َا… … : ā َي … : ai
…ُ ... : u ُو … … : ū َو … : au
…ِ … : i ي ِ… … : ī
1.8.3 Ta’ Marbutah
Transliterasi untuk Ta’ marbutah ada dua macam, yaitu: Ta’ marbutah yang hidup dan Ta’ marbutah yang mati. Ta’ marbutah yang hidup atau mendapat harakat fathah, kasrah, dan dammah trasliterasinya adalah /t/. Adapun Ta’ marbutah yang mati atau mendapat harakat sukun, transliterasinya adalah /h/. Jika pada kata yang terakhir dengan ta’ marbutah diikuti oleh kata yang terakhir menggunakan kata sandang al serta bacaan kedua kata itu terpisah maka ta’ marbutah itu ditransliterasikan dengan /h/. Contoh: المدينة المنورة ditransliterasikan al-Madinah-al-Munawwarah atau al-Madinatul-Munawwarah.
1.8.4 Syaddah ( Tasydid)
Syaddah atau tasydid dalam sistem penulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda syaddah atau tasydid, dalam transliterasi dilambangkan dengan huruf yang sama dengan huruf yang diberi tanda syaddah itu.
Contoh: رّبنا rabbanā.
1.8.5 Kata Sandang
Dalam sistem penulisan Arab kata sandang dilambangkan dengan ال , tetapi dalam transliterasi dibedakan menjadi dua, yaitu:
1.8.5.1 Kata sandang yang diikuti oleh huruf syamsiyah
Kata sandang yang diikuti oleh huruf syamsiyah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya, yaitu huruf /l/ diganti dengan huruf yang sama dengan huruf yang langsung mengikuti kata sandang itu. Contoh: الشمس asy-syamsu.
1.8.5.2 Kata sandang yang diikuti oleh huruf qamariyah
Kata sandang yang diikuti oleh huruf qamariyah ditransliterasikan sesuai dengan huruf aturan yang digariskan di depan dan sesuai pula dengan bunyinya. Contoh: القمر ditulis al-qamaru
1.8.6 Hamzah
Sebagaimana dinyatakan di depan bahwa, hamzah ditransliterasikan dengan apostrof, tetapi ini hanya berlaku bagi hamzah yang terletak di tengah dan di akhir kata. Bila hamzah terletak di awal kata maka tidak dilambangkan karena dalam tulisan Arab berwujud alif. Contoh: أخذ akhaza, سأل sa’ala.
1.8.7 Penulisan Kata
Pada dasarnya setiap kata, baik fi’il, isim, dan harf ditulis terpisah. Hanya kata-kata tertentu yang penulisannya dengan huruf Arab sudah lazim dirangkaikan dengan kata lain karena ada huruf atau harakat yang dihilangkan maka dalam transliterasi ini penulisan kata tersebut dirangkaikan juga dengan kata lain yang mengikutinya. Contohوإن اللّه لهو خير الرازقين : Wa innallāha lahuwa khair al-rāziqin.
1.8.8 Huruf Kapital
Meskipun dalam sistem penulisan Arab tidak mengenal huruf kapital, tetapi dalam transliterasi ini huruf kapital ditulis sebagaimana peraturan yang ada dalam Ejaan yang Disempurnakan (EYD). Contoh: رسول وما محمد إلا Wa mā Muhammadun illā Rasul.
BAB II
FUNGSI-FUNGSI SINTAKSIS
DAN STRUKTUR KALIMAT BAHASA ARAB
Sebelum menguraikan tentang struktur kalimat pasif dalam bahasa Arab, terlebih dahulu penulis menguraikan batasan-batasan kalimat dalam bahasa Arab (Al-Jumlah atau al-kalam) dan fungsi-fungsi sintaksisnya.
2.1 Al-Jumlah
Dalam bahasa Arab istilah kalimat disebut Al-kalam atau Al-Jumlah. Al-Kalam atau Al-Jumlah adalah susunan dari dua kata atau lebih yang mempunyai makna lengkap (Hasan, tt: 15) Contoh:
أقبل الظيفُ ’Seorang tamu sudah tiba.’
Al-Jumlah dibagi menjadi dua; Jumlah Ismiyyah dan Jumlah fi`liyyah. Jumlah Ismiyyah adalah kalimat yang diawali dengan ism (Hāsimiy, tt:11). Contoh:
إنّ العدل قِوام الملك ‘Keadilan adalah tiangnya kerajaan.’
Adapun Jumlah fi`liyyah adalah kalimat yang dimulai dengan fi`l (Hāsimiy, tt :11). Contoh:
جاء الحقُ ‘Kebenaran telah datang’
Jumlah ismiyyah (kalimat nominal) tersusun dari mubtada’ + khabar. Adapun jumlah fi`liyyah (kalimat verbal) tersusun dari fi`l + fā`il + maf`ūl bih. Fi`l dalam jumlah fi`liyyah dan khabar dalam jumlah ismiyyah memduduki fungsi musnād (predikat). Adapun fā`il atau nā’ibul fā`il dalam jumlah fi`liyyah dan mubtada’ dalam jumlah ismiyyah menduduki fungsi musnād ilaih (subjek). Kedua unsur inilah (musnād dan musnād ilaih) yang menjadi unsur inti dalam sebuah kalimat dalam bahasa Arab. Kedua unsur inilah yang disebut sebagai fungsi sintaksis bahasa Arab.
2.2. Fungsi-Fungsi Sintaksis Bahasa Arab
Menurut Syihabuddin (2002: 42), fungsi sintaksis adalah tempat yang diduduki oleh sebuah kata dalam menjalankan fungsinya. Dalam istilah Cahyono (1995: 180), fungsi mengacu pada tugas dari unsur kalimat.
Menurut Gulāyaini (2002:604), jumlah merupakan susunan dari musnād dan musnād ilaih. Dalam jumlah fi`liyyah, fungsi musnād ilaih berupa fā`il atau nā’ibul fā`il, sedangkan musnād-nya berupa fi`l. Adapun dalam jumlah ismiyah, fungsi musnād ilaih dalam jumlah fi`liyah berupa mubtada’ sedangkan fungsi musnād berupa khabar.
2.3 Struktur-Struktur Kalimat Bahasa Arab
2.3.1 Struktur jumlah fi’liyyah
Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa, musnād ilaih dalam jumlah fi`liyyah berupa fā`il atau nā’ibul fā`il sedangkan musnād-nya berupa fi`l. Berikut ini penulis uraikan satu persatu.
2.3.1.1 Fi`l
Menurut Hasyimi (tt: 17), fi`l adalah kata yang menunjukkan pada suatu kejadian yang berkaitan dengan kala (lampau, sedang, atau akan). Melihat definisi tersebut, istilah fi`l bisa disamakan dengan istilah ‘kata kerja’ dalam bahasa Indonesia. Peran fi`l sebagai musnād ilaih dalam jumlah fi`liyyah bisa diisi dengan berbagai macam fi`l (kata kerja). Berdasarkan kala, fi`l dibagi menjadi tiga macam; fi`l mādi (kata kerja lampau), fi`l mudāri` (kata kerja present atau future), fi`l ‘amr (kata kerja perintah). Contoh:
Fi`l Amr Fi`l Mudhari` Fi`l Mādi
قُلْ يقول قال
‘Berkatalah’ ‘Sedang berkata’ atau ‘Akan berkata’ ‘Telah berkata’
Berdasarkan kebutuhannya terhadap maf’ūl bih, fi`l dibagi menjadi dua macam, yaitu: fi`l muta`addi (kata kerja intransitif), dan fi`l lāzim (kata kerja transitif). Contoh:
Fi`l Muta`addi Fi`l Lāzim
أقراء القرءان أجري
Saya membaca Al-Quran Saya berlari
Berdasarkan fā`il-nya, fi`l dibagi menjadi dua macam; fi`l ma`lūm (kata kerja aktif), dan fi`l majhūl (kata kerja pasif). Contoh:
Fi`l Majhūl Fi`l Ma`lūm
قُرِء القرءانُ قرئت القرءانَ
Al-Quran itu sudah dibaca Saya membaca Al-Quran
2.3.1.2 Fā`il dan Nā’ibul Fā`il
Fā`il adalah ism yang di-i`rab rafa’, yang menunjukkan siapa yang melakukan fi`l atau pekerjaan yang menjadi musnād-nya. Adapun nā`ibul fā`il adalah pengganti fā`il apabila fi`l-nya berupa fi`l majhūl. Jadi nāibul fā`il adalah ism yang dibaca rafa’ yang didahului oleh fi`l majhūl (Hasyimi, tt;120). Contoh:
Nā’ibul Fā`il Fā`il
قُرِء القرءانُ قرأ الطالبُ القرءانَ
‘Al-Quran itu sudah dibaca’ ‘Mahasiswa itu sudah membaca Al-Quran’
Peran fā`il atau nā’ibul fā`il sebagai musnād dalam jumlah fi`liyyah bisa diisi oleh ism. Ism adalah kata yang menunjuk pada sesuatu yang dinamai atau suatu makna yang tidak berkaitan dengan kala. Ism dibagi menjadi tiga macam; muzhar (yaitu ism yang menunjuk pada maknanya tanpa membutuhkan qarinah, mudmar, dan mubham (Hasyimi, tt:16) Contoh:
Muzhar Mudmar Mubham
سعد أنا هذا
‘Saad’(nama orang) ‘Saya’ ‘Ini’
Peran fā`il atau nā’ibul fā`il sebagai, musnād dalam jumlah fi`liyyah bisa diisi ism mudmar (kata ganti) atau ism mudhar.
2.3.2 Struktur Jumlah Ismiyyah
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, bahwa, jumlah ismiyyah (kalimat nominal) tersusun dari mubtada’ sebagai musnād ilaih-nya dan khabar sebagai musnād-nya. Mubtada’ dan khabar merupakan dua ism yang membentuk suatu jumlah mufidah (kalimat lengkap). Mubtadā’ adalah musnād ilaih yang tidak didahului oleh suatu `āmil, sedangkan khabar adalah kata yang menerangkan mubtada’ (Gulāyaini , 2002:348-349)
Jadi, ada lima macam struktur dasar bahasa Arab:
Jumlah fi`liyyah dengan fi`l ma`lūm model I
Urutan 3 2 1
Fungsi Mukammil Musnād ilaih Musnād
Peran Mafūl bih Fā`il Fi’l
Kategori Ism Ism Fi’l ma’lūm muta`addiy
Contoh القرءانَ الطالبُ قرأَ
Arti perkata ‘Al-Quran’ ‘Mahasiswa’ ‘Talah membaca’
Arti kalimat ‘Mahasiswa itu telah membaca Al-Quran.’
Jumlah fi`liyyah dengan fi`l ma`lūm model II
Urutan 2 1
Fungsi Musnād ilaih Musnād
Peran Fā`il Fi’l
Kategori Ism Fi’l ma’lūm
Contoh الطالب يجري
Arti perkata ‘Mahasiswa’ ‘Sedang berlari’
Arti kalimat ‘Mahasiswa itu sedang berlari.’
Jumlah fi`liyyah dengan fi`l majhūl
Urutan 2 1
Fungsi Musnād ilaih Musnād
Peran Nāibul fā`il Fi’l
Kategori Ism Fi’l majhūl
Contoh القرءانُ قُرِء
Arti perkata ‘Al-Quran’ ‘Telah dibaca’
Arti kalimat ‘Al-Quran itu telah dibaca’
Jumlah ismiyyah mufrad
Urutan 2 1
Fungsi Musnād ilaih Musnād
Peran Khabar Mubtada’
Kategori Ism Ism
Contoh طالبٌ أنا
Arti perkata ‘Mahasiswa’ ‘Saya’
Arti kalimat ‘Saya adalah mahasiswa.’
Jumlah ismiyyah dengan khabar jumlah
Urutan 2 1
Fungsi Musnād ilaih Musnād
Peran Khabar jumlah Mubtada’
Maf`ul bih Fā`il Fi`l Mubtada’
Kategori Ism Ism Fi`l Ism
Contoh قرئتُه القرءان
هُ تُ قرأ القرءان
Arti perkata ‘Dia’ ‘Saya’ ‘Membaca’ ‘Al-Quran’
Arti kalimat ‘Al-Quran itu sudah saya baca.’
BAB III
KALIMAT PASIF DALAM BAHASA ARAB
Kalimat pasif dalam bahasa Arab tidak hanya bisa berbentuk kalimat verbal (jumlah fi`liyyah) tapi juga kalimat nominal (jumlah ismiyyah).
3.1 Kalimat Pasif dalam Bentuk Jumlah fi`liyyah
3.1.1 Kalimat Pasif dengan Fi`l Majhūl
Sebagaimana telah penulis sebutkan di dalam BAB I, fi`l majhūl adalah fi`l (kata kerja) yang fā`il (pelaku)-nya tidak disebut dalam kalimat, melainkan dibuang karena suatu alasan (Gulāyaini , 1992:105). Fi`l majhūl dibentuk dari fi`l ma’lum dengan mengubah beberapa harakat (vokal)-nya. Untuk membentuk fi`l mādi majhūl huruf sebelum terakhir harakatnya diganti kasrah, dan semua huruf yang hidup yang berada di depannya, harakat (vokal)-nya diganti dengan dammah (Gulāyaini , 1992:105). Contoh:
Fi`l Ma’lūm Fi`l Majhūl
ضرَبَ ضُرِبَ
‘memukul’ ‘dipukul’
Adapun untuk membentuk fi`l mudāri` majhūl maka harakat huruf yang pertama diganti dengan dammah dan harakat huruf sebelum akhir diganti dengan fathah (Gulāyaini , 1992:105). Contoh:
Fi`l Ma’lūm Fi`l Majhūl
يَضْرِبُ يُضْرَبُ
‘memukul’ ‘dipukul’
Fi`l majhūl hanya bisa dibentuk dari fi`l muta`addi, tidak bisa dibentuk dari fi`l lāzim (Gulāyaini , 1992:106). Fi`l muta`addi (kata kerja transitif) adalah fi`l yang membutuhkan maf`ūl bih (Gulāyaini , 1992:98). Adapun fi`l lāzim adalah fi`l yang tidak membutuhkan maf`ūl bih (Gulāyaini , 1992:102). Contoh:
Fi`l lazim Fi`l Muta`adiy
غابتْ رسالتي شهدتُ التلفاز
‘Suratku sudah hilang’ ‘Saya menyaksikan televisi’
Akan tetapi kadang ada juga fi`l majhūl yang dibentuk dari fi`l lazim. Hal ini diperbolehkan dengan syarat subjek gramatikalnya berupa mashdar atau daraf (Gulāyaini , 1992:106). Contoh: صيم رمضانَ ‘Bulan Ramadan telah dipuasai.’
Selanjutnya diperlu diperhatikan bahwa, fi`l majhūl merupakan fi`l yang fā`il-nya tidak disebut dalam kalimat. Dengan demikian berarti, kalimat pasif yang menggunakan fi`l majūl adalah kalimat pasif yang pelakunya tidak disebut. Oleh karena itu, kalimat قرئتُ القراء نَ ‘Saya telah membaca Al-Quran’ tidak bisa dipasifkan dengan menggunakan fi`l majhūl kecuali bila pelakunya dihilangkan. Apabila pelakunya tetap disebutkan, maka fi`il majhūl-nya harus diubah menjadi fi`l ma`lūm. Perubahan fi`l ini juga mengubah struktur kalimatnya. Inilah pola kalimat pasif yang akan penulis uraikan pada point 3.2.1
3.1.2 Kalimat Pasif dengan Fi`l Mutāwa`ah
Ada tiga pola fi`l yang berfungsi mutāwa`ahyaitu fi`l berpola افْتَعَلَ, انْفَعَل تَفَعلَ . Fi`l yang mengikuti pola افْتَعَل antara lain berfungsi sebagai mutāwa`ahdari fi`l yang berpola فعل (Ma’shum, tt, 22-23) Contoh:
جمعتُ الإ بلَ فاجْتمع
‘Saya mengumpulkan onta, maka terkumpullah onta tersebut.’
Fi`l yang mengikuti mengikuti polaانْفَعَل antara lain berfungsi sebagai mutāwa`ah dari fi`l yang berpola فعل dan juga mutāwa`ah dari fi`l yang berpola أفعل (tapi jarang) (Ma’shum,tt 24-25). Contoh:
كسرْتُ الزجاجَ فا نكسر
‘Saya memecah kaca maka terpecahlah kaca tersebut.
Fi`l yang mengikuti pola تَفَعلَ antara lain berfungsi sebagi mutāwa`ah dari fi`l yang berpola فعل (Ma’shum, tt: 20-21).Contoh:
كسّرْتُ الزجاجَ فتكسّر
‘Saya memecahkan pecah maka terpecahkanlah kaca tersebut.’
Fi`l mutāwa`ah juga bisa digunakan dalam kalimat pasif dalam bentuk jumlah ismiyyah. Lihat point 3.2.4
3.2 Kalimat Pasif dalam Bentuk Jumlah Ismiyyah
3.2.1 Kalimat Pasif dengan Fi`l Ma`lūm sebagai Khabar
Kalimat pasif dengan pola ini merupakan kalimat pasif yang dibentuk dengan pentopikan objek. Hal ini dilakukan dengan menjadikan jumlah fi`liyyah (yang tersusun atas fi`l maklum dan fā`il-nya) menjadi khabar. Adapun objek (maf`ūl bih)-nya dijadikan mubtada’.
Maf`ūl bih adalah isim yang menunjukkan terjadi atau tidak terjadinya perbuatan yang dilakukan oleh fā`il. (Gulāyaini , 2003: 412). Maf`ūl bih (objek langsung) hanya kita temui dalam jumlah fi`liyyah yang menggunakan fi`l ma`lūm yang muta`addi. Contoh:
قرئتُ القراء نَ
‘Saya telah membaca Al-Quran’.
Untuk memperjelas pola kalimat pasif di atas, berikutk penulis uraikan tentang struktur asal jumlah fi`liyyah. Menurut Gulāyaini (2003:413), dalam jumlah fi`liyyah, fā`il berjajar langsung dengan fi`l-nya setelah itu baru diikuti maf`ūl bih. Dengan struktur asal seperti itu, yang menjadi orientasi kalimat atau yang diterangkan (musnād ilaih) adalah fā`il bukan maf’ūl bih (objek). Hal ini berbeda dengan kalimat pasif. Dalam kalimat pasif, yang menjadi orientasi adalah maf’ūl bih. Jadi, untuk membentuk kalimat pasif dengan fi`l ma`lūm kita harus menjadikan maf`ūl bih-nya menjadi musnād ilaih yaitu dengan menempatkannya sebagai mubtada’. Adapun fi`il dan fā`il-nya dijadikan sebagai khabar jumlah.
Khabar jumlah adalah khabar yang berbentuk kalimat (jumlah) baik berupa jumlah fi`liyyah ataupun jumlah ismiyyah (Gulāyaini , 2002:355). Lihat contoh perubahan kalimat aktif menjadi pasif berikut ini:
Aktif قراءْتُ القرءانَ ‘Saya telah membaca Al-Quran
Pasif القرءان قرئْتُهُ ‘Al-Quran telah kubaca’
Pola kalimat pasif semacam ini juga bisa menggunakan fi`l majhūl. Lihat point 3.2.2
3.2.2 Kalimat Pasif dengan Fi`l Majhūl sebagai Khabar
Kalimat pasif model ini merupakan jumlah ismiyyah dengan khabar jumlah yang diisi dengan fi`l majhūl dan nā`ibul fā`il berupa damir mustatir yang merujuk ke mubtada’. Contoh:
(Hasanah, 1998:28) أوْرق الشاي تُبَذلُ بعد القطف
‘Daun-daun teh dialumkan setelah pemetikan’
3.2.3 Kalimat Pasif dengan Ism Maf`ūl sebagai khabar
Menurut Gulāyaini (1992:112) Ism maf`ūl adalah ism yang diambil dari fi`l (majhūl) yang menunjukkan terjadinya suatu perbuatan padanya. Contoh: مضروب ‘sesuatu yang dipukul’.
Ism maf`ūl dari fi`l śulāśiy mujarrad dibentuk dengan mengikuti pola مفعولٌ . contoh: مكتوبٌ ‘sesuatu yang ditulis’. Adapun Ism maf`ūl yang bukan dari fi`l śulāśiy mujarrad dibentuk berdasarkan lafal fi`l mudāri`-majhūl-nya. Huruf mudāri`-nya diganti Mim dan di-harakat dammah. Contoh:مستَغْفَرٌ ‘sesuatu yang diampuni’. Ada juga ism maf`ūl yang polanya sama dengan ism fā`il. Contoh: مختارٌ ‘yang memilih atau yang dipilih’(Gulāyaini , 2003:135).
3.2.4 Kalimat Pasif dengan Fi`l Mutāwa`ah sebagai Khabar
Kalimat pasif model ini meletakkan fā`il dari fi`l mutāwa`ah sebagai mutada’. Adapun fi`l mutāwa`ah-nya sendiri menjadi khabar jumlah. Contoh: الحبل انقطع ‘Tali itu terputus’.
BAB IV
PEMEBAHASAN KALIMAT PASIF
DALAM NOVEL IMRĀ’ATU `INDA NUQTATI AS-SIFR
Sebagaimana telah diuraikan pada bab III bahwa, kalimat pasif dalam bahasa Arab ada yang berbentuk kalimat verbal (jumlah fi`liyyah) dan ada juga yang berbentuk kalimat nominal (jumlah ismiyyah). Kalimat Pasif dalam bentuk Jumlah fi`liyyah dibagi menjadi dua macam, yaitu: Kalimat Pasif dengan f dan Kalimat Pasif dengan Fi`l Mutāwa`ah. Adapun Kalimat Pasif dalam Bentuk Jumlah Ismiyyah dibagi menjadi empat macam, yaitu: Kalimat Pasif dengan Fi`l Ma`lūm sebagai khabar, Kalimat Pasif dengan Fi`l Majhūl sebagai Khabar, Kalimat Pasif dengan Ism Maf`ūl sebagai khabar, Kalimat Pasif dengan Fi`l Mutāwa`ah sebagai Khabar
Dalam novel Imrā’atu `Inda Nuqtati As-Sifr penulis menemukan 36 kalimat pasif. Data tersebut dikelompok-kelompokkan berdasarkan struktur kalimatnya sesuai dengan 6 jenis kalimat pasif di atas. Tiap kelompok akan diambil tiga buah data sebagai sampel untuk dianalisis. Akan tetapi ada beberapa jenis kalimat pasif yang datannya hanya ada satu atau dua buah kalimat sehingga terpaksa data yang dianalisis hanya satu atau dua buah.
Sampel-sampel tersebut akan dianalisis dengan teknik Ubah Ujud. Teknik ini dilakukan dengan mengubah data menjadi kalimat aktif. Dengan begitu bisa dibuktikan bahwa, kalimat tersebut benar-benar berupa kalimat pasif. Setelah itu data akan dianalisis lebih kanjut dengan teknik Lesap. Dengan teknik ini bisa dilihat unsur-unsur inti penyusun kalimat pasif tersebut.
4.1 Kalimat Pasif dalam Bentuk Jumlah fi`liyyah
4.1.1 Kalimat Pasif dengan Fi`l Majhūl sebagai musnad
1. (السعدوي, 24:1989) أيُمكن أنْ يوْلدَ الانسانُ مرّتين
‘Mungkinkah manusia dilahirkan dua kali?’
2. (السعدوي, 88:1989) قدْ وُلدْتُ أنا
‘Aku sendiri benar-benar telah dilahirkan.’
3. (السعدوي, 29:1989) يُطْفَؤُ نوْر العنْبَر
‘Lampu gudang itu dipadamkan.’
Untuk membuktikan kepasifannya, tiga kalimat di atas diubah menjadi kalimat aktif. Hal ini dilakukan dengan mengubah fi`l majhūl-nya menjadi fi`l ma’lum. Perubahan fi`l ini berarti juga penghadiran pelaku. Oleh karena itu penulis menghadirkan noimna baru sebagai pelaku dalam kalimat (1a), (2a), dan (3a) yang merupakan bentuk aktif dari kalimat (1), (2), dan (3).
1a. أيُمكن أنْ تلدَ الأمُّ الإنسانَ مرّتين
‘Mungkinkah ibu melahirkan melahirkan dua kali?’
2a. قد ولدَتْني الأمُّ
‘Ibu benar-benar telah melahirkanku.’
3a. يُطْفِؤُ الحارسُ نورَ العنْبَرِ
‘Penjaga itu memadamkan lampu gudang.’
Selanjutnya data akan dianalisis dengan teknik Lesap untuk mengetahui unsur-unsur intinya. Sebagaimana disebutkan dalam bab II, unsur-unsur inti kalimat adalah musnād dan musnād ilaih. Hal ini menunjukkan bahwa, unsur-unsur selain musnād dan musnād ilaih bisa dilesapkan tanpa menghilangkan kegramatikalan kalimat.
1b Ø يوْلدَ الانسانُ Ø
‘Manusia dilahirkan.’
2b Ø وُلدْتُ Ø
‘Aku sendiri telah dilahirkan.’
Kalimat (1b) dan (2b) di atas adalah kalimat yang masih mempunyai unsur inti yang utuh walaupun konstituen أ ‘apakah’, يُمكن ‘mungkin’, أنْ , dan مرّتين ‘dua kali’ dalam kalimat (1) dan konstituen قدْ ‘benar-benar’ dan أنا ‘saya’ dalam kalimat (2) dilesapkan. Konstituen-konstituen tersebut itu tidak berfungsi sebagai musnād atau musnād ilaih. Berikut penulis uraikan satu persatu:
· Konstituen أ ‘apakah’ dalam kalimat (1) berfungsi sebagai kata tanya.
· Konstituen يُمكن ‘mungkin’ dalam kalimat (1) berfungsi sebagai kata kerja bantu yang memberi makna kemungkinan.
· Konstituen أنْ dalam kalimat (1) berfungsi sebagai amil yang bisa masuk ke dalam fi`l mudari`.Konstituen ini berfungsi untuk mengubah makna kata kerja menjadi kata benda. kata tanya.
· Konstituen مرّتين ‘dua kali’ dalam kalimat (1) berfungsi sebagai kata keterangan.
· Konstituen قدْ ’benar-benar’ dalam kalimat (2) berfungsi sebagai kata penguat atau taukid.
· Konstituen أنا ’saya’ dalam kalimat (2) merupakan kata yang ditambahkan. Sebenarnya dalam kalimat dua sudah ada damir تُ ‘saya’ yang berfungsi sebagai fā`il. Tambahan konstituen أنا dalam kalimat (2) berfungsi sebagi penguat atau taukid.
Kalimat-kalimat dibawah ini menunjukkan bahwa, keintian fā`il sebagai musnād, tidak kuat. Adapun keintian fi`l sebagai musnād ilaih kuat. Fi`l tidak bisa dilesapkan, sedangkan fā`il bisa dilesapkan. Hal ini karena dalam fi`l selalu tersimpan fā`il berupa damir.
1c-1c. أيُمكن أنْ Ø الانسانُ مرّتين*
‘Mungkinkah manusia dua kali?’
2c. *قدْ Ø أنا
‘Aku benar-benar.’
3b. *Ø نوْر العنْبَر
‘Lampu gudang itu.’
1d. أيُمكن أنْ يوْلدَ Ø مرّتين
‘Mungkinkah dia dilahirkan dua kali?’
2d. قدْ وُلدْتُØ
‘Aku benar-benar telah dilahirkan.’
3c. يُطْفَؤُ Ø
‘Dia dipadamkan.’
Dari analisis-analisis di atas bisa disimpulkan bahwa, kalimat pasif dengan fi`il majhūl mempunyai struktur inti sebagai berikut :
Urutan 2 1
Fungsi مسناد مسناد إليه
Peran نائب فاعل فعل
Kategori اسم الفعل المجهول
2.1.2 Kalimat Pasif dengan Fi`l Mutāwa`ah
Sebagaimana telah penulis uraikan dalam bab III bahwa, ada tiga pola fi`l mutāwa`ah, yaitu : انفعل, افتعل, dan تفعّل . Dalam novel ini penulis hanya menemukan kalimat pasif dengan fi`l mutāwa`ah yang berpola انفعل dan افتعل. Adapun yang berpola تفعّل tidak penulis temukan.
2.1.2.1 Kalimat pasif dengan fi`l yang berpola انفعل
4. (السعدوي, 35:1989) انْفرَجَتْ سفتاي
‘Kedua bibirku terbuka’
5. (السعدوي, 80:1989) انقطع صوتهُ
‘Suaranya terpotong’
6. (السعدوي, 83:1989) اندفع الدم الى رأسي
‘Darah itu terdorong ke kepalaku’
Untuk membuktikan kepasifannya, ketiga data di atas dianalisis dengan teknik Ubah Ujud menjadi kalimat aktif. Hal ini dilakukan dengan menghilangkan harf zāidah yang berfungsi memberi makna mutāwa`ah. Bentuk aktif dari kalimat (4), (5), dan (6) adalah kalimat (4a), (5a), dan (6a).
4.a فرجْتُ سفتي
‘Aku telah membuka kedua bibirku’
5.a قطع عليٌ صوتَه
‘Ali telah memotong suaranya’
6.a دفع الغضبُ الدم الى رأسي
‘Kemarahan itu telah mendorong darah ke kepalaku’
Selanjutnya, data dianalisis dengan teknik Lesap untuk mengetahui unsur-unsur intinya. Kalimat (4) dan (5) hanya terdiri dari dua konstituen inti, yatu musnād dan musnād ilaih. Sedangkan dalam kalimat (6), selain musnād dan musnād ilaih, juga ada konstituen lain yang berfungsi sebagai pelengkap yaitu : الى رأسي ‘ke kepalaku’. Konstituen ini dapat dilesapkan sebagaimana ditunjukkan oleh kalimat (6b).
6b. اندفع الدم Ø
‘Darah itu telah terdorong.’
Adapun musnād dan musnād ilaih dalam jumlah fi`liyyah merupakan unsur inti yang wajib hadir. Walaupun begitu, tingkat keintian fā`il sebagai musnād tidak sekuat keintian fi`l yang berfungsi sebagai musnād ilaih. Kalimat-kalimat di bawah ini menunjukkan bahwa, keintian fā`il sebagai musnād tidak kuat. Adapun keintian fi`l sebagai musnād ilaih kuat. Fā`il bisa dilesapkan tanpa menghilangkan kegramatikalan kalimat, sedangan fi`l tidak bisa dilesapkan. Hal ini karena dalam fi`l selalu tersimpan fā`il berupa dāmir.
4b. انْفرَجَتْ Ø
‘Dia telah terbuka’
5b. انقطع Ø
‘Dia sudah terpotong’
6c. اندفع Ø الى رأسي
‘Dia telah terdorong ke kepalaku.’
4c *Ø سفتاي
‘Kedua bibirku.’
5c *Ø صوتهُ
‘Suaranya.’
6d *Ø الدم الى رأسي
‘Darah itu ke kepalaku’
2.1.2 .2 Kalimat pasif dengan fi`l yang berpola افتعل
Dalam novel Imrā’atun `Inda Nuqtati As-Sifr, penulis hanya menemukan satu buah kalimat pasif yang menggunakan fi`l افتعل sebagai pengisi fungsi musnād ilaih.
7. (السعدوي, 60:1989) إنتقض جسدي فوق المقعد
‘Tubuhku terhempas di atas bangku’
Untuk membuktikan kepasifannya, data di atas dianalisis dengan teknik Ubah Ujud menjadi kalimat aktif. Hal ini dilakukan dengan menghilangkan harf zāidah yang berfungsi memberi makna mutāwa`ah. Perubahan ini juga harus diikuti dengan penghadiran pelaku. Oleh karena itu penulis pronominal sebagai pelaku dalam kalimat (7a) yang merupakan bentuk aktif dari kalimat (7).
7a أنقض جسدي فوق المقعد
‘Aku telah menghempaskan tubuhku di atas bangku.’
Selanjutnya data dianalisis dengan teknik Lesap untuk mengetahui unsur-unsur intinya. Konstituen فوق المقعد ‘di atas bangku’ dalam kalimat (7) bukan konstituen inti. Konstituen ini tidak berfungsi sebagai musnād atau musnād ilaih. Konstituen ini berfungsi sebagai kata keterangan yang menunjukkan tempat. Konstituen ini bisa dilesapkan tanpa menghilangkan kegramatikalan kalimat. Lihat kalimat (7b).
7b إنتقض جسدي Ø
‘Tubuhku telah terhempas.’
Seperti dalam kasus sebelumnya, fi`l, sebagai musnād ilaih dalam kalimat (7), juga mempunyai keintian yang kuat. fi`l tidak bisa dilesapkan. Lihat kalimat (7c). Adapun fā`il sebagai musnad dalam kalimat (7) tidak mempunyai keintian yang kuat. Fā`il bisa dilesapkan. Lihat kalimat (7d).
7c *Ø جسدي فوق المقعد
‘Tubuhku di atas bangku’
Secara struktur kalimat di atas masih gramatikal tapi mempunyai arti yang sangat berbeda dengan kalimat (7).
7d إنتقض Ø فوق المقعد
‘Dia terhempas di atas bangku.’
Dari analisis-analisis di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa, kalimat pasif dengan fi`l mutāwa`ah mempunyai struktur inti sebagai berikut:
Urutan 2 1
Fungsi مسناد مسناد إليه
Peran فاعل فعل
Kategori اسم فعل مطاوعة mutāwa`ah
3.2 Kalimat Pasif dalam Bentuk Jumlah Ismiyyah
3.2.1 Kalimat Pasif dengan Fi`l Ma`lūm sebagai Khabar
8. (السعدوي, 24:1989) هذا الفستان القصير والحذاءُ إشتراها لي عمّي
‘Gaun kecil dan sepatu ini dibeli oleh pamanku untukku.’
9. (السعدوي, 59:1989) البيوت تحوطها أسوارٌ
‘Rumah-rumah itu dikelilingi pagar.’
Untuk membuktikan kepasifannya, dua kalimat di atas diubah menjadi kalimat aktif. Hal ini dilakukan dengan mengubahnya menjadi jumlah fi`liyyah. Dengan demikian orientasi kalimat tersebut tidak lagi pada pasien melainkan pada pelaku. Bentuk aktif dari kalimat (8) dan (9) adalah kalimat (8a), (9a).
8.a إشترا لي عمّي هذا الفستانَ القصير والحذاءَ
‘Pamanku membelikanku gaun kecil dan sepatu ini.’
9.a تحوط أسوارٌ البيوتَ
‘Pagar-pagar itu mengelilingi rumah.’
Dalam jumlah ismiyyah, musnād ilaih diisi oleh mubtada’, sedangkan musnād-nya diisi oleh khabar. Dua fungsi itulah yang menjadi unsur inti jumlah ismiyyah. Kedua unsur tersebut wajib hadir, sedangkan unsur-unsur yang lain bisa dilesapkan.
Dalam kalimat (8), mubtada’ diisi oleh konstituen هذا الفستان القصير والحذاءُ, sedangkan khabar-nya berupa khabar jumlah. Khabar jumlah ini berbentuk jumlah fi`liyyah yang tersusun atas fi`l, fā`il, maf`ūl bih. Khabar jumlah tersebut diisi oleh konstituen إشتراها لي. Konstituen إشترى ‘telah membeli’ sebagai fi`l, عمّي ‘pamanku’ sebagai fā`il, dan ها ‘nya’ (kata ganti) sebagai maf`ūl bih. Sedangkan konstituenلي ‘untukku’ berfungsi sebagai pelengkap, sehingga bisa dilesapkan. Lihat kalimat (8b)
8b. هذا الفستان القصير والحذاءُ إشتراهاØ عمّي
‘Gaun kecil dan sepatu ini dibeli oleh pamanku.’
Kedua unsur (mubtada’ dan khabar ) sebagai musnād dan musnād ilaih mempunyai keintian yang kuat. Keduanya tidak bisa dilesapkan tanpa mempengaruhi makna kalimat. Kalimat-kalimat di bawah ini tidak gramatikal karena salah satu unsur intinya dilesapkan.
8c. Øإشتراها لي عمّي*
‘Paman membelinya untukku.’
9b. تحوطها أسوارٌ*
‘Pagar-pagar mengelilinginya’
8d. هذا الفستان القصير والحذاءُ*Ø
‘Gaun kecil dan sepatu ini.’
9d. البيوتØ *
‘Rumah-rumah itu.’
Kalimat (8c) dan (9b) bukanlah jumlah mufidah atau kalimat lengkap karena mubtada’-nya dilesapkan. Demikian juga dengan kalimat (8d) dan (9c). Kedua kalimat ini tidak lengkap dan tidak gramatikal karena khabar-nya dilesapkan.
Dari analisis di atas, terlihat bahwa, struktur kalimat pasif dengan menggunakan fi`l ma`lūm sebagai khabar adalah sebagai berikut:
Urutan 2 1
Fungsi مسناد إليه مسناد
Peran خبر جملة مبتداء
فاعل مفعول به فعل
Kategori اسم ضمير فعل معلوم اسم
2.2.2 Kalimat Pasif dengan Fi`l Majhūl sebagai Khabar
10. (السعدوي, 33:1989) النوافذُ أُغْلِقَتْ
‘Jendela-jendela itu telah ditutup.’
11. (السعدوي, 80:1989) الكلمة قد نُفِذتْ كالسهم إلى رأسي
‘Kata yang seperti belati itu ditusukkan ke kepalaku.’
12. (السعدوي, 85:1989) الواحدة منهنّ تُنْقِل إلى مكان آخر
‘Salah satu di antara mereka dipindahkan ke tempat yang lain.’
Untuk membuktikan kepasifannya, ketiga data diatas diubah menjadi kalimat aktif. Hal dilakukan dengan mengembalikan fi`l majhūl-nya ke bentuk ma`lūm. Perubahan fi`l ini menuntut penghadiran pelaku. Oleh karena itu penulis menghadirkan kata tambahan sebagai pelaku dalam kalimat (10a), (11a) dan (12a) yang merupakan bentuk aktif dari kalimat (10), (11), dan (12).
10a أغْلقَ الحارسُ النوافذ
‘Penjaga menutup jendela-jendela itu.’
11a نفذ الرجلُ الكلمة كالسهم إلى رأسي
‘Laki-laki itu menusukkan kata yang seperti belati itu ke kepalaku.’
12a ينقَل الرجلُ الواحدة منهنّ إلى مكان آخر
‘Lelaki itu memindah salah seorang di antara mereka ke tempat yang lain.’
Sebagaimana telah diuraikan pada point 2.2.2, bahwa, mubtada’ dan khabar merupakan unsur inti yang tidak bisa dilesapkan. Oleh karena itu kalimat-kalimat di bawah ini tidak gramatikal.
10b. Ø أُغْلِقَتْ*
‘telah ditutup.’
11b Ø قد نُفِذتْ كالسهم إلى رأسي*
‘Kata yang seperti belati itu ditusukkan ke kepalaku.’
12b Ø تُنْقِل إلى مكان آخر*
‘Dipindahkan ke tempat yang lain.’
10c النوافذُ *Ø
‘Jendela-jendela itu telah ditutup.’
11c. الكلمة Ø كالسهم إلى رأسي*
‘Kata yang seperti belati itu ditusukkan ke kepalaku.’
12c. *الواحدة منهنّ Ø إلى مكان آخر
‘Salah satu di antara mereka dipindahkan ke tempat yang lain.’
Kalimat (10b), (11b), dan (12b) tidak gramatikal karena konstituen النوافذُ, الكلمة , dan الواحدة منهنّ sebagai mubtada’-nya dilesapkan. Begitu juga dengan kalimat (10c), (11c), dan (12c). Ketiga kalimat tersebut tidka gramatikal karena konstituen أُغْلِقَتْ, قد نُفِذتْ, dan تُنْقِل sebagai khabar dilesapkan.
Kalimat (10) hanya terdiri atas dua konstituen inti, sedangkan kalimat (11) dan (12) selain mempunyai dua konstituen inti, juga mempunyai konstituen lain yang bukan inti. Konstituen ini bisa dilesapkan tanpa menghilangkan kegramatikalan kalimat. Dalam kalimat (11), konstituen قد merupakan `amil yang masuk ke fi`l mudāri`. ‘āmil ini berfungsi sebagai penguat (taukid). Adapun konstituen كالسهم ‘bagai belati’ dan إلى رأسي ‘ke kepalaku’berfungsi sebagai kata keterangan. Ketiga konstituen di atas bukan konstituen inti sehingga dapat dilesapkan seperti dalam kalimat (11d).
11. الكلمة Ø نُفِذتْ Ø
‘Kata itu telah ditusukkan..’
Konstituen إلى مكان آخر ‘ke tempat lain’ dalam kalimat (12) merupakan konstituen bukan inti. Oleh karena itu, konstituen ini dapat dilesapkan tanpa menghilangkan kegramatikalan kalimat, seperti terlihat dalam kalimat (12d) di bawah ini.
12d الواحدة منهنّ تُنْقِل Ø
‘Salah satu di antara mereka dipindahkan.’
Dari analisis-analisis di atas kita bisa menyimpulkan bahwa, kalimat pasif dengan fi`l majhūl sebagai khabar mempunyai struktur sebagai berikut:
Urutan 2 1
Fungsi مسناد إليه مسناد
Peran خبر جملة مبتداء
نائب الفاعل فعل
Kategori اسم فعل مجهول اسم
2.2.3 Kalimat Pasif dengan Ism Maf`ūl sebagai khabar
13. (السعدوي, 17:1989) شعري مصفّفٌ عند حلاقٍ
‘Rambutku dirawat di salon.’
14. (السعدوي, 70:1989) النوافذُ والأبوابُ مغلقة
‘Jendela-jendela dan pintu-pintu itu tertutup.’
15. (السعدوي, 80:1989) يدايّ مرفوعتين
‘Kedua tanganku terangkat.’
Untuk membuktikan kepasifannya, ketiga data di atas diubah menjadi kalimat aktif. Hal ini dilakukan dengan mengubah ism maf`ūl mejadi fi`l ma’lūm. Dengan demikian, orientasi kalimat tidak lagi pada pasien tapi pada pelaku. Perubahan ini harus diikuti dengan pengahdiran pelaku. Oleh karena itu, penulis mengahadirkan pronominal sebagai pelaku dalam kalimat kalimat (13a), (12a), dan (14a) di bawah ini yang merupakan bentuk aktif dari kalimat (13), (14), dan (15).
13.a صفّفتُ شعري عند حلاق
‘Kurawat rambutku di salon.’
14.a تغلق النوافذَ والأبوابَ
‘Kau menutup jendela-jendela dan pintu-pintu itu.’
15.a رفعْتُ يديّ
‘Aku mengangkat kedua tanganku.’
Selanjutnya, untuk mengetahui struktur inti dan keintian unsur-unsurnya, data dianalisis dengan teknik Lesap. Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa, struktur inti jumlah ismiyyah adalah mubtada’ sebagai musnād dan khabar sebagai musnād ilaih. Dalam ketiga data di atas, fungsi mubtada’ diisi oleh konstiuen شعري ‘rambutku’ (13), النوافذُ والأبوابُ ‘Jendela-jendela dan pintu-pintu’ (14), dan يدايّ ‘kedua tanganku’ (15). Ketiga konstituen itu bila dilesapkan. Oleh karenanya, kalimat-kalimat di bawah ini tidak gramatikal karena konstituen yang berfungsi sebagai mubtada’ dilesapkan.
13b Ø مصفّفٌ عند حلاقٍ*
‘yang dirawat di salon.’
14b Ø مغلقة*
‘yang tertutup.’
15b Ø مرفوعتين*
‘yang terangkat.’
Demikian juga bila konstituen مصفّفٌ ‘yang dirias’ (13), مغلقة ‘yang ditutup’ (14) dan مرفوعتين ‘yang terangkat’ (15) yang berfungsi sebagai khabar tersebut dilesapkan, maka ketiga kalimat tersebut (13, 14, dan 15) menjadi tidak gramatikal sebagaimana dapat dilihat dalam kalimat (13c), (14c) dan (15c) di bawah ini.
13c شعري Øعند حلاقٍ*
‘Rambutku di salon.’
14c النوافذُ والأبوابُ *Ø**
‘Jendela-jendela dan pintu-pintu.’
15c. يدايّ *Ø
‘Kedua tanganku.’
Kalimat (14) dan (15) hanya tersusun atas dua konstituen inti, sedangkan kalimat (13) terdiri atas tiga konstituen; dua konsituen inti dan satu konstituen tidak inti. Konstituen tidak inti tersebut adalah عند حلاق ‘di salon’. Konstituen ini berfungsi sebagai kata keterangan tempat sehingga bisa dilesapkan tanpa menghilangkan kegramatikalan kalimat. Kalimat (13d) di bawah ini tetap gramatikal walaupun konstituen عند حلاقٍ dilesapkan.
13d شعري مصفّفٌ Ø
‘Rambutku dirawat.’
Selanjutnya bisa dilihat struktur kalimat pasif dengan ism maf`ūl sebagai khabar. Dari analisis-analisis di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa, struktur dasar kalimat pasif dengan ism maf`ūl sebagai khabar adalah sebagi berikut:
Urutan 2 1
Fungsi مسناد إليه مسناد
Peran خبر مبتداء
Kategori اسم المفعول اسم
2.2.4 Kalimat Pasif dengan Fi`l Mutāwa`ah sebagai Khabar
Sebagai mana telah penulis uraikan dalam bab III, bahwa, ada tiga pola fi`l mutāwa`ah, yaitu : انفعل, افتعل, dan تفعّل. Akan tetapi penulis hanya menemukan kalimat pasif dalam bentuk jumlah ismiyyah yang menggunakan fi`l mutāwa`ah yang berpolaانفعل .
16. (السعدوي, 18:1989) جلبابي انحسر عن فخذي
'Galabeyaku tersingkap dari pahaku.’
17. (السعدوي, 47:1989) عالم آخر ينفتح أمامي
‘Alam lain terbuka di depanku.’
18. (السعدوي, 85:1989) جسدي ينضغطُ بين الأجساد في الأتوبيس
‘Tubuhku terhimpit di antara tubuh-tubuh di bus.’
Untuk membuktikan kepasifannya, ketiga data diatas diubah menjadi kalimat aktif. Hal ini dilakukan dengan membuang harf zāidah yang berfungsi mutāwa`ah. Dengan demikian orientasi kalimat tidak lagi pada pasien, melainkan pada pelaku. Perubahan ini juga menuntut penghadiran pelaku. Oleh karena itu, penulis menghadirkan nomina tambahan sebagai pelaku dalam kalimat (16a), (17a) dan (18a) di bawah ini, yang merupakan bentuk aktif dari kalimat (16), (17), dan (18).
16.a عمّي حسر جلبابي عن فخذي
‘Pamanku menyingkap galabeyaku dari pahaku.’
17.a العلم فتح عالَماً آخر أمامي
‘Pengetahuan itu membuka alam lain di depanku.’
18.a الناس يضْغطون جسدي بين الأجساد في الأتوبيس
‘Orang-orang menghimpit tubuhku diantara tubuh-tubuh di bus.’
Selanjutnya untuk melihat struktur inti dan menguji keintian unsur-unsurnya, data dianalisis dengan teknik Lesap. Karena kaliamt ini berbentuk jumlah ismiyyah, maka unsur intinya adalah mubtada’ dan khabar.
Dalam kalimat (16), (17), dan (18) fungsi mubtada’ diisi oleh konstituen جلبابي ‘galabeyaku’, عالم آخر ‘Dunia lain’, dan جسدي ‘tubuhku’. Ketiga konsituen tersebut merupakan konstiuen inti yang wajib hadir. Bila konstituen-konstituen tersebut dilesapkan, maka kalimatnya menjadi tidak gramatikal. Lihat kalimat (16b), (17b), dan (18b) di bawah ini
16b. Ø انحسر عن فخذي*
'Tersingkap dari pahaku.’
17b Øينفتح أمامي *
‘Terbuka di depanku.’
18b Ø ينضغطُ بين الأجساد في الأتوبيس*
‘Terhimpit diantara tubuh-tubuh di bus.’
Demikian juga bila konstituen yang berfungsi sebagai khabar dilesapkan, maka kalimat menjadi tidak gramatikal. Lihat kalimat (16c), (17c), dan (18c) di bawah ini.
16c جلبابي Ø عن فخذي*
'Galabeyaku dari pahaku.’
17c عالم آخر Ø أمامي*
‘Alam lain di depanku.’
18c جسدي Ø بين الأجساد في الأتوبيس
‘Tubuhku diantara tubuh-tubuh di bus.’
Selain dua konstituen inti (mubtada’ dan khabar), ketiga data di atas juga mempunyai konstituen bukan inti. Dalam kalimat (16) terdapat konstituen عن فخذي ‘dari pahaku’ yang berfungsi sebagai kata keterangan tempat. Dalam kalimat (17) terdapat konstituen أمامي ‘di depanku’ yang berfungsi sebagai kata keterangan tempat. Demikian juga dengan kalimat (18). Kalimat ini mempunyai konstituen بين الأجساد ‘di antara tubu-tubuh’ dan في الأتوبيس ‘di dalam bus’. Kedua konstituen tersebut berfungsi sebagai kata keterangan tempat. Jadi, kalimat (16d), (17d), dan (18d) tetap gramatikal walau konstituen-konstituen tersebut dilesapkan.
16.d جلبابي انحسر Ø
'Galabeyaku tersingkap.’
17d عالم آخر ينفتح *Ø
‘Alam lain terbuka.’
18d جسدي ينضغط*Ø
‘Tubuhku terhimpit.’
Dari analisis-analisi di atas, dapat disimpulkan bahwa, struktur kalimat pasif dengan fi’`l mutāwa`ah sebagai khabar adalah sebagai berikut:
Urutan 2 1
Fungsi مسناد إليه مسناد
Peran خبر جملة مبتداء
الفاعل فعل
Kategori ضمير فعل مطاوعة اسم
BAB V
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis-analisis yang telah dilakukan pada Bab IV, maka dapat disimpulkan beberapa hal di bawah ini:
1. Dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr ada dua macam kalimat pasif yaitu berbentuk jumlah fi’liyyah dan berbentuk jumlah ismiyyah.
2. Kalimat pasif yang berbentuk jumlah fi`liyyah dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr ada dua pola, yaitu : Kalimat pasif dengan Fi`l Majhūl sebagai musnād dan kalimat pasif dengan Fi`l Mutāwa`ah.
3. Kalimat pasif yang berbentuk jumlah ismiyyah dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr ada empat pola, yaitu: Kalimat pasif dengan Fi`l Ma`lūm sebagai Khabar, kalimat pasif dengan Fi`l Majhūl sebagai Khabar, kalimat pasif dengan Ism Maf`ūl sebagai Khabar, dan kalimat pasif dengan Fi`l Mutāwa`ah sebagai Khabar.
4. Struktur dasar kalimat-kaliamt pasif tersebut adalah sebagai berikut:
Kalimat Pasif dengan Fi`l Majhūl sebagai Musnad Ilaih
Urutan 2 1
Fungsi مسناد مسناد إليه
Peran نائب فاعل فعل
Kategori اسم الفعل المجهول
Kalimat Pasif dengan Fi`l Mutāwa`ah sebagai Musād Ilaih
Urutan 2 1
Fungsi مسناد مسناد إليه
Peran فاعل فعل
Kategori اسم فعل مطاوعة mutāwa`ah
Kalimat Pasif dengan Fi`l Ma`lūm sebagai Khabar
Urutan 2 1
Fungsi مسناد إليه مسناد
Peran خبر جملة مبتداء
فاعل مفعول به فعل
Kategori اسم ضمير فعل معلوم اسم
Kalimat Pasif dengan Fi`l Majhūl sebagai Khabar
Urutan 2 1
Fungsi مسناد إليه مسناد
Peran خبر جملة مبتداء
نائب الفاعل فعل
Kategori اسم فعل مجهول اسم
s
Kalimat Pasif dengan Ism Maf`ūl sebagai Khabar,
Urutan 2 1
Fungsi مسناد إليه مسناد
Peran خبر مبتداء
Kategori اسم المفعول اسم
Kalimat Pasif dengan Fi`l Mutāwa`ah sebagai Khabar
Urutan 2 1
Fungsi مسناد إليه مسناد
Peran خبر جملة مبتداء
الفاعل فعل
Kategori ضمير فعل مطاوعة اسم
DAFTAR PUSTAKA
Al-Gulāyaini , Syekh Mustafa. 1916. Ad-Durusu Al-`Arabiyatu. Cetakan I. Beirut: Al-Mathba'atu Al-Ahliyah.
______. 2003. Jami`u Ad-Durusi Al-`Arabiyati. Cetakan ke-21. Beirut: Al-Mathba'atu Al-Ahliyatu.
Al-Hasyimi, Ahmad. tt. Al-Qawa`idu Al-Asaasiyyatu Lilughati Al-`Arabiyyati. Beirut: Dar Al-Kutubu Al-'Ilmiyyati.
Ali, Muhammad. 1922. A Dictionary of Theoritical Lingustics, English – Arabic. Lubnan: Librairie Du Liban
Al-Jarim, Ali Musthafa Amin. 1956. An-Nahwu Al-Wadhihu. Juz I. Mesir: Darul Ma'arif.
Cahyono, Bambang Yudi. 1995. Kristal-kristal Ilmu Bahasa. Surabaya: Airlangga University Press
Hasan, Abbas. Tt. An-Nahwu Al- Waviyyu. Almujallad Awwal. Kairo: Darul Ma`arif.
Hasanah, Uswatun. 1998. El-Muna, Kamus Indonesia-Arab. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik, cetakan III. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Ma`shūm, Muhammad. Tt. Al-`Amsilatu At-Tashrifiyyatu. Surabaya: Maktabat wa Mathbaat Salim Nabhan.
Mahdi dan Wahbih. Tt. Mu`jamu Al-istilāhatu Al-Arabiyyati Fi Al-Lugati Wal-Adab. Beirut: Maktabah Lubnan.
Munawwar, Ahmad Warson. 1984. Al-Munawir, Kamus Arab-Indonesia. Yogyakarta: Al-Munawwir.
Syamsuddin, Abu Abdillah. Tt. Terjemah Fathul Qarib. Kudus: Menara Kudus
Syihabuddin. 2002. Teori dan Praktik Penerjemahan Arab-Indonesia. Bandung: Departemen Pendidikan Nasional
Sudaryanto. 1992. Metode Lingusitik: Ke Arah Memahami Metode Lingustik, cetakan III. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
______1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa, Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Lingusistis. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.
Verhaar, J.W.M. 1996. Asas-asas Lingustik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Verhaar, J.W.M. 1984. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
Wednesday, April 21, 2004
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagai mahluk hidup manusia punya hubungan yang sangat erat dengan bahasa. Sudah sepatutnya kita bersyukur karena bisa ikut menikmati manfaat bahasa yang sudah tertata dengan rapi dan sudah ditemukan ilmu untuk mempelajarinya sehingga kita bisa belajar dan menguasai bahasa dengan lebih mudah, bahkan bahasa asing sekalipun.
Fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Menurut Gulayaini (2002:9) bahasa adalah lafal-lafal yang digunakan oleh suatu kaum untuk mengungkapkan maksud-maksud hati mereka.
Ada berbagai jenis kalimat yang kita kenal. Diantaranya adalah kalimat aktif dan kalimat pasif. Kalimat aktif adalah kalimat yang subjek gramatikal verbanya melakukan suatu kegiatan atau proses (Samsuri, 1981;12), contoh: Saya menulis surat
Adapun kalimat pasif adalah kalimat yang subjek gramatikal verbanya menderita atau dikenai verba itu (Samsuri, 1981;13), contoh: Surat itu dibuang. Surat itu ditulis dengan pensil. Surat itu kutulis dengan pensil
Kalimat pasif dalam beberapa bahasa seperti Indonesia dan Inggris menggunakan kata kerja pasif sebagai predikatnya. Hal ini juga berlaku di dalam bahasa Arab. Perhatikan ketiga kalimat di bawah ini:
(Indonesia) Ikan asin dimakan kucing
(Inggris) I was hit by my parent ‘Aku dipukul oleh orang tuaku’
(Arab) أفلا يعل- اِذا بُعثِر -ا فى القبر (العاديات:9)
‘Apakah dia tidak bila kelak segala yang ada di dalam kubur dibangkitkan’
Jadi ada kata kerja bisa dibagi menjadi dua macam; aktif dan pasif. Ketiga kata kerja dalam kalimat-kalimat diatas berbeda dengan kata kerja aktifnya (memakan, hit, Qara`a). Lihat tabel berikut ini.
Kata kerja aktif Kata kerja pasif
Memakan Dimakan
Hit ‘memukul’ Was hit ‘dipukul’
بَعْثَرَ بُعْثِرَ
Dalam A Dictionary of Theoritical Lingustics English-Arabic (Ali, 1922) dan Mu`jamu Al-istilāhatu Al-Arabiyyati Fi Al-Lugati Wal-Adab (Mahdi,tt) padanan kata kerja aktif (active verb) adalah fi`l ma`lūm sedangkan kata kerja pasif (passive Verb) padanannya adalah fi`l majhūl. Fi`l ma´lum adalah kata kerja yang fā`il-nya disebutkan dalam kalimat (Ghulayaini, 1912;104), sedangkan fi`l majhūl adalah kata kerja yang fā’il-nya tidak disebut dalam kalimat (dihilangkan) dengan tujuan tertentu (Ghulayaini, 1912:104). Kalimat aktif bisa dibentuk dengan menggunakan fi`l ma´lum sebagai predikatnya sedangkan kalimat pasif bisa dibentuk dengan menggunakan fi`l majhūl. Contoh: -Kalimat aktif: قراءْتُ القرءانَ
‘Saya sudah membaca Al-Quran’
-Kalimat pasif: قُرِاءَ القرءانُ
‘Al-Quran itu sudah dibaca’
Akan tetapi kita perlu memperhatikan kedua kalimat di atas secara lebih jeli. Ternyata pelaku dalam kalimat aktif di atas (kata ganti orang pertama: Tu ‘Saya’) tidak muncul dalam kalimat pasifnya. Hal ini karena kalimat tersebut menggunakan fi`l majhūl sebagai predikatnya sehingga pelakunya harus dihilangkan (tidak disebut dalam kalimat).
Uraian di atas menunjukkan bahwa fi`l majhūl hanya bisa digunakan untuk membentuk kalimat pasif yang tanpa pelaku. Jadi kalimat pasif yang memunculkan pelakunya tidak bisa dibentuk dengan fi`l majhūl sebagai perdikatnya.
Bila kita ingin membentuk kalimat pasif dengan tanpa menyembunyikan pelakunya maka kita harus menggunakan fi`l ma´lum sehingga kalimat di atas menjadi:
القرءان قرئْتُهُ
‘Alquran itu sudah kubaca’
Dalam buku-buku Nahwu dan Sarf kami tidak menemukan pembahasan secara khusus dan menyeluruh tentang kalimat pasif. Kami hanya menemukannya dalam bab tentang fi`l majhūl tapi dalam bab tersebut tidak ada pembahasan tentang bentuk kalimat pasif yang pelakunya dimunculkan atau bentuk-bentuk kalimat pasif yang lain. Akan tetapi hal ini tentu tidak berarti kalimat pasif dalam bahasa Arab selalu tidak menyebut pelaku.
Kita bisa menemukan kalimat-kalimat pasif dalam berbagai teks berbahasa Arab. Ada beberapa bentuk kalimat pasif yang tidak menggunakan fi`l majhūl. Contoh:
-(Hasanah, 1998: 4) هذِه الطلبة قد وافقها العىيد
‘Permintaan ini telah disetujui oleh dekan’
- (Syamsuddin, tt: 3) ال.ياه بنقسع على أربعة أقساع ٍ
‘Air terbagi menjadi empat jenis’
- اذا عات ابن أدع انطع ععله....(الحديث)
‘Apabila anak adam telah meninggal maka terputuslah amalnya’
Kalimat-kalimat di atas menunjukkan bahwa ada bentuk-bentuk kalimat pasif yang tidak menggunakan fi`l majhūl. Hal ini menarik untuk diteliti lebih lanjut. Apakah kalimat pasif bisa dibentuk tanpa menggunakan fi`l majhūl. Untuk itu kami mencoba melihat bagaimana Nawāl As-Sa`dawiy mengungkapkan kalimat-kalimat pasif dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr. Dengan begitu kita bisa melihat bentuk-bentuk kalimat pasif yang beraneka-ragam, setidaknya yang terdapat dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr. Pemilihan novel ini sebagai objek penelitian ini karena dalam novel ini banyak terdapat kalimat-kalimat pasif. Kami menemukan 55 buah kalimat pasif dan 36 frasa pasif.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang kami bahas dalam penelitian ini dapat dirumuskan menjadi kalimat tanya:
Seperti apa bentuk-bentuk kalimat pasif yang terdapat dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr karya Nawāl As-Sa`dawiy ?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk kalimat pasif yang terdapat dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr karya Nawāl As-Sa`dawiy.
1.4 Landasan Teori
Dalam penelitian ini data yang kami jadikan objek penelitian berupa kalimat dan yang kami curigai sebagai kalimat pasif. Kami akan melihat bagaimana hubungan antar kata dalam kalimat atau frasa tersebut . Oleh karena itu kami menggunakan teori sintaksis. Sintaksis adalah tata bahasa yang membahas hubungan antar kata dalam tuturan (Verhaar, 1996;161). Ada tiga cara untuk mengkaji kalimat atau klausa secara sintaksis yaitu analisis fungsi, analisis peran dan analisis kategori (Verhaar, 1996;162).
Dengan ketiga analisis ini: (1) Kami menguji apakah data yang terkumpul benar-benar berupa kalimat pasif.
Hal ini bisa dilakukan dengan menemukan subjek gramatikalnya kemudian melihatnya dengan lebih jeli apakah subjek gramatikal tersebut dikenai verba atau melakukan verba yang mengisi fungsi predikat. Bila subjek gramatikal tersebut dikenai verba maka kalimat tersebut adalah kalimat pasif. Demikian sebaliknya, apabila ternyata subjek gramatikal tersebut melakukan verba maka kalimat tersebut bukan kalimat pasif. (2) Kami meneliti bagaimana struktur kalimat pasif tersebut. Apakah berbentuk jumlah ismiyah ataukah jumlah fi`liyah. Kata kategori mana yang mengisi fungsi-fungsi sintaksisnya.
1.5 Tahapan, Metode, dan Teknik Penelitian
Penelitian mempunyai tiga tahapan strategis yaitu; tahap pengumpulan dan penyediaan data, analisis data dan penyajian data.
1.5.1 Tahap pengumpulan dan penyediaan data
Data kami yang berupa kalimat-kalimat pasif kami kumpulkan dengan metode simak dengan teknik catat. Kami membaca novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr karya Nawāl As-Sa`dawiy lalu mencatat kalimat-kalimat pasif yang kami temukan ke dalam kartu data. Selanjutnya data yang terkumpul tersebut kami pilah berdasarkan struktur kalimatnya.
1.5.2 Tahap analisis data
Data yang sudah terpilah berdasarkan struktur kalimatnya kami ambil beberapa untuk dianalisisi. Proses analisis data kami lakukan dengan metode agih. Metode agih adalah metode penelitian yang alat penentunya menggunakan unsur bahasa itu sendiri (Sudaryanto, 1993:15). Lebih lanjut Sudaryanto (1993) menyebutkan bahwa metode agih mempunyai teknik dasar dan beberapa teknik lanjutan. Teknik dasarnya adalah teknik bagi unsur langsung (BUL), yaitu pembagian satuan lingual datanya menjadi beberapa bagian atau unsur.
Adapun teknik lanjutan dari metode agih ini setidaknya ada tujuh macam, yaitu; tekni lesap, teknik ganti, teknik perluasan, teknik sisip, teknik balik, teknik ubah ujud, dan teknik ulang.
Dalam penelitian ini teknik lanjutan yang kami pakai adalah teknik lesap, teknik ganti, teknik balik, dan teknik ubah ujud.
Teknik lesap kami lakukan dengan menghilangkan pelaku pada kalimat yang kami analisis. Penghilangan pelaku ini kami gunakan untuk membuktikan bahwa kalimat tersebut adalah kalimat pasif. Bila pelaku dalam kalimat itu bisa dihilangkan maka kalimat tersebut adalah kalimat pasif. Begitu juga sebaliknya. Bila pelaku kalimat tersebut tidak bisa dihilangkan (wajib hadir) maka kalimat tersebut bukan kalimat pasif.
Teknik ganti kami lakukan dengan mengganti predikat dalam kalimat yang kami analisis dengan fi`l majhūl. Teknik ini juga bisa membuktikan bahwa kepasifan suatu kalimat. Bila predikat kalimat tersebut bisa diganti dengan fi`l majhūl maka kalimat tersebut adalah kalimat pasif.
Teknik balik kami lakukan dengan membalik urutan kata penyusun kalimat yang kami analisis. Teknik ini kami lakukan pada data-data yang berupa kalimat pasif dengan maf`ūl bih muqaddam atau pengedepanan objek. Teknik bisa membuktikan apakah pengedepanan objek tersebut berfungsi menjadikan objek sebagi pelaku.
Teknik ubah ujud kami lakukan dengan mengubah kalimat yang kami analisis menjadi kalimat aktif. Bila kalimat tersebut tidak bisa diubah menjadi kalimat aktif maka perlu diragukan kepasifannya.
Keempat teknik lanjutan dari metode agih di atas kami pergunakan untuk menguji apakah data-data yang kami kumpulkan benar-benar berupa kalimat pasif.
1.5.3 Tahap penyajian data
Dalam menyajikan hasil analisis kami menggunakan metode informal dan metode formal. Metode formal adalah dengan menggunakan bahasa secara biasa sedangkan metoe informal adalah dengan menggunakan lambang-lambang (Sudaryanto, 1993:145)
1.6 Tinjauan Pustaka
1.6.1 Pustaka-pustaka yang membahas Kalimat Pasif
Topik tentang kalimat pasif merupakan topik yang menarik. Hal ini terbukti dengan banyaknya pustaka yang membahasnya. Diantaranya adalah:
1. Laporan penelitian M. Ramlan dengan judul “Masalah Aktif-pasif dalam bahasa Indonesia”, terbit tahun 1977.
2. Buku Bambang Kaswati Purwo (editor)dengan judul “Serpih-serpih Telaah pasif Bahasa Indonesia.” buku yang terbit tahun 1989 ini merupakan kumpulan tulisan beberapa ahli bahasa.
3. Buku Edi Subroto dengan judul “Konstruksi Verba Aktif-pasif dalam Bahasa Jawa”, terbit tahun 1994.
4. Buku Yulisma dengan judul “Konstruksi Verba Aktif-pasif dalam Bahasa Kerinci”, terbit tahun 1995.
5. Skripsi Dewa Putu Neki Suryana dengan judul “Kalimat Pasif dalam Bahasa Bali” tahun 2000.
Kami tidak menemukan pustaka yang membahas kalimat pasif bahasa Arab. Akan tetapi ada beberapa skripsi mahasiswa Sastra Asia Barat Fakultas Ilmu Budaya UGM yang mengambil topik fi`l majhūl (kata kerja pasif); Skripsi Darul Akhirah dengan judul Penggunaan Fi`l Majhul Dalam Novel Salamatu Al-Qas: Analisis Struktural
1.6.2 Pustaka-pustaka yang membahas novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr
Novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr pernah dibahas oleh Amin Ma’ruf dalam skripsinya yang berjudul Penanda Negasi Verba dalam Novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr: Analisis Kategori dan Peran. Dalam skripsi ini Amin Ma’ruf meneliti macam-macam verba penanda negasi verba yang digunakan oleh Nawāl As-Sa`dawiy dalam novel tersebut.
1.7 Sistematika Penyajian
Hasil penelitian ini akan kami sajikan dalam lima bab; BAB I merupakan pendahuluan yang meliputi Latar belakang, Rumusan Masalah, Tujuan penelitian, Tinjauan Pustaka, Landasan Teori, Tahapan, metode dan teknik penelitian, dan Sistematika penyajian. BAB II berisi uraian tentang fungsi-fungsi sintaksis dan struktur kalimat dalam bahasa Arab. BAB III berisi tentang struktur-struktur kalimat pasif dalam bahasa Arab. BAB IVmerupakan analisis data yaitu kalimat-kalimat pasif dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr. BAB V adalah penutup yang berisi kesimpulan hasil analisis dan saran-saran.
1.8 Pedoman Transliterasi Arab-Latin
Dalam penyusunan skripsi ini, penulisan kata-kata Arab yang penulis gunakan, berpedoman pada Pedoman Transliterasi Arab-Indonesia berdasarkan SKB Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, tertanggal 22 Januari 1988 No: 158/1987 dan 0543b/U/1987, sebagai berikut:
1.8.1 Konsonan
Huruf Arab Huruf Latin Keterangan
ا - tidak dilambangkan
ب B be
ت T te
ث S es dengan titik di atasnya
ج J je
ح H ha dengan titik di bawahnya
خ Kh huruf ka dan ha
د D de
ذ Z Zet dengan titik di atasnya
ر R er
ز Z zet
س S es
ش Sy es dan ye
ص S es dengan titik di bawahnya
ض D de dengan titik dibawahnya
ط T te dengan titik di bawahnya
ظ Z zet dengan titik di bawahnya
ع ‘ Koma terbalik
غ G ge
ف F ef
ق Q qi
ك K ka
ل L el
م M em
ن N en
و U we
ه H ha
ء ` apostrof, dipakai jika berada di tengah kalimat
ي Y ye
1.8.2 Vokal
Vokal pendek Vokal panjang Diftong
… َ… : a َا… … : ā َي … : ai
…ُ ... : u ُو … … : ū َو … : au
…ِ … : i ي ِ… … : ī
1.8.3 Ta’ Marbutah
Transliterasi untuk ta’ marbutah ada dua macam, yaitu:
1.8.3.1 Ta’ marbutah yang hidup
Ta’ marbutah yang hidup atau mendapat harakat fathah, kasrah, dan dammah trasliterasinya adalah /t/.
1.8.3.2 Ta’ marbutah yang mati
Ta’ marbutah yang mati atau mendapat harakat sukun, transliterasinya adalah /h/. Jika pada kata yang terakhir dengan ta’ marbutah diikuti oleh kata yang terakhir menggunakan kata sandang al serta bacaan kedua kata itu terpisah maka ta’ marbutah itu ditransliterasikan dengan /h/. Contoh: المدينة المنورة ditransliterasikan al-Madinah-al-Munawwarah atau al-Madinatul-Munawwarah.
1.8.4 Syaddah ( Tasydid)
Syaddah atau tasydid dalam sistem penulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda syaddah atau tasydid, dalam transliterasi dilambangkan dengan huruf yang sama dengan huruf yang diberi tanda syaddah itu.
Contoh: رّبنا rabbanā.
1.8.5 Kata Sandang
Dalam sistem penulisan Arab kata sandang dilambangkan dengan ال , tetapi dalam transliterasi dibedakan menjadi dua, yaitu:
1.8.5.1 Kata sandang yang diikuti oleh huruf syamsiyah
Kata sandang yang diikuti oleh huruf syamsiyah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya, yaitu huruf /l/ diganti dengan huruf yang sama dengan huruf yang langsung mengikuti kata sandang itu. Contoh: الشمس asy-syamsu.
1.8.5.2 Kata sandang yang diikuti oleh huruf qamariyah
Kata sandang yang diikuti oleh huruf qamariyah ditransliterasikan sesuai dengan huruf aturan yang digariskan di depan dan sesuai pula dengan bunyinya. Contoh: القمر ditulis al-qamaru
1.8.6 Hamzah
Sebagaimana dinyatakan di depan bahwa hamzah ditransliterasikan dengan apostrof, tetapi ini hanya berlaku bagi hamzah yang terletak di tengah dan di akhir kata. Bila hamzah terletak di awal kata maka tidak dilambangkan karena dalam tulisan Arab berwujud alif. Contoh: أخذ akhaza, سأل sa’ala.
1.8.7 Penulisan Kata
Pada dasarnya setiap kata, baik fi’il, isim, dan harf ditulis terpisah. Hanya kata-kata tertentu yang penulisannya dengan huruf Arab sudah lazim dirangkaikan dengan kata lain karena ada huruf atau harakat yang dihilangkan maka dalam transliterasi ini penulisan kata tersebut dirangkaikan juga dengan kata lain yang mengikutinya. Contohوإن اللّه لهو خير الرازقين : Wa innallāha lahuwa khair al-rāziqin.
1.8.8 Huruf Kapital
Meskipun dalam sistem penulisan Arab tidak mengenal huruf kapital, tetapi dalam transliterasi ini huruf kapital ditulis sebagaimana peraturan yang ada dalam Ejaan yang Disempurnakan (EYD). Contoh: رسول وما محمد إلا Wa mā Muhammadun illā Rasul.
BAB II
FUNGSI-FUNGSI SINTAKSIS
DAN STRUKTUR KALIMAT BAHASA ARAB
Sebelum menguraikan tentang struktur kalimat pasif dalam bahasa Arab, terlebih dahulu kami uraikan batasan kalimat dalam bahasa Arab (Al-Jumlah atau al-kalam) dan fungsi-fungsi sintaksisnya
2.1 Al-Jumlah
Dalam bahasa Arab istilah kalimat disebut Al-kalam atau Al-Jumlah. Al-Kalam atau Al-Jumlah adalah susunan dari dua kata atau lebih yang mempunyai makna yang lengkap (Hasan, tt: 15) Contoh: أقبل الظيفُ ’Seorang tamu sudah tiba.’
Al-Jumlah dibagi menjadi dua; Jumlah Ismiyyah yaitu kalimat yang diawali dengan ism (Hāsimiy, tt:11). Contoh: إنّ العدل قِوام الملك ‘Keadilan adalah tiangnya kerajaan.’
Jumlah Fi`liyyah yaitu kalimat yang dimulai dengan fi`l ( Hāsimiy, tt :11). Contoh: جاء الحقُ ‘Kebenaran telah datang’
Jumlah ismiyah (kalimat nominal) tersusun dari mubtada’ + khabar. Adapun jumlah fi`liyyah (kalimat verbal) tersusun dari fi`l + fā`il + maf`ul bih.
Fi`l dalam jumlah fi`liyyah dan khabar dalam jumlah ismiyyah dimasukkan ke dalam golongan musnād. Adapun fā`il dalam jumlah fi`liyyah dan mubtada’ dalam jumlah ismiyyah dimasukkan ke dalam golongan musnād ilaih. Kedua unsur iniliah (musnād dan musnād ilaih) yang menjadi unsur pokok penyusun kalimat dalam bahasa Arab. Kedua unsur inilah yang disebut sebagai fungsi sintaksis bahasa Arab.
2.2. Fungsi-fungsi sintaksis bahasa Arab
Menurut Syihabuddin (2002: 42) Fungsi sintaksis adalah tempat yang diduduki oleh sebuah kata dalam menjalankan fungsinya. Dalam istilah Cahyono (1995: 180) fungsi mengacu pada tugas dari unsur kalimat.
Dalam bahasa Arab fungsi sintaksis ditunjukkan oleh i`rāb. I`rāb adalah perubahan akhir kata atau frase karena dimasuki ‘āmil yang berbeda-beda. Perubahan tersebut bisa berupa perubahan lafadz dan bisa juga berupa perubahan secara perkiraan (Hasyimi, tt: 27)
Menurut Badri via Syihabuddin (2002: 42-43), fungsi kata atau fungsi sintaksis bahasa Arab ada enam macam, yaitu musnād ilaih (kata atau frase yang dibiciarakan), musnād (kata yang menerangkan musnād ilaih), mukammil (keterangan atau pelengkap informasi), tābi` (yang menerangkan fungsi yang lain), rabit (penghubung antar fungsi), dan tahwil (pengubah modus kalimat).
Menurut Gulayaini(2002:604), jumlah merupakan susunan dari musnād dan musnād ilaih. Dalam jumlah fi`liyah, fungsi musnād ilaih berupa fā`il sedangkan musnād-nya berupa fi`l. Adapun dalam jumlah ismiyah, fungsi musnād ilaih dalam jumlah fi`liyah berupa mubtada’ sedangkan fungsi musnād berupa khabar.
2.3 Struktur kalimat bahasa Arab
2.3.1 Struktur jumlah fi’liyyah
Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa musnād ilaih dalam jumlah fi`liyah berupa fā`il atau nāibul fā`il sedangkan musnād-nya berupa fi`l.
2.3.1.1 Fi`l
Fi`l adalah kata yang menunjukkan pada suatu kejadian yang berkaitan dengan kala (lampau, sedang, atau akan). (Hasyimi, tt:17). Peran fi`l sebagai musnād ilaih dalam jumlah fi`liyyah bisa diisi dengan berbagai macam fi`l (kata kerja). Berdasarkan waktu, fi`l dibagi menjadi tiga macam; fi`l madhi (kata kerja lampau), fi`l mudhari` (kata kerja present atau future), fi`l ‘amr (kata kerja perintah). Contoh:
Fi`l ‘amr fi`l mudhari` fi`l madhi
قُلْ يقول قال
‘Berkatalah’ ‘Sedang berkata/akan berkata’ ‘Telah berkata’
Berdasarkan kebutuhan terhadap maf’ūl bih, fi`l dibagi menjadi dua macam; fi`l muta`addi (kata kerja intransitif), dan fi`l lāzim (kata kerja transitif). Contoh:
Fi`l Muta`addi Fi`l Lāzim
أقراء القرءان أجري
Saya membaca alquran Saya berlari
Berdasarkan fā`il-nya, fi`l dibagi menjadi dua macam; fi`l ma`lūm (kata kerja aktif), dan fi`l majhul (kata kerja pasif). Contoh:
Fi`l majhul fi`l ma`lūm
قُرِء القرءانُ قرئت القرءانَ
Alquran itu sudah dibaca Saya membaca Alquran
2.3.1. 1 Fā`il dan nāibul fā`il
Fā`il adalah ism yang di-i`rab rafa’, yang menunjukkan siapa yang melakukan fi`l atau pekerjaan yang menjadi musnād-nya. Adapun Nāibul Fā`il adalah pengganti fā`il apabila fi`l-nya berupa fi`l majhul. Jadi nāibul fā`il adalah ism yang dibaca rafa’ yang didahului oleh fi`l majhūl (Hasyimi, tt;120). Contoh:
Nāibul fā`il Fā`il
قُرِء القرءانُ قرأ الطالبُ القرءانَ
‘Alquran itu sudah dibaca’ ‘Mahasiswa membaca alquran’
Peran fā`il atau nā’ibul fā`il sebagai musnād dalam jumlah fi`liyyah bisa diisi oleh ism. Ism adalah kata yang menunjuk pada sesuatu yang dinamai atau suatu makna yang tidak berkaitan dengan kala. Ism dibagi menjadi tiga macam; mudhar (yaitu ism yang menunjuk pada maknanya tanpa membutuhkan qarinah, mudmar, dan mudham (Hasyimi, tt:16) Contoh:
Mudhar Mudmar Mubham
سعد أنا هذا
‘Saad’(nama orang) ‘Saya’ ‘Ini’
Peran fā`il atau nā’ibul fā`il sebagai, musnād dalam jumlah fi`liyyah bisa diisi ism mudmar (kata ganti) atau ism mudhar.
2.3.2 Struktur jumlah ismiyyah
Sebagaimana telah kami uraiakan sebelumnya bahwa jumlah ismiyyah (kalimat nominal) tersusun dari mubtada’ sebagai musnād ilaih-nya dab khabar sebagai musnād-nya. Mubtada dan khabar merupakan dua ism yang membentuk suatu jumlah mufidah (kalimat lengkap). Mubtadā’ adalah musnād ilaih yang tidak didahului oleh suatu `āmil sedangkan khabar adalah yang menerangkan mubtada’. (Gulayaini, 2002:348-349)
Jadi ada lima macam struktur dasar bahasa Arab:
Jumlah fi`liyyah dengan fi`l ma`lūm model I
Urutan 3 2 1
Fungsi Mukammil Musnād ilaih Musnād
Peran Mafūl bih Fā`il Fi’l
Kategori Ism ism Fi’l ma’lūm muta`addiy
Contoh القرءانَ الطالبُ قرأَ
Jumlah fi`liyyah dengan fi`l ma`lūm model II
Urutan 2 1
Fungsi Musnād ilaih Musnād
Peran Fā`il Fi’l
Kategori Ism Fi’l ma’lūm
Contoh الطالب يجري
Jumlah fi`liyyah dengan fi`l majhūl
Urutan 2 1
Fungsi Musnād ilaih Musnād
Peran Nāibul fā`il Fi’l
Kategori Ism Fi’l majhūl
Contoh القرءانُ قُرِء
Jumlah ismiyyah mufrad
Urutan 2 1
Fungsi Musnād ilaih Musnād
Peran khabar Mubtada’
Kategori Ism Ism
Contoh طالبٌ أنا
Jumlah ismiyyah dengan khabar jumlah
Urutan 2 1
Fungsi Musnād ilaih Musnād
Peran Khabar jumlah Mubtada’
Kategori Ism Ism Fi`l Ism
Contoh قرئتُه القرءان
هُ تُ قرأ
BAB III
KALIMAT PASIF DALAM BAHASA ARAB
Kalimat pasif dalam bahasa Arab tidak hanya bisa berbentuk kalimat verbal (jumlah fi`liyyah) tapi juga kalimat nominal (jumlah ismiyyah).
3.1 Kalimat Pasif dalam Bentuk Jumlah fi`liyyah
3.1.1 Kalimat Pasif dengan Fi`l Majhūl
Sebagaimana telah kami sebutkan di dalam BAB I, fi`l majhūl adalah fi`l (kata kerja) yang fā`il (pelaku)-nya tidak disebut dalam kalimat, melainkan dibuang karena suatu alasan (Ghulayaini, 1992:105). Fi`l majhūl dibentuk dari fi`l ma’lum dengan mengubah beberapa harakatnya. Untuk membentuk fi`l madhi majhūl huruf sebelum terakhir harakatnya diganti kasrah, dan semua huruf yang hidup yang berada di depannya, harakatnya diganti dengan dhommah (Ghulayaini, 1992:105). Contoh:
Fi`l Ma’lūm Fi`l Majhūl
‘memukul’ ‘dipukul’
Adapun untuk membentuk fi`l mudori majhūl maka harakat huruf yang pertama diganti dengan dommah dan harakat huruf sebelum akhir diganti dengan fathah (Ghulayaini, 1992:105). Contoh:
Fi`l Ma’lūm Fi`l Majhūl
‘memukul’ ‘dipukul’
Fi`l majhūl hanya bisa dibentuk dari fi`l muta’addi, tidak bisa dibentuk dari fi`l lazim (Ghulayaini, 1992:106). Fi`l muta’addi (kata kerja transitif) adalah fi`l yang membutuhkan maf`ūl bih (Ghulayaini, 1992:98). Adapun fi`l lazim adalah fi`l yang tidak membutuhkan maf`ūl bih (Ghulayaini, 1992:102). Contoh:
Fi`l lazim Fi`l Muta`adiy
‘Suratku sudah hilang’ ‘Saya menyaksikan televisi’
Akan tetapi kadang ada juga fi`l majhūl yang dibentuk dari fi`l lazim. Hal ini diperbolehkan dengan syarat subjek gramatikalnya berupa mashdar atau daraf (Ghulayaini, 1992:106). Contoh: سُهِرَ سَهَرٌ طَوِيلٌ ‘Suatu malam yang panjang dibegadangi’
Karena fi`l majhūl adalah fi`l yang fā`il-nya tidak disebut, maka kalimat pasif dengan fi`l majūl adalah kalimat pasif yang pelakunya tidak disebut. Kalimat قرئتُ القراء نَ ‘Saya telah membaca Alquran’ tidak bisa dipasifkan dengan menggunakan fi`l majhūl kecuali bila pelakunya dihilangkan. Apabila pelakunya tetap disebutkan maka bisa menggunakan fi`l ma`lūm tapi dengan struktur yang berbeda. Inilah pola kalimat pasif yang akan kami uraikan pada point 3.2.1
2.1.2 Kalimat Pasif dengan Fi`l Mutawa`ah
Ada tiga pola fi`l yang berfungsi mutawa`ah yaitu fi`l berpola افْتَعَلَ, انْفَعَل تَفَعلَ . Fi`l yang mengikuti pola افْتَعَل antara lain berfungsi sebagai mutawa`ah dari fi`l yang berpola فعل (Ma’shum, tt, 22-23) Contoh: جمعتُ الإ بلَ فاجْتمع ‘Saya mengumpulkan onta, maka terkumpullah onta tersebut.’
Fi`l yang mengikuti mengikuti polaانْفَعَل antara lain berfungsi sebagai mutawa`ah dari fi`l yang berpola فعل dan juga mutawa`ah dari fi`l yang berpola أفعل (tapi jarang) (Ma’shum,tt 24-25). Contoh: كسرْتُ الزجاجَ فا نكسر ‘Saya memecah kaca maka terpecahlah kaca tersebut.
Fi`l yang mengikuti pola تَفَعلَ antara lain berfungsi sebagi mutawa`ah dari fi`l yang berpola فعل (Ma’shum, tt: 20-21). Contoh: كسّرْتُ الزجاجَ فتكسّر ‘Saya memecahkan pecah maka terpecahkanlah kaca tersebut.’
Fi`l mutāwa`ah juga bisa digunakan dalam kalimat pasif dalam bentuk jumlah ismiyyah. Lihat point 3.2.4
3.2 Kalimat Pasif dalam Bentuk Jumlah Ismiyyah
3.2.1 Kalimat Pasif dengan Fi`l Ma`lūm sebagai khabar
Kalimat pasif dengan pola ini merupakan kalimat pasif yang dibentuk dengan pentopikan objek. Hal ini dilakukan dengan menjadikan jumlah fi`liyyah (fi`l maklum dan fa`il-nya) menjadi khabar sedangkan objek (mafūl bih)-nya dijadikan mubtada’.
Maf`ūl bih adalah isim yang menunjukkan terjadi atau tidak terjadinya perbuatan yang dilakukan oleh fā`il. (Ghulayaini, 2003: 412). Maf`ūl bih (objek langsung) hanya kita temui dalam jumlah fi`liyyah yang menggunakan fi`l ma`lūm yang muta`addi. Contoh: قرئتُ القراء نَ ‘Saya telah membaca Alquran’.
Untuk memahami pola kalimat pasif ini kita perlu melihat struktur asal jumlah fi`liyyah. Menurut Gulayaini (2003:413) Dalam jumlah fi`liyyah, fā`il berjajar langsung dengan fi`l-nya setelah itu baru diikuti maf`ūl bih. Dengan struktur asal seperti itu, yang menjadi orientasi atau yang diterangkan (musnād ilaih) adalah fā`il bukan maf’ūl bih (objek). Sedangkan dalam kalimat pasif yang menjadi orientasi adalah maf’ūl bih. Jadi untuk membentuk kalimat pasif dengan fi`l ma`lūm kita harus menjadikan maf`ūl bih-nya menjadi musnād ilaih yaitu dengan menempatkannya sebagai mubtada’. Adapun fi`il dan fā`il-nya dijadikan sebagai khabar jumlah. Khabar jumlah adalah khabar yang berbentuk kalimat (jumlah) baik berupa jumlah fi`liyyah ataupun jumlah ismiyyah (Gulayaini, 2002:355). Lihat contoh perubahan kalimat aktif menjadi pasif berikut ini:
Aktif قراءْتُ القرءانَ ‘Saya telah membaca Alquran
pasif القرءان قرئْتُهُ ‘Alquran telah kubaca’
Pola kalimat pasif semacam ini juga bisa menggunakan fi`l majhūl. Lihat point 3.2.2
3.2.2 Kalimat Pasif dengan Fi`l Majhūl sebagai Khabar
Kalimat pasif model ini merupakan jumlah ismiyyah dengan khabar jumlah yang diisi dengan fi`l majhūl dan nā`ibul fā`il berupa damir mustatir yang merujuk ke mubtada’. Contoh: أوْرق الشاي تُبَذلُ بعد القطف ‘Daun-daun the dialumkan setelah pemetikan’ (Hasanah, 1998:28)
3.2.3 Kalimat Pasif dengan Ism Maf`ūl sebagai khabar
Menurut Gulayaini (1992:112) Ism maf`ūl adalah ism yang diambil dari ‘sesuatu yang dipukul’.
Ism maf`ūl dari fi`l śulāśiy mujarrad dibentuk dengan pola مفعولٌ contoh: مكتوبٌ‘sesuatu yang ditulis’. Adapun yang selain dari śulāśiy mujarrad dibentuk berdasarkan lafal fi`l mudari`-majhūl-nya. Huruf mudhori`-nya diganti Mim dan diharakat dammah. Contoh:مستَغْفَرٌ ‘sesuatu yang diampuni’. Ada juga ism maf`ūl yang sama dengan ism fā`il. Contoh: مختارٌ ‘yang memilih atau yang dipilih’(Ghulayaini, 2003:135).
3.2.4 Kalimat Pasif dengan Fi`l Mutāwa`ah sebagai Khabar
Kalimat pasif model ini meletakkan fā`il dari fi`l mutāwa`ah sebagai mutada’. Adapun fi`l mutāwa`ah-nya sendiri menjadi khabar jumlah. Contoh: الحبل انقطع ‘Tali itu terputus’.
BAB IV
PEMEBAHASAN KALIMAT PASIF
DALAM NOVEL IMRĀ’ATU `INDA NUQTATI AS-SIFR
Sebagaimana telah kami uraikan pada bab III bahwa kalimat pasif dalam bahasa Arab ada yang berbentuk kalimat verbal (jumlah fi`liyyah) dan ada juga yang berbentuk kalimat nominal (jumlah ismiyyah). Kalimat Pasif dalam bentuk Jumlah fi`liyyah dibagi menjadi dua macam, yaitu: Kalimat Pasif dengan Fi`l Majhūl dan Kalimat Pasif dengan Fi`l Mutawa`ah
Adapun Kalimat Pasif dalam Bentuk Jumlah Ismiyyah dibagi menjadi 4 macam, yaitu: Kalimat Pasif dengan Fi`l Ma`lūm sebagai khabar, Kalimat Pasif dengan Fi`l Majhūl sebagai Khabar , Kalimat Pasif dengan Ism Maf`ūl sebagai khabar, Kalimat Pasif dengan Fi`l Mutāwa`ah sebagai Khabar
Dalam novel Imrāatu `Inda Nuqtati As-Sifr kami menemukan 36 kalimat pasif. Data tersebut kami kelompok-kelompokkan berdasarkan struktur kalimatnya sesuai dengan 6 jenis kalimat pasif di atas. Tiap kelompok akan kami ambil tiga data sebagai sampel untuk dianalisis. Akan tetapi ada beberapa jenis kalimat pasif yang datang hanya ada satu atau dua buah kalimat.
Sampel-sampel tersebut akan kami analisis dengan teknik ubah ujud. Teknik kami lakukan dengan mengubah data menjadi kalimat aktif. Dengan begitu kita bisa membuktikan bahwa kalimat tersebut benar-benar berupa kalimat pasif. Setelah itu data akan dianalisis lebih kanjut dengan teknik lesap. Dengan teknik ini kita bisa melihat unsur-unsur inti penyusun kalimat pasif tersebut.
4.1 Kalimat Pasif dalam Bentuk Jumlah fi`liyyah
4.1.1 Kalimat Pasif dengan Fi`l Majhūl sebagai musnad
1. (السعدوي, 24:1989) أيُمكن أنْ يوْلدَ الانسانُ مرّتين
‘Mungkinkah manusia dilahirkan dua kali?’
2. (السعدوي, 88:1989) قدْ وُلدْتُ أنا
‘Aku benar-benar telah dilahirkan.’
3. (السعدوي, 29:1989) يُطْفَؤُ نوْر العنْبَر
‘Lampu gudang itu dipadamkan.’
Ketiga kalimat di atas adalah kalimat pasif. Salah satu yang menunjukkan hal tersebut adalah bahwa kalimat-kalimat tersebut mempunyai bentuk aktif. Bentuk aktif dari kalimat (1), (2), dan (3) adalah kalimat (1a), (2a), dan (3a).
1b. أيُمكن أنْ تلدَ الأمُّ الإنسانَ مرّتين
‘Mungkinkah ibu melahirkan melahirkan dua kali?’
2b. قد ولدَتْني الأمُّ
‘Ibu benar-benar telah melahirkanku.’
3b. يُطْفِؤُ الحارسُ نورَ العنْبَرِ
‘Penjaga itu memadamkan lampu gudang.’
Selanjutnya data akan dianalisis dengan teknik lesap untuk mengetahui unsur-unsur intinya. Menurut sebagaimana kami sebutkan dalam bab II bahwa unsur inti kalimat adalah musnād dan musnād ilaih. Berdasarkan kalimat ini berarti unsur-unsur selain musnād dan musnād ilaih bisa dilesapkan dan kalimat tersebut tetap gramatikal. Hal ini akan kita uji dengan teknik lesap.
1c. Ø يوْلدَ الانسانُ Ø
‘Mungkinkah manusia dilahirkan dua kali?’
2c. Ø وُلدْتُ Ø
‘Aku benar-benar telah dilahirkan.’
1d. أيُمكن أنْ يوْلدَ الانسانُ مرّتين
‘Mungkinkah manusia dilahirkan dua kali?’
2d. قدْ وُلدْتُ أنا
‘Aku benar-benar telah dilahirkan.’
3c. يُطْفَؤُ نوْر العنْبَر
‘Lampu gudang itu dipadamkan.’
Kata tanya ( أ), يُمكن, harf أنْ, dan kata مرّتين dalam kalimat (1) bisa dilesapkan tanpa menghilangkan kegramatikalan kalimat. Hal ini karena kata-kata (baik ism, harf, ataupun fi`l) tersebut tidak menempati fungsi sintaksis yang inti.
2.1.2 Kalimat Pasif dengan Fi`l Mutawa`ah
2.1.2.1 Kalimat pasif dengan fi`l yang berpola
Dalam novel Imrā’atun `Inda Nuqtati As-Sifr kami menemukan……..buah kalimat pasif yang menggunakan fi`l انفعل sebagai pengisi fungsi musnād ilaih.
4. (السعدوي, 35:1989) انْفرَجَتْ سفتاي
‘Kedua bibirku terbuka’
5. (السعدوي, 80:1989) انقطع صوتهُ
‘Suaranya terpotong’
6. (السعدوي, 83:1989) اندفع الدم الى رأسي
‘Darah itu terdorong ke kepalaku’
Untuk membuktikan kepasifannya, ketiga data di atas kami analisis dengan teknik ubah ujud menjadi kalimat aktif.
4.a فرجْتُ سفتي
‘Aku membuka kedua bibirku’
5.a قطع عليٌ صوتَه
‘Ali memotong suaranya’
6.a دفع الغضبُ الدم الى رأسي
‘Kemarahan mendorong darah ke kepalaku’
Dari hasil analisis dia tas kita bisa melihat bhawa kalimat 4, 5, dan 6 bisa diubah menjadi kalimat aktif (4a. 5a, dan 6a) berarti ketiga data tersebut benar-benar berupa kalimat aktif. Selanjutnya data akan dianalisis dengan teknik lesap untuk mengetahui unsur-unsur intinya.
2.1.2 .2 Kalimat pasif dengan fi`l yang berpola افتعل
Dalam novel Imrā’atun `Inda Nuqtati As-Sifr kami hanya menemukan satu buah kalimat pasif yang menggunakan fi`l افتعل sebagai pengisi fungsi musnād ilaih.
7. (السعدوي, 60:1989) إنتقض جسدي فوق المقعد
‘Tubuhku terhempas di atas bangku’
Kalimat 7 adalah kalimat pasif. Salah satu yang menunjukkan kepasifannya adalah dia mempunyai bentuk aktif, yaitu 7a
7.a إنتقض جسدي فوق المقعد
‘Aku menghempaskan tubuhku di atas bangku.’
Struktur kalimat 7 adalah sebagai berikut.
فوق المقعد جسدي إنتقض
مكمّل مسناد اليه مسناد
جار مجرور فاعل فعل
3.2 Kalimat Pasif dalam Bentuk Jumlah Ismiyyah
3.2.1 Kalimat Pasif dengan Fi`l Ma`lūm sebagai khabar
8. (السعدوي, 24:1989) هذا الفستان القصير والحذاءُ إشتراها لي عمّي
‘Gaun kecil dan sepatu ini dibeli oleh pamanku untukku.’
9. (السعدوي, 59:1989) البيوت تحوطها أسوارٌ
‘Rumah-rumah itu dikelilingi pagar.’
Bentuk aktifnya
8.a إشترا لي عمّي هذا الفستانَ القصير والحذاءَ
‘Pamanku membelikanku gaun kecil dan sepatu ini.’
9.a تحوط أسوارٌ البيوتَ
‘Pagar-pagar itu mengelilingi rumah.’
2.2.2 Kalimat Pasif dengan Fi`l Majhūl sebagai Khabar
10. (السعدوي, 33:1989) النوافذُ أُغْلِقَتْ
‘Jendela-jendela itu telah ditutup.’
11. (السعدوي, 80:1989) الكلمة قد نُفِذتْ كالسهم إلى رأسي
‘Kata yang seperti belati itu ditusukkan ke kepalaku.’
12. (السعدوي, 85:1989) الواحدة منهنّ تُنْقِل إلى مكان آخر
‘Salah satu diantara mereka dipindahkan ke tempat yang lain.’
Bentuk aktifnya
10.a أغْلقَ الحارسُ النوافذ
‘Penjaga menutup jendela-jendela itu.’
11.a نفذ الرجلُ الكلمة كالسهم إلى رأسي
‘Laki-laki itu menusukkan kata yang seperti belati itu ke kepalaku.’
12.a ينقَل الرجلُ الواحدة منهنّ إلى مكان آخر
‘Lelaki itu memindah salah seorang diantara mereka ke tempat yang lain.’
2.2.3 Kalimat Pasif dengan Ism Maf`ūl sebagai khabar
13. (السعدوي, 17:1989) شعري مصفّفٌ عند حلاقٍ
‘Rambutku dirawat di salon.’
14. (السعدوي, 70:1989) النوافذُ والأبوابُ مغلقة
‘Jendela-jendela dan pintu-pintu itu tertutup.’
15. (السعدوي, 80:1989) يدايّ مرفوعتين
‘Kedua tanganku terangkat.’
Bentuk aktifnya
13.a صفّفتُ شعري عند حلاق
‘Kurawat rambutku di salon.’
14.a تغلق النوافذَ والأبوابَ
‘Kau menutup jendela-jendela dan pintu-pintu itu.’
15.a رفعْتُ يديّ
‘Aku mengangkat kedua tanganku.’
2.2.4 Kalimat Pasif dengan Fi`l Mutāwa`ah sebagai Khabar
2.2.4.1 Kalimat pasif dengan fi`l yang berpola انفعل
16. (السعدوي, 18:1989) جلبابي انحسر عن فخذي
'Galabeyaku tersingkap dari pahaku.’
17. (السعدوي, 47:1989) عالم آخر ينفتح أمامي
‘Alam lain terbuka di depanku.’
18. (السعدوي, 85:1989) جسدي ينضغطُ بين الأجساد في الأتوبيس
‘Tubuhku terhimpit diantara tubuh-tubuh di bus.’
Bentuk aktifnya
16.a عمّي حسر جلبابي عن فخذي
‘Pamanku menyingkap galabeyaku dari pahaku.’
17.a العلم فتح عالَماً آخر أمامي
‘Pengetahuan itu membuka alam lain di depanku.’
18.a الناس يضْغطون جسدي بين الأجساد في الأتوبيس
‘Orang-orang menghimpit tubuhku diantara tubuh-tubuh di bus.’
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sebagai mahluk hidup manusia punya hubungan yang sangat erat dengan bahasa. Sudah sepatutnya kita bersyukur karena bisa ikut menikmati manfaat bahasa yang sudah tertata dengan rapi dan sudah ditemukan ilmu untuk mempelajarinya sehingga kita bisa belajar dan menguasai bahasa dengan lebih mudah, bahkan bahasa asing sekalipun.
Fungsi utama bahasa adalah sebagai alat komunikasi. Menurut Gulayaini (2002:9) bahasa adalah lafal-lafal yang digunakan oleh suatu kaum untuk mengungkapkan maksud-maksud hati mereka.
Ada berbagai jenis kalimat yang kita kenal. Diantaranya adalah kalimat aktif dan kalimat pasif. Kalimat aktif adalah kalimat yang subjek gramatikal verbanya melakukan suatu kegiatan atau proses (Samsuri, 1981;12), contoh: Saya menulis surat
Adapun kalimat pasif adalah kalimat yang subjek gramatikal verbanya menderita atau dikenai verba itu (Samsuri, 1981;13), contoh: Surat itu dibuang. Surat itu ditulis dengan pensil. Surat itu kutulis dengan pensil
Kalimat pasif dalam beberapa bahasa seperti Indonesia dan Inggris menggunakan kata kerja pasif sebagai predikatnya. Hal ini juga berlaku di dalam bahasa Arab. Perhatikan ketiga kalimat di bawah ini:
(Indonesia) Ikan asin dimakan kucing
(Inggris) I was hit by my parent ‘Aku dipukul oleh orang tuaku’
(Arab) أفلا يعل- اِذا بُعثِر -ا فى القبر (العاديات:9)
‘Apakah dia tidak bila kelak segala yang ada di dalam kubur dibangkitkan’
Jadi ada kata kerja bisa dibagi menjadi dua macam; aktif dan pasif. Ketiga kata kerja dalam kalimat-kalimat diatas berbeda dengan kata kerja aktifnya (memakan, hit, Qara`a). Lihat tabel berikut ini.
Kata kerja aktif Kata kerja pasif
Memakan Dimakan
Hit ‘memukul’ Was hit ‘dipukul’
بَعْثَرَ بُعْثِرَ
Dalam A Dictionary of Theoritical Lingustics English-Arabic (Ali, 1922) dan Mu`jamu Al-istilāhatu Al-Arabiyyati Fi Al-Lugati Wal-Adab (Mahdi,tt) padanan kata kerja aktif (active verb) adalah fi`l ma`lūm sedangkan kata kerja pasif (passive Verb) padanannya adalah fi`l majhūl. Fi`l ma´lum adalah kata kerja yang fā`il-nya disebutkan dalam kalimat (Ghulayaini, 1912;104), sedangkan fi`l majhūl adalah kata kerja yang fā’il-nya tidak disebut dalam kalimat (dihilangkan) dengan tujuan tertentu (Ghulayaini, 1912:104). Kalimat aktif bisa dibentuk dengan menggunakan fi`l ma´lum sebagai predikatnya sedangkan kalimat pasif bisa dibentuk dengan menggunakan fi`l majhūl. Contoh: -Kalimat aktif: قراءْتُ القرءانَ
‘Saya sudah membaca Al-Quran’
-Kalimat pasif: قُرِاءَ القرءانُ
‘Al-Quran itu sudah dibaca’
Akan tetapi kita perlu memperhatikan kedua kalimat di atas secara lebih jeli. Ternyata pelaku dalam kalimat aktif di atas (kata ganti orang pertama: Tu ‘Saya’) tidak muncul dalam kalimat pasifnya. Hal ini karena kalimat tersebut menggunakan fi`l majhūl sebagai predikatnya sehingga pelakunya harus dihilangkan (tidak disebut dalam kalimat).
Uraian di atas menunjukkan bahwa fi`l majhūl hanya bisa digunakan untuk membentuk kalimat pasif yang tanpa pelaku. Jadi kalimat pasif yang memunculkan pelakunya tidak bisa dibentuk dengan fi`l majhūl sebagai perdikatnya.
Bila kita ingin membentuk kalimat pasif dengan tanpa menyembunyikan pelakunya maka kita harus menggunakan fi`l ma´lum sehingga kalimat di atas menjadi:
القرءان قرئْتُهُ
‘Alquran itu sudah kubaca’
Dalam buku-buku Nahwu dan Sarf kami tidak menemukan pembahasan secara khusus dan menyeluruh tentang kalimat pasif. Kami hanya menemukannya dalam bab tentang fi`l majhūl tapi dalam bab tersebut tidak ada pembahasan tentang bentuk kalimat pasif yang pelakunya dimunculkan atau bentuk-bentuk kalimat pasif yang lain. Akan tetapi hal ini tentu tidak berarti kalimat pasif dalam bahasa Arab selalu tidak menyebut pelaku.
Kita bisa menemukan kalimat-kalimat pasif dalam berbagai teks berbahasa Arab. Ada beberapa bentuk kalimat pasif yang tidak menggunakan fi`l majhūl. Contoh:
-(Hasanah, 1998: 4) هذِه الطلبة قد وافقها العىيد
‘Permintaan ini telah disetujui oleh dekan’
- (Syamsuddin, tt: 3) ال.ياه بنقسع على أربعة أقساع ٍ
‘Air terbagi menjadi empat jenis’
- اذا عات ابن أدع انطع ععله....(الحديث)
‘Apabila anak adam telah meninggal maka terputuslah amalnya’
Kalimat-kalimat di atas menunjukkan bahwa ada bentuk-bentuk kalimat pasif yang tidak menggunakan fi`l majhūl. Hal ini menarik untuk diteliti lebih lanjut. Apakah kalimat pasif bisa dibentuk tanpa menggunakan fi`l majhūl. Untuk itu kami mencoba melihat bagaimana Nawāl As-Sa`dawiy mengungkapkan kalimat-kalimat pasif dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr. Dengan begitu kita bisa melihat bentuk-bentuk kalimat pasif yang beraneka-ragam, setidaknya yang terdapat dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr. Pemilihan novel ini sebagai objek penelitian ini karena dalam novel ini banyak terdapat kalimat-kalimat pasif. Kami menemukan 55 buah kalimat pasif dan 36 frasa pasif.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang kami bahas dalam penelitian ini dapat dirumuskan menjadi kalimat tanya:
Seperti apa bentuk-bentuk kalimat pasif yang terdapat dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr karya Nawāl As-Sa`dawiy ?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk kalimat pasif yang terdapat dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr karya Nawāl As-Sa`dawiy.
1.4 Landasan Teori
Dalam penelitian ini data yang kami jadikan objek penelitian berupa kalimat dan yang kami curigai sebagai kalimat pasif. Kami akan melihat bagaimana hubungan antar kata dalam kalimat atau frasa tersebut . Oleh karena itu kami menggunakan teori sintaksis. Sintaksis adalah tata bahasa yang membahas hubungan antar kata dalam tuturan (Verhaar, 1996;161). Ada tiga cara untuk mengkaji kalimat atau klausa secara sintaksis yaitu analisis fungsi, analisis peran dan analisis kategori (Verhaar, 1996;162).
Dengan ketiga analisis ini: (1) Kami menguji apakah data yang terkumpul benar-benar berupa kalimat pasif.
Hal ini bisa dilakukan dengan menemukan subjek gramatikalnya kemudian melihatnya dengan lebih jeli apakah subjek gramatikal tersebut dikenai verba atau melakukan verba yang mengisi fungsi predikat. Bila subjek gramatikal tersebut dikenai verba maka kalimat tersebut adalah kalimat pasif. Demikian sebaliknya, apabila ternyata subjek gramatikal tersebut melakukan verba maka kalimat tersebut bukan kalimat pasif. (2) Kami meneliti bagaimana struktur kalimat pasif tersebut. Apakah berbentuk jumlah ismiyah ataukah jumlah fi`liyah. Kata kategori mana yang mengisi fungsi-fungsi sintaksisnya.
1.5 Tahapan, Metode, dan Teknik Penelitian
Penelitian mempunyai tiga tahapan strategis yaitu; tahap pengumpulan dan penyediaan data, analisis data dan penyajian data.
1.5.1 Tahap pengumpulan dan penyediaan data
Data kami yang berupa kalimat-kalimat pasif kami kumpulkan dengan metode simak dengan teknik catat. Kami membaca novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr karya Nawāl As-Sa`dawiy lalu mencatat kalimat-kalimat pasif yang kami temukan ke dalam kartu data. Selanjutnya data yang terkumpul tersebut kami pilah berdasarkan struktur kalimatnya.
1.5.2 Tahap analisis data
Data yang sudah terpilah berdasarkan struktur kalimatnya kami ambil beberapa untuk dianalisisi. Proses analisis data kami lakukan dengan metode agih. Metode agih adalah metode penelitian yang alat penentunya menggunakan unsur bahasa itu sendiri (Sudaryanto, 1993:15). Lebih lanjut Sudaryanto (1993) menyebutkan bahwa metode agih mempunyai teknik dasar dan beberapa teknik lanjutan. Teknik dasarnya adalah teknik bagi unsur langsung (BUL), yaitu pembagian satuan lingual datanya menjadi beberapa bagian atau unsur.
Adapun teknik lanjutan dari metode agih ini setidaknya ada tujuh macam, yaitu; tekni lesap, teknik ganti, teknik perluasan, teknik sisip, teknik balik, teknik ubah ujud, dan teknik ulang.
Dalam penelitian ini teknik lanjutan yang kami pakai adalah teknik lesap, teknik ganti, teknik balik, dan teknik ubah ujud.
Teknik lesap kami lakukan dengan menghilangkan pelaku pada kalimat yang kami analisis. Penghilangan pelaku ini kami gunakan untuk membuktikan bahwa kalimat tersebut adalah kalimat pasif. Bila pelaku dalam kalimat itu bisa dihilangkan maka kalimat tersebut adalah kalimat pasif. Begitu juga sebaliknya. Bila pelaku kalimat tersebut tidak bisa dihilangkan (wajib hadir) maka kalimat tersebut bukan kalimat pasif.
Teknik ganti kami lakukan dengan mengganti predikat dalam kalimat yang kami analisis dengan fi`l majhūl. Teknik ini juga bisa membuktikan bahwa kepasifan suatu kalimat. Bila predikat kalimat tersebut bisa diganti dengan fi`l majhūl maka kalimat tersebut adalah kalimat pasif.
Teknik balik kami lakukan dengan membalik urutan kata penyusun kalimat yang kami analisis. Teknik ini kami lakukan pada data-data yang berupa kalimat pasif dengan maf`ūl bih muqaddam atau pengedepanan objek. Teknik bisa membuktikan apakah pengedepanan objek tersebut berfungsi menjadikan objek sebagi pelaku.
Teknik ubah ujud kami lakukan dengan mengubah kalimat yang kami analisis menjadi kalimat aktif. Bila kalimat tersebut tidak bisa diubah menjadi kalimat aktif maka perlu diragukan kepasifannya.
Keempat teknik lanjutan dari metode agih di atas kami pergunakan untuk menguji apakah data-data yang kami kumpulkan benar-benar berupa kalimat pasif.
1.5.3 Tahap penyajian data
Dalam menyajikan hasil analisis kami menggunakan metode informal dan metode formal. Metode formal adalah dengan menggunakan bahasa secara biasa sedangkan metoe informal adalah dengan menggunakan lambang-lambang (Sudaryanto, 1993:145)
1.6 Tinjauan Pustaka
1.6.1 Pustaka-pustaka yang membahas Kalimat Pasif
Topik tentang kalimat pasif merupakan topik yang menarik. Hal ini terbukti dengan banyaknya pustaka yang membahasnya. Diantaranya adalah:
1. Laporan penelitian M. Ramlan dengan judul “Masalah Aktif-pasif dalam bahasa Indonesia”, terbit tahun 1977.
2. Buku Bambang Kaswati Purwo (editor)dengan judul “Serpih-serpih Telaah pasif Bahasa Indonesia.” buku yang terbit tahun 1989 ini merupakan kumpulan tulisan beberapa ahli bahasa.
3. Buku Edi Subroto dengan judul “Konstruksi Verba Aktif-pasif dalam Bahasa Jawa”, terbit tahun 1994.
4. Buku Yulisma dengan judul “Konstruksi Verba Aktif-pasif dalam Bahasa Kerinci”, terbit tahun 1995.
5. Skripsi Dewa Putu Neki Suryana dengan judul “Kalimat Pasif dalam Bahasa Bali” tahun 2000.
Kami tidak menemukan pustaka yang membahas kalimat pasif bahasa Arab. Akan tetapi ada beberapa skripsi mahasiswa Sastra Asia Barat Fakultas Ilmu Budaya UGM yang mengambil topik fi`l majhūl (kata kerja pasif); Skripsi Darul Akhirah dengan judul Penggunaan Fi`l Majhul Dalam Novel Salamatu Al-Qas: Analisis Struktural
1.6.2 Pustaka-pustaka yang membahas novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr
Novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr pernah dibahas oleh Amin Ma’ruf dalam skripsinya yang berjudul Penanda Negasi Verba dalam Novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr: Analisis Kategori dan Peran. Dalam skripsi ini Amin Ma’ruf meneliti macam-macam verba penanda negasi verba yang digunakan oleh Nawāl As-Sa`dawiy dalam novel tersebut.
1.7 Sistematika Penyajian
Hasil penelitian ini akan kami sajikan dalam lima bab; BAB I merupakan pendahuluan yang meliputi Latar belakang, Rumusan Masalah, Tujuan penelitian, Tinjauan Pustaka, Landasan Teori, Tahapan, metode dan teknik penelitian, dan Sistematika penyajian. BAB II berisi uraian tentang fungsi-fungsi sintaksis dan struktur kalimat dalam bahasa Arab. BAB III berisi tentang struktur-struktur kalimat pasif dalam bahasa Arab. BAB IVmerupakan analisis data yaitu kalimat-kalimat pasif dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr. BAB V adalah penutup yang berisi kesimpulan hasil analisis dan saran-saran.
1.8 Pedoman Transliterasi Arab-Latin
Dalam penyusunan skripsi ini, penulisan kata-kata Arab yang penulis gunakan, berpedoman pada Pedoman Transliterasi Arab-Indonesia berdasarkan SKB Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, tertanggal 22 Januari 1988 No: 158/1987 dan 0543b/U/1987, sebagai berikut:
1.8.1 Konsonan
Huruf Arab Huruf Latin Keterangan
ا - tidak dilambangkan
ب B be
ت T te
ث S es dengan titik di atasnya
ج J je
ح H ha dengan titik di bawahnya
خ Kh huruf ka dan ha
د D de
ذ Z Zet dengan titik di atasnya
ر R er
ز Z zet
س S es
ش Sy es dan ye
ص S es dengan titik di bawahnya
ض D de dengan titik dibawahnya
ط T te dengan titik di bawahnya
ظ Z zet dengan titik di bawahnya
ع ‘ Koma terbalik
غ G ge
ف F ef
ق Q qi
ك K ka
ل L el
م M em
ن N en
و U we
ه H ha
ء ` apostrof, dipakai jika berada di tengah kalimat
ي Y ye
1.8.2 Vokal
Vokal pendek Vokal panjang Diftong
… َ… : a َا… … : ā َي … : ai
…ُ ... : u ُو … … : ū َو … : au
…ِ … : i ي ِ… … : ī
1.8.3 Ta’ Marbutah
Transliterasi untuk ta’ marbutah ada dua macam, yaitu:
1.8.3.1 Ta’ marbutah yang hidup
Ta’ marbutah yang hidup atau mendapat harakat fathah, kasrah, dan dammah trasliterasinya adalah /t/.
1.8.3.2 Ta’ marbutah yang mati
Ta’ marbutah yang mati atau mendapat harakat sukun, transliterasinya adalah /h/. Jika pada kata yang terakhir dengan ta’ marbutah diikuti oleh kata yang terakhir menggunakan kata sandang al serta bacaan kedua kata itu terpisah maka ta’ marbutah itu ditransliterasikan dengan /h/. Contoh: المدينة المنورة ditransliterasikan al-Madinah-al-Munawwarah atau al-Madinatul-Munawwarah.
1.8.4 Syaddah ( Tasydid)
Syaddah atau tasydid dalam sistem penulisan Arab dilambangkan dengan sebuah tanda syaddah atau tasydid, dalam transliterasi dilambangkan dengan huruf yang sama dengan huruf yang diberi tanda syaddah itu.
Contoh: رّبنا rabbanā.
1.8.5 Kata Sandang
Dalam sistem penulisan Arab kata sandang dilambangkan dengan ال , tetapi dalam transliterasi dibedakan menjadi dua, yaitu:
1.8.5.1 Kata sandang yang diikuti oleh huruf syamsiyah
Kata sandang yang diikuti oleh huruf syamsiyah ditransliterasikan sesuai dengan bunyinya, yaitu huruf /l/ diganti dengan huruf yang sama dengan huruf yang langsung mengikuti kata sandang itu. Contoh: الشمس asy-syamsu.
1.8.5.2 Kata sandang yang diikuti oleh huruf qamariyah
Kata sandang yang diikuti oleh huruf qamariyah ditransliterasikan sesuai dengan huruf aturan yang digariskan di depan dan sesuai pula dengan bunyinya. Contoh: القمر ditulis al-qamaru
1.8.6 Hamzah
Sebagaimana dinyatakan di depan bahwa hamzah ditransliterasikan dengan apostrof, tetapi ini hanya berlaku bagi hamzah yang terletak di tengah dan di akhir kata. Bila hamzah terletak di awal kata maka tidak dilambangkan karena dalam tulisan Arab berwujud alif. Contoh: أخذ akhaza, سأل sa’ala.
1.8.7 Penulisan Kata
Pada dasarnya setiap kata, baik fi’il, isim, dan harf ditulis terpisah. Hanya kata-kata tertentu yang penulisannya dengan huruf Arab sudah lazim dirangkaikan dengan kata lain karena ada huruf atau harakat yang dihilangkan maka dalam transliterasi ini penulisan kata tersebut dirangkaikan juga dengan kata lain yang mengikutinya. Contohوإن اللّه لهو خير الرازقين : Wa innallāha lahuwa khair al-rāziqin.
1.8.8 Huruf Kapital
Meskipun dalam sistem penulisan Arab tidak mengenal huruf kapital, tetapi dalam transliterasi ini huruf kapital ditulis sebagaimana peraturan yang ada dalam Ejaan yang Disempurnakan (EYD). Contoh: رسول وما محمد إلا Wa mā Muhammadun illā Rasul.
BAB II
FUNGSI-FUNGSI SINTAKSIS
DAN STRUKTUR KALIMAT BAHASA ARAB
Sebelum menguraikan tentang struktur kalimat pasif dalam bahasa Arab, terlebih dahulu kami uraikan batasan kalimat dalam bahasa Arab (Al-Jumlah atau al-kalam) dan fungsi-fungsi sintaksisnya
2.1 Al-Jumlah
Dalam bahasa Arab istilah kalimat disebut Al-kalam atau Al-Jumlah. Al-Kalam atau Al-Jumlah adalah susunan dari dua kata atau lebih yang mempunyai makna yang lengkap (Hasan, tt: 15) Contoh: أقبل الظيفُ ’Seorang tamu sudah tiba.’
Al-Jumlah dibagi menjadi dua; Jumlah Ismiyyah yaitu kalimat yang diawali dengan ism (Hāsimiy, tt:11). Contoh: إنّ العدل قِوام الملك ‘Keadilan adalah tiangnya kerajaan.’
Jumlah Fi`liyyah yaitu kalimat yang dimulai dengan fi`l ( Hāsimiy, tt :11). Contoh: جاء الحقُ ‘Kebenaran telah datang’
Jumlah ismiyah (kalimat nominal) tersusun dari mubtada’ + khabar. Adapun jumlah fi`liyyah (kalimat verbal) tersusun dari fi`l + fā`il + maf`ul bih.
Fi`l dalam jumlah fi`liyyah dan khabar dalam jumlah ismiyyah dimasukkan ke dalam golongan musnād. Adapun fā`il dalam jumlah fi`liyyah dan mubtada’ dalam jumlah ismiyyah dimasukkan ke dalam golongan musnād ilaih. Kedua unsur iniliah (musnād dan musnād ilaih) yang menjadi unsur pokok penyusun kalimat dalam bahasa Arab. Kedua unsur inilah yang disebut sebagai fungsi sintaksis bahasa Arab.
2.2. Fungsi-fungsi sintaksis bahasa Arab
Menurut Syihabuddin (2002: 42) Fungsi sintaksis adalah tempat yang diduduki oleh sebuah kata dalam menjalankan fungsinya. Dalam istilah Cahyono (1995: 180) fungsi mengacu pada tugas dari unsur kalimat.
Dalam bahasa Arab fungsi sintaksis ditunjukkan oleh i`rāb. I`rāb adalah perubahan akhir kata atau frase karena dimasuki ‘āmil yang berbeda-beda. Perubahan tersebut bisa berupa perubahan lafadz dan bisa juga berupa perubahan secara perkiraan (Hasyimi, tt: 27)
Menurut Badri via Syihabuddin (2002: 42-43), fungsi kata atau fungsi sintaksis bahasa Arab ada enam macam, yaitu musnād ilaih (kata atau frase yang dibiciarakan), musnād (kata yang menerangkan musnād ilaih), mukammil (keterangan atau pelengkap informasi), tābi` (yang menerangkan fungsi yang lain), rabit (penghubung antar fungsi), dan tahwil (pengubah modus kalimat).
Menurut Gulayaini(2002:604), jumlah merupakan susunan dari musnād dan musnād ilaih. Dalam jumlah fi`liyah, fungsi musnād ilaih berupa fā`il sedangkan musnād-nya berupa fi`l. Adapun dalam jumlah ismiyah, fungsi musnād ilaih dalam jumlah fi`liyah berupa mubtada’ sedangkan fungsi musnād berupa khabar.
2.3 Struktur kalimat bahasa Arab
2.3.1 Struktur jumlah fi’liyyah
Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa musnād ilaih dalam jumlah fi`liyah berupa fā`il atau nāibul fā`il sedangkan musnād-nya berupa fi`l.
2.3.1.1 Fi`l
Fi`l adalah kata yang menunjukkan pada suatu kejadian yang berkaitan dengan kala (lampau, sedang, atau akan). (Hasyimi, tt:17). Peran fi`l sebagai musnād ilaih dalam jumlah fi`liyyah bisa diisi dengan berbagai macam fi`l (kata kerja). Berdasarkan waktu, fi`l dibagi menjadi tiga macam; fi`l madhi (kata kerja lampau), fi`l mudhari` (kata kerja present atau future), fi`l ‘amr (kata kerja perintah). Contoh:
Fi`l ‘amr fi`l mudhari` fi`l madhi
قُلْ يقول قال
‘Berkatalah’ ‘Sedang berkata/akan berkata’ ‘Telah berkata’
Berdasarkan kebutuhan terhadap maf’ūl bih, fi`l dibagi menjadi dua macam; fi`l muta`addi (kata kerja intransitif), dan fi`l lāzim (kata kerja transitif). Contoh:
Fi`l Muta`addi Fi`l Lāzim
أقراء القرءان أجري
Saya membaca alquran Saya berlari
Berdasarkan fā`il-nya, fi`l dibagi menjadi dua macam; fi`l ma`lūm (kata kerja aktif), dan fi`l majhul (kata kerja pasif). Contoh:
Fi`l majhul fi`l ma`lūm
قُرِء القرءانُ قرئت القرءانَ
Alquran itu sudah dibaca Saya membaca Alquran
2.3.1. 1 Fā`il dan nāibul fā`il
Fā`il adalah ism yang di-i`rab rafa’, yang menunjukkan siapa yang melakukan fi`l atau pekerjaan yang menjadi musnād-nya. Adapun Nāibul Fā`il adalah pengganti fā`il apabila fi`l-nya berupa fi`l majhul. Jadi nāibul fā`il adalah ism yang dibaca rafa’ yang didahului oleh fi`l majhūl (Hasyimi, tt;120). Contoh:
Nāibul fā`il Fā`il
قُرِء القرءانُ قرأ الطالبُ القرءانَ
‘Alquran itu sudah dibaca’ ‘Mahasiswa membaca alquran’
Peran fā`il atau nā’ibul fā`il sebagai musnād dalam jumlah fi`liyyah bisa diisi oleh ism. Ism adalah kata yang menunjuk pada sesuatu yang dinamai atau suatu makna yang tidak berkaitan dengan kala. Ism dibagi menjadi tiga macam; mudhar (yaitu ism yang menunjuk pada maknanya tanpa membutuhkan qarinah, mudmar, dan mudham (Hasyimi, tt:16) Contoh:
Mudhar Mudmar Mubham
سعد أنا هذا
‘Saad’(nama orang) ‘Saya’ ‘Ini’
Peran fā`il atau nā’ibul fā`il sebagai, musnād dalam jumlah fi`liyyah bisa diisi ism mudmar (kata ganti) atau ism mudhar.
2.3.2 Struktur jumlah ismiyyah
Sebagaimana telah kami uraiakan sebelumnya bahwa jumlah ismiyyah (kalimat nominal) tersusun dari mubtada’ sebagai musnād ilaih-nya dab khabar sebagai musnād-nya. Mubtada dan khabar merupakan dua ism yang membentuk suatu jumlah mufidah (kalimat lengkap). Mubtadā’ adalah musnād ilaih yang tidak didahului oleh suatu `āmil sedangkan khabar adalah yang menerangkan mubtada’. (Gulayaini, 2002:348-349)
Jadi ada lima macam struktur dasar bahasa Arab:
Jumlah fi`liyyah dengan fi`l ma`lūm model I
Urutan 3 2 1
Fungsi Mukammil Musnād ilaih Musnād
Peran Mafūl bih Fā`il Fi’l
Kategori Ism ism Fi’l ma’lūm muta`addiy
Contoh القرءانَ الطالبُ قرأَ
Jumlah fi`liyyah dengan fi`l ma`lūm model II
Urutan 2 1
Fungsi Musnād ilaih Musnād
Peran Fā`il Fi’l
Kategori Ism Fi’l ma’lūm
Contoh الطالب يجري
Jumlah fi`liyyah dengan fi`l majhūl
Urutan 2 1
Fungsi Musnād ilaih Musnād
Peran Nāibul fā`il Fi’l
Kategori Ism Fi’l majhūl
Contoh القرءانُ قُرِء
Jumlah ismiyyah mufrad
Urutan 2 1
Fungsi Musnād ilaih Musnād
Peran khabar Mubtada’
Kategori Ism Ism
Contoh طالبٌ أنا
Jumlah ismiyyah dengan khabar jumlah
Urutan 2 1
Fungsi Musnād ilaih Musnād
Peran Khabar jumlah Mubtada’
Kategori Ism Ism Fi`l Ism
Contoh قرئتُه القرءان
هُ تُ قرأ
BAB III
KALIMAT PASIF DALAM BAHASA ARAB
Kalimat pasif dalam bahasa Arab tidak hanya bisa berbentuk kalimat verbal (jumlah fi`liyyah) tapi juga kalimat nominal (jumlah ismiyyah).
3.1 Kalimat Pasif dalam Bentuk Jumlah fi`liyyah
3.1.1 Kalimat Pasif dengan Fi`l Majhūl
Sebagaimana telah kami sebutkan di dalam BAB I, fi`l majhūl adalah fi`l (kata kerja) yang fā`il (pelaku)-nya tidak disebut dalam kalimat, melainkan dibuang karena suatu alasan (Ghulayaini, 1992:105). Fi`l majhūl dibentuk dari fi`l ma’lum dengan mengubah beberapa harakatnya. Untuk membentuk fi`l madhi majhūl huruf sebelum terakhir harakatnya diganti kasrah, dan semua huruf yang hidup yang berada di depannya, harakatnya diganti dengan dhommah (Ghulayaini, 1992:105). Contoh:
Fi`l Ma’lūm Fi`l Majhūl
‘memukul’ ‘dipukul’
Adapun untuk membentuk fi`l mudori majhūl maka harakat huruf yang pertama diganti dengan dommah dan harakat huruf sebelum akhir diganti dengan fathah (Ghulayaini, 1992:105). Contoh:
Fi`l Ma’lūm Fi`l Majhūl
‘memukul’ ‘dipukul’
Fi`l majhūl hanya bisa dibentuk dari fi`l muta’addi, tidak bisa dibentuk dari fi`l lazim (Ghulayaini, 1992:106). Fi`l muta’addi (kata kerja transitif) adalah fi`l yang membutuhkan maf`ūl bih (Ghulayaini, 1992:98). Adapun fi`l lazim adalah fi`l yang tidak membutuhkan maf`ūl bih (Ghulayaini, 1992:102). Contoh:
Fi`l lazim Fi`l Muta`adiy
‘Suratku sudah hilang’ ‘Saya menyaksikan televisi’
Akan tetapi kadang ada juga fi`l majhūl yang dibentuk dari fi`l lazim. Hal ini diperbolehkan dengan syarat subjek gramatikalnya berupa mashdar atau daraf (Ghulayaini, 1992:106). Contoh: سُهِرَ سَهَرٌ طَوِيلٌ ‘Suatu malam yang panjang dibegadangi’
Karena fi`l majhūl adalah fi`l yang fā`il-nya tidak disebut, maka kalimat pasif dengan fi`l majūl adalah kalimat pasif yang pelakunya tidak disebut. Kalimat قرئتُ القراء نَ ‘Saya telah membaca Alquran’ tidak bisa dipasifkan dengan menggunakan fi`l majhūl kecuali bila pelakunya dihilangkan. Apabila pelakunya tetap disebutkan maka bisa menggunakan fi`l ma`lūm tapi dengan struktur yang berbeda. Inilah pola kalimat pasif yang akan kami uraikan pada point 3.2.1
2.1.2 Kalimat Pasif dengan Fi`l Mutawa`ah
Ada tiga pola fi`l yang berfungsi mutawa`ah yaitu fi`l berpola افْتَعَلَ, انْفَعَل تَفَعلَ . Fi`l yang mengikuti pola افْتَعَل antara lain berfungsi sebagai mutawa`ah dari fi`l yang berpola فعل (Ma’shum, tt, 22-23) Contoh: جمعتُ الإ بلَ فاجْتمع ‘Saya mengumpulkan onta, maka terkumpullah onta tersebut.’
Fi`l yang mengikuti mengikuti polaانْفَعَل antara lain berfungsi sebagai mutawa`ah dari fi`l yang berpola فعل dan juga mutawa`ah dari fi`l yang berpola أفعل (tapi jarang) (Ma’shum,tt 24-25). Contoh: كسرْتُ الزجاجَ فا نكسر ‘Saya memecah kaca maka terpecahlah kaca tersebut.
Fi`l yang mengikuti pola تَفَعلَ antara lain berfungsi sebagi mutawa`ah dari fi`l yang berpola فعل (Ma’shum, tt: 20-21). Contoh: كسّرْتُ الزجاجَ فتكسّر ‘Saya memecahkan pecah maka terpecahkanlah kaca tersebut.’
Fi`l mutāwa`ah juga bisa digunakan dalam kalimat pasif dalam bentuk jumlah ismiyyah. Lihat point 3.2.4
3.2 Kalimat Pasif dalam Bentuk Jumlah Ismiyyah
3.2.1 Kalimat Pasif dengan Fi`l Ma`lūm sebagai khabar
Kalimat pasif dengan pola ini merupakan kalimat pasif yang dibentuk dengan pentopikan objek. Hal ini dilakukan dengan menjadikan jumlah fi`liyyah (fi`l maklum dan fa`il-nya) menjadi khabar sedangkan objek (mafūl bih)-nya dijadikan mubtada’.
Maf`ūl bih adalah isim yang menunjukkan terjadi atau tidak terjadinya perbuatan yang dilakukan oleh fā`il. (Ghulayaini, 2003: 412). Maf`ūl bih (objek langsung) hanya kita temui dalam jumlah fi`liyyah yang menggunakan fi`l ma`lūm yang muta`addi. Contoh: قرئتُ القراء نَ ‘Saya telah membaca Alquran’.
Untuk memahami pola kalimat pasif ini kita perlu melihat struktur asal jumlah fi`liyyah. Menurut Gulayaini (2003:413) Dalam jumlah fi`liyyah, fā`il berjajar langsung dengan fi`l-nya setelah itu baru diikuti maf`ūl bih. Dengan struktur asal seperti itu, yang menjadi orientasi atau yang diterangkan (musnād ilaih) adalah fā`il bukan maf’ūl bih (objek). Sedangkan dalam kalimat pasif yang menjadi orientasi adalah maf’ūl bih. Jadi untuk membentuk kalimat pasif dengan fi`l ma`lūm kita harus menjadikan maf`ūl bih-nya menjadi musnād ilaih yaitu dengan menempatkannya sebagai mubtada’. Adapun fi`il dan fā`il-nya dijadikan sebagai khabar jumlah. Khabar jumlah adalah khabar yang berbentuk kalimat (jumlah) baik berupa jumlah fi`liyyah ataupun jumlah ismiyyah (Gulayaini, 2002:355). Lihat contoh perubahan kalimat aktif menjadi pasif berikut ini:
Aktif قراءْتُ القرءانَ ‘Saya telah membaca Alquran
pasif القرءان قرئْتُهُ ‘Alquran telah kubaca’
Pola kalimat pasif semacam ini juga bisa menggunakan fi`l majhūl. Lihat point 3.2.2
3.2.2 Kalimat Pasif dengan Fi`l Majhūl sebagai Khabar
Kalimat pasif model ini merupakan jumlah ismiyyah dengan khabar jumlah yang diisi dengan fi`l majhūl dan nā`ibul fā`il berupa damir mustatir yang merujuk ke mubtada’. Contoh: أوْرق الشاي تُبَذلُ بعد القطف ‘Daun-daun the dialumkan setelah pemetikan’ (Hasanah, 1998:28)
3.2.3 Kalimat Pasif dengan Ism Maf`ūl sebagai khabar
Menurut Gulayaini (1992:112) Ism maf`ūl adalah ism yang diambil dari ‘sesuatu yang dipukul’.
Ism maf`ūl dari fi`l śulāśiy mujarrad dibentuk dengan pola مفعولٌ contoh: مكتوبٌ‘sesuatu yang ditulis’. Adapun yang selain dari śulāśiy mujarrad dibentuk berdasarkan lafal fi`l mudari`-majhūl-nya. Huruf mudhori`-nya diganti Mim dan diharakat dammah. Contoh:مستَغْفَرٌ ‘sesuatu yang diampuni’. Ada juga ism maf`ūl yang sama dengan ism fā`il. Contoh: مختارٌ ‘yang memilih atau yang dipilih’(Ghulayaini, 2003:135).
3.2.4 Kalimat Pasif dengan Fi`l Mutāwa`ah sebagai Khabar
Kalimat pasif model ini meletakkan fā`il dari fi`l mutāwa`ah sebagai mutada’. Adapun fi`l mutāwa`ah-nya sendiri menjadi khabar jumlah. Contoh: الحبل انقطع ‘Tali itu terputus’.
BAB IV
PEMEBAHASAN KALIMAT PASIF
DALAM NOVEL IMRĀ’ATU `INDA NUQTATI AS-SIFR
Sebagaimana telah kami uraikan pada bab III bahwa kalimat pasif dalam bahasa Arab ada yang berbentuk kalimat verbal (jumlah fi`liyyah) dan ada juga yang berbentuk kalimat nominal (jumlah ismiyyah). Kalimat Pasif dalam bentuk Jumlah fi`liyyah dibagi menjadi dua macam, yaitu: Kalimat Pasif dengan Fi`l Majhūl dan Kalimat Pasif dengan Fi`l Mutawa`ah
Adapun Kalimat Pasif dalam Bentuk Jumlah Ismiyyah dibagi menjadi 4 macam, yaitu: Kalimat Pasif dengan Fi`l Ma`lūm sebagai khabar, Kalimat Pasif dengan Fi`l Majhūl sebagai Khabar , Kalimat Pasif dengan Ism Maf`ūl sebagai khabar, Kalimat Pasif dengan Fi`l Mutāwa`ah sebagai Khabar
Dalam novel Imrāatu `Inda Nuqtati As-Sifr kami menemukan 36 kalimat pasif. Data tersebut kami kelompok-kelompokkan berdasarkan struktur kalimatnya sesuai dengan 6 jenis kalimat pasif di atas. Tiap kelompok akan kami ambil tiga data sebagai sampel untuk dianalisis. Akan tetapi ada beberapa jenis kalimat pasif yang datang hanya ada satu atau dua buah kalimat.
Sampel-sampel tersebut akan kami analisis dengan teknik ubah ujud. Teknik kami lakukan dengan mengubah data menjadi kalimat aktif. Dengan begitu kita bisa membuktikan bahwa kalimat tersebut benar-benar berupa kalimat pasif. Setelah itu data akan dianalisis lebih kanjut dengan teknik lesap. Dengan teknik ini kita bisa melihat unsur-unsur inti penyusun kalimat pasif tersebut.
4.1 Kalimat Pasif dalam Bentuk Jumlah fi`liyyah
4.1.1 Kalimat Pasif dengan Fi`l Majhūl sebagai musnad
1. (السعدوي, 24:1989) أيُمكن أنْ يوْلدَ الانسانُ مرّتين
‘Mungkinkah manusia dilahirkan dua kali?’
2. (السعدوي, 88:1989) قدْ وُلدْتُ أنا
‘Aku benar-benar telah dilahirkan.’
3. (السعدوي, 29:1989) يُطْفَؤُ نوْر العنْبَر
‘Lampu gudang itu dipadamkan.’
Ketiga kalimat di atas adalah kalimat pasif. Salah satu yang menunjukkan hal tersebut adalah bahwa kalimat-kalimat tersebut mempunyai bentuk aktif. Bentuk aktif dari kalimat (1), (2), dan (3) adalah kalimat (1a), (2a), dan (3a).
1b. أيُمكن أنْ تلدَ الأمُّ الإنسانَ مرّتين
‘Mungkinkah ibu melahirkan melahirkan dua kali?’
2b. قد ولدَتْني الأمُّ
‘Ibu benar-benar telah melahirkanku.’
3b. يُطْفِؤُ الحارسُ نورَ العنْبَرِ
‘Penjaga itu memadamkan lampu gudang.’
Selanjutnya data akan dianalisis dengan teknik lesap untuk mengetahui unsur-unsur intinya. Menurut sebagaimana kami sebutkan dalam bab II bahwa unsur inti kalimat adalah musnād dan musnād ilaih. Berdasarkan kalimat ini berarti unsur-unsur selain musnād dan musnād ilaih bisa dilesapkan dan kalimat tersebut tetap gramatikal. Hal ini akan kita uji dengan teknik lesap.
1c. Ø يوْلدَ الانسانُ Ø
‘Mungkinkah manusia dilahirkan dua kali?’
2c. Ø وُلدْتُ Ø
‘Aku benar-benar telah dilahirkan.’
1d. أيُمكن أنْ يوْلدَ الانسانُ مرّتين
‘Mungkinkah manusia dilahirkan dua kali?’
2d. قدْ وُلدْتُ أنا
‘Aku benar-benar telah dilahirkan.’
3c. يُطْفَؤُ نوْر العنْبَر
‘Lampu gudang itu dipadamkan.’
Kata tanya ( أ), يُمكن, harf أنْ, dan kata مرّتين dalam kalimat (1) bisa dilesapkan tanpa menghilangkan kegramatikalan kalimat. Hal ini karena kata-kata (baik ism, harf, ataupun fi`l) tersebut tidak menempati fungsi sintaksis yang inti.
2.1.2 Kalimat Pasif dengan Fi`l Mutawa`ah
2.1.2.1 Kalimat pasif dengan fi`l yang berpola
Dalam novel Imrā’atun `Inda Nuqtati As-Sifr kami menemukan……..buah kalimat pasif yang menggunakan fi`l انفعل sebagai pengisi fungsi musnād ilaih.
4. (السعدوي, 35:1989) انْفرَجَتْ سفتاي
‘Kedua bibirku terbuka’
5. (السعدوي, 80:1989) انقطع صوتهُ
‘Suaranya terpotong’
6. (السعدوي, 83:1989) اندفع الدم الى رأسي
‘Darah itu terdorong ke kepalaku’
Untuk membuktikan kepasifannya, ketiga data di atas kami analisis dengan teknik ubah ujud menjadi kalimat aktif.
4.a فرجْتُ سفتي
‘Aku membuka kedua bibirku’
5.a قطع عليٌ صوتَه
‘Ali memotong suaranya’
6.a دفع الغضبُ الدم الى رأسي
‘Kemarahan mendorong darah ke kepalaku’
Dari hasil analisis dia tas kita bisa melihat bhawa kalimat 4, 5, dan 6 bisa diubah menjadi kalimat aktif (4a. 5a, dan 6a) berarti ketiga data tersebut benar-benar berupa kalimat aktif. Selanjutnya data akan dianalisis dengan teknik lesap untuk mengetahui unsur-unsur intinya.
2.1.2 .2 Kalimat pasif dengan fi`l yang berpola افتعل
Dalam novel Imrā’atun `Inda Nuqtati As-Sifr kami hanya menemukan satu buah kalimat pasif yang menggunakan fi`l افتعل sebagai pengisi fungsi musnād ilaih.
7. (السعدوي, 60:1989) إنتقض جسدي فوق المقعد
‘Tubuhku terhempas di atas bangku’
Kalimat 7 adalah kalimat pasif. Salah satu yang menunjukkan kepasifannya adalah dia mempunyai bentuk aktif, yaitu 7a
7.a إنتقض جسدي فوق المقعد
‘Aku menghempaskan tubuhku di atas bangku.’
Struktur kalimat 7 adalah sebagai berikut.
فوق المقعد جسدي إنتقض
مكمّل مسناد اليه مسناد
جار مجرور فاعل فعل
3.2 Kalimat Pasif dalam Bentuk Jumlah Ismiyyah
3.2.1 Kalimat Pasif dengan Fi`l Ma`lūm sebagai khabar
8. (السعدوي, 24:1989) هذا الفستان القصير والحذاءُ إشتراها لي عمّي
‘Gaun kecil dan sepatu ini dibeli oleh pamanku untukku.’
9. (السعدوي, 59:1989) البيوت تحوطها أسوارٌ
‘Rumah-rumah itu dikelilingi pagar.’
Bentuk aktifnya
8.a إشترا لي عمّي هذا الفستانَ القصير والحذاءَ
‘Pamanku membelikanku gaun kecil dan sepatu ini.’
9.a تحوط أسوارٌ البيوتَ
‘Pagar-pagar itu mengelilingi rumah.’
2.2.2 Kalimat Pasif dengan Fi`l Majhūl sebagai Khabar
10. (السعدوي, 33:1989) النوافذُ أُغْلِقَتْ
‘Jendela-jendela itu telah ditutup.’
11. (السعدوي, 80:1989) الكلمة قد نُفِذتْ كالسهم إلى رأسي
‘Kata yang seperti belati itu ditusukkan ke kepalaku.’
12. (السعدوي, 85:1989) الواحدة منهنّ تُنْقِل إلى مكان آخر
‘Salah satu diantara mereka dipindahkan ke tempat yang lain.’
Bentuk aktifnya
10.a أغْلقَ الحارسُ النوافذ
‘Penjaga menutup jendela-jendela itu.’
11.a نفذ الرجلُ الكلمة كالسهم إلى رأسي
‘Laki-laki itu menusukkan kata yang seperti belati itu ke kepalaku.’
12.a ينقَل الرجلُ الواحدة منهنّ إلى مكان آخر
‘Lelaki itu memindah salah seorang diantara mereka ke tempat yang lain.’
2.2.3 Kalimat Pasif dengan Ism Maf`ūl sebagai khabar
13. (السعدوي, 17:1989) شعري مصفّفٌ عند حلاقٍ
‘Rambutku dirawat di salon.’
14. (السعدوي, 70:1989) النوافذُ والأبوابُ مغلقة
‘Jendela-jendela dan pintu-pintu itu tertutup.’
15. (السعدوي, 80:1989) يدايّ مرفوعتين
‘Kedua tanganku terangkat.’
Bentuk aktifnya
13.a صفّفتُ شعري عند حلاق
‘Kurawat rambutku di salon.’
14.a تغلق النوافذَ والأبوابَ
‘Kau menutup jendela-jendela dan pintu-pintu itu.’
15.a رفعْتُ يديّ
‘Aku mengangkat kedua tanganku.’
2.2.4 Kalimat Pasif dengan Fi`l Mutāwa`ah sebagai Khabar
2.2.4.1 Kalimat pasif dengan fi`l yang berpola انفعل
16. (السعدوي, 18:1989) جلبابي انحسر عن فخذي
'Galabeyaku tersingkap dari pahaku.’
17. (السعدوي, 47:1989) عالم آخر ينفتح أمامي
‘Alam lain terbuka di depanku.’
18. (السعدوي, 85:1989) جسدي ينضغطُ بين الأجساد في الأتوبيس
‘Tubuhku terhimpit diantara tubuh-tubuh di bus.’
Bentuk aktifnya
16.a عمّي حسر جلبابي عن فخذي
‘Pamanku menyingkap galabeyaku dari pahaku.’
17.a العلم فتح عالَماً آخر أمامي
‘Pengetahuan itu membuka alam lain di depanku.’
18.a الناس يضْغطون جسدي بين الأجساد في الأتوبيس
‘Orang-orang menghimpit tubuhku diantara tubuh-tubuh di bus.’
Saturday, April 17, 2004
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ada berbagai jenis kalimat yang kita kenal. Diantaranya adalah kalimat aktif dan kalimat pasif. Kalimat aktif adalah kalimat yang subjek gramatikal verbanya melakukan suatu kegiatan atau proses (Samsuri, 1981;12), contoh: Saya menulis surat
Adapun kalimat pasif adalah kalimat yang subjek gramatikal verbanya menderita atau dikenai verba itu (Samsuri, 1981;13), contoh: Surat itu dibuang. Surat itu ditulis dengan pensil. Surat itu kutulis dengan pensil
Kalimat pasif dalam beberapa bahasa seperti Indonesia dan Inggris menggunakan kata kerja pasif sebagai predikatnya. Hal ini juga berlaku di dalam bahasa Arab. Perhatikan ketiga kalimat di bawah ini:
(Indonesia) Ikan asin dimakan kucing
(Inggris) I was hit by my parent ‘Aku dipukul oleh orang tuaku’
(Arab) Quri’a Al-kitab ‘Buku itu sudah dibaca’
Jadi ada kata kerja bisa dibagi menjadi dua macam; aktif dan pasif. Ketiga kata kerja dalam kalimat-kalimat diatas berbeda dengan kata kerja aktifnya (memakan, hit, Qara`a). Lihat tabel berikut ini.
Kata kerja aktif Kata kerja pasif
Memakan Dimakan
Hit ‘memukul’ Was hit ‘dipukul’
Qara`a Quri’a
Dalam A Dictionary of Theoritical Lingustics English-Arabic (Ali, 1922) dan Mu`jamu Al-istilāhatu Al-Arabiyyati Fi Al-Lugati Wal-Adab (Mahdi,tt) padanan kata kerja aktif (active verb) adalah fi`l ma`lūm sedangkan kata kerja pasif (passive Verb) padanannya adalah fi`l majhūl. Fi`l ma´lum adalah kata kerja yang fā`il-nya disebutkan dalam kalimat (Ghulayaini, 1912;104), sedangkan fi`l majhūl adalah kata kerja yang fā’il-nya tidak disebut dalam kalimat (dihilangkan) dengan tujuan tertentu (Ghulayaini, 1912;104). Kalimat aktif bisa dibentuk dengan menggunakan fi`l ma´lum sebagai predikatnya sedangkan kalimat pasif bisa dibentuk dengan menggunakan fi`l majhūl. Contoh: -Kalimat aktif: Qara’tu Al-Qur`ān ‘Saya sudah membaca Al-Quran’
-Kalimat pasif: Quri’a Al-Qur`ān ‘Al-Quran itu sudah dibaca’
Akan tetapi kita perlu memperhatikan kedua kalimat di atas secara lebih jeli. Ternyata pelaku dalam kalimat aktif di atas (kata ganti orang pertama: Tu ‘Saya’) tidak muncul dalam kalimat pasifnya. Hal ini karena kalimat tersebut menggunakan fi`l majhūl sebagai predikatnya sehingga pelakunya harus dihilangkan (tidak disebut dalam kalimat).
Uraian di atas menunjukkan bahwa fi`l majhūl hanya bisa digunakan untuk membentuk kalimat pasif yang tanpa pelaku. Jadi kalimat pasif yang memunculkan pelakunya tidak bisa dibentuk dengan fi`l majhūl sebagai perdikatnya.
Bila kita ingin membentuk kalimat pasif dengan tanpa menyembunyikan pelakunya maka kita harus menggunakan fi`l ma´lum sehingga kalimat di atas menjadi:
Al-Qur’ānu qara’tuhu
‘Alquran itu sudah kubaca’
Dalam buku-buku Nahwu dan Sarf kami tidak menemukan pembahasan secara khusus dan menyeluruh tentang kalimat pasif. Kami hanya menemukannya dalam bab tentang fi`l majhūl tapi dalam bab tersebut tidak ada pembahasan tentang bentuk kalimat pasif yang pelakunya dimunculkan atau bentuk-bentuk kalimat pasif yang lain. Akan tetapi hal ini tentu tidak berarti kalimat pasif dalam bahasa Arab selalu tidak menyebut pelaku.
Kita bisa menemukan kalimat-kalimat pasif dalam berbagai teks berbahasa Arab. Ada beberapa bentuk kalimat pasif yang tidak menggunakan fi`l majhūl. Contoh:
-Hādihi At-talabatu qad wāfaqaha al-`amidu (Hasanah, 1998: 4)
‘Permintaan ini telah disetujui oleh dekan’
-Al-miyāhu tanqasimu `ala arba`ati ‘aqsāmin (Syamsuddin, tt: 3)
‘Air terbagi menjadi empat jenis’
‘Idā māta ibnu ādam inqata`a amaluhu ‘illā..... (al-Hadis)
‘Apabila anak adam telah meninggal maka terputuslah amalnya’
Kalimat-kalimat di atas menunjukkan bahwa ada bentuk-bentuk kalimat pasif yang tidak menggunakan fi`l majhūl. Hal ini menarik untuk diteliti lebih lanjut. Apakah kalimat pasif bisa dibentuk tanpa menggunakan fi`l majhūl. Untuk itu kami mencoba melihat bagaimana Nawāl As-Sa`dawiy mengungkapkan kalimat-kalimat pasif dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr. Dengan begitu kita bisa melihat bentuk-bentuk kalimat pasif yang beraneka-ragam, setidaknya yang terdapat dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr. Pemilihan novel ini sebagai objek penelitian ini karena dalam novel ini banyak terdapat kalimat-kalimat pasif. Kami menemukan 55 buah kalimat pasif dan 36 frasa pasif.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang kami bahas dalam penelitian ini dapat dirumuskan menjadi kalimat tanya:
Seperti apa bentuk-bentuk kalimat pasif yang terdapat dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr karya Nawāl As-Sa`dawiy ?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk kalimat pasif yang terdapat dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr karya Nawāl As-Sa`dawiy.
1.4 Landasan Teori
Dalam penelitian ini data yang kami jadikan objek penelitian berupa kalimat dan yang kami curigai sebagai kalimat pasif. Kami akan melihat bagaimana hubungan antar kata dalam kalimat atau frasa tersebut . Oleh karena itu kami menggunakan teori sintaksis. Sintaksis adalah tata bahasa yang membahas hubungan antar kata dalam tuturan (Verhaar, 1996;161). Ada tiga cara untuk mengkaji kalimat atau klausa secara sintaksis yaitu analisis fungsi, analisis peran dan analisis kategori (Verhaar, 1996;162).
Dengan ketiga analisis ini:
1. Kami menguji apakah data yang terkumpul benar-benar berupa kalimat pasif.
Hal ini bisa dilakukan dengan menemukan subjek gramatikalnya kemudian melihatnya dengan lebih jeli apakah subjek gramatikal tersebut dikenai verba atau melakukan verba yang mengisi fungsi predikat. Bila subjek gramatikal tersebut dikenai verba maka kalimat tersebut adalah kalimat pasif. Demikian sebaliknya, apabila ternyata subjek gramatikal tersebut melakukan verba maka kalimat tersebut bukan kalimat pasif.
2. Kami meneliti bagaimana struktur kalimat pasif tersebut. Apakah berbentuk jumlah ismiyah ataukah jumlah fi`liyah. Kata kategori mana yang mengisi fungsi-fungsi sintaksisnya.
1.5 Tahapan, Metode, dan Teknik Penelitian
Penelitian mempunyai tiga tahapan strategis yaitu; tahap pengumpulan dan penyediaan data, analisis data dan penyajian data.
1.5.1 Tahap pengumpulan dan penyediaan data
Data kami yang berupa kalimat-kalimat pasif kami kumpulkan dengan metode simak dengan teknik catat. Kami membaca novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr karya Nawāl As-Sa`dawiy lalu mencatat kalimat-kalimat pasif yang kami temukan ke dalam kartu data. Selanjutnya data yang terkumpul tersebut kami pilah berdasarkan struktur kalimatnya.
1.5.2 Tahap analisis data
Data yang sudah terpilah berdasarkan struktur kalimatnya kami ambil beberapa untuk dianalisisi. Proses analisis data kami lakukan dengan metode agih. Metode agih adalah metode penelitian yang alat penentunya menggunakan unsur bahasa itu sendiri (Sudaryanto, 1993:15). Lebih lanjut Sudaryanto (1993) menyebutkan bahwa metode agih mempunyai teknik dasar dan beberapa teknik lanjutan. Teknik dasarnya adalah teknik bagi unsur langsung (BUL), yaitu pembagian satuan lingual datanya menjadi beberapa bagian atau unsur.
Adapun teknik lanjutan dari metode agih ini setidaknya ada tujuh macam, yaitu; tekni lesap, teknik ganti, teknik perluasan, teknik sisip, teknik balik, teknik ubah ujud, dan teknik ulang.
Dalam penelitian ini teknik lanjutan yang kami pakai adalah teknik lesap, teknik ganti, teknik balik, dan teknik ubah ujud.
Teknik lesap kami lakukan dengan menghilangkan pelaku pada kalimat yang kami analisis. Penghilangan pelaku ini kami gunakan untuk membuktikan bahwa kalimat tersebut adalah kalimat pasif. Bila pelaku dalam kalimat itu bisa dihilangkan maka kalimat tersebut adalah kalimat pasif. Begitu juga sebaliknya. Bila pelaku kalimat tersebut tidak bisa dihilangkan (wajib hadir) maka kalimat tersebut bukan kalimat pasif.
Teknik ganti kami lakukan dengan mengganti predikat dalam kalimat yang kami analisis dengan fi`l majhūl. Teknik ini juga bisa membuktikan bahwa kepasifan suatu kalimat. Bila predikat kalimat tersebut bisa diganti dengan fi`l majhūl maka kalimat tersebut adalah kalimat pasif.
Teknik balik kami lakukan dengan membalik urutan kata penyusun kalimat yang kami analisis. Teknik ini kami lakukan pada data-data yang berupa kalimat pasif dengan maf`ūl bih muqaddam atau pengedepanan objek. Teknik bisa membuktikan apakah pengedepanan objek tersebut berfungsi menjadikan objek sebagi pelaku.
Teknik ubah ujud kami lakukan dengan mengubah kalimat yang kami analisis menjadi kalimat aktif. Bila kalimat tersebut tidak bisa diubah menjadi kalimat aktif maka perlu diragukan kepasifannya.
Keempat teknik lanjutan dari metode agih di atas kami pergunakan untuk menguji apakah data-data yang kami kumpulkan benar-benar berupa kalimat pasif.
1.5.3 Tahap penyajian data
Dalam menyajikan hasil analisis kami menggunakan metode informal dan metode formal. Metode formal adalah dengan menggunakan bahasa secara biasa sedangkan metoe informal adalah dengan menggunakan lambang-lambang (Sudaryanto, 1993:145)
1.6 Tinjauan Pustaka
1.6.1 Pustaka-pustaka yang membahas Kalimat Pasif
Topik tentang kalimat pasif merupakan topik yang menarik. Hal ini terbukti dengan banyaknya pustaka yang membahasnya. Diantaranya adalah:
1. Laporan penelitian M. Ramlan dengan judul “Masalah Aktif-pasif dalam bahasa Indonesia”, terbit tahun 1977.
2. Buku Bambang Kaswati Purwo (editor)dengan judul “Serpih-serpih Telaah pasif Bahasa Indonesia.” buku yang terbit tahun 1989 ini merupakan kumpulan tulisan beberapa ahli bahasa.
3. Buku Edi Subroto dengan judul “Konstruksi Verba Aktif-pasif dalam Bahasa Jawa”, terbit tahun 1994.
4. Buku Yulisma dengan judul “Konstruksi Verba Aktif-pasif dalam Bahasa Kerinci”, terbit tahun 1995.
5. Skripsi Dewa Putu Neki Suryana dengan judul “Kalimat Pasif dalam Bahasa Bali” tahun 2000.
Kami tidak menemukan pustaka yang membahas kalimat pasif bahasa Arab. Akan tetapi ada beberapa skripsi mahasiswa Sastra Asia Barat Fakultas Ilmu Budaya UGM yang mengambil topik fi`l majhūl (kata kerja pasif); Skripsi Darul Akhirah dengan judul Penggunaan Fi`l Majhul Dalam Novel Salamatu Al-Qas: Analisis Struktural
1.6.2 Pustaka-pustaka yang membahas novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr
Novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr pernah dibahas oleh Amin Ma’ruf dalam skripsinya yang berjudul Penanda Negasi Verba dalam Novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr: Analisis Kategori dan Peran. Dalam skripsi ini Amin Ma’ruf meneliti macam-macam verba penanda negasi verba yang digunakan oleh Nawāl As-Sa`dawiy dalam novel tersebut.
1.7 Sistematika Penyajian
Hasil penelitian ini akan kami sajikan dalam lima bab; BAB I merupakan pendahuluan yang meliputi Latar belakang, Rumusan Masalah, Tujuan penelitian, Tinjauan Pustaka, Landasan Teori, Tahapan, metode dan teknik penelitian, dan Sistematika penyajian. BAB II berisi uraian tentang fungsi-fungsi sintaksis dalam bahsa Arab. BAB III berisi tentang batasan-batasan kalimat pasif dalam bahasa Arab. BAB IV merupakan analisis data yaitu kalimat-kalimat pasif dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr. BAB V adalah penutup yang berisi kesimpulan hasil analisis dan saran-saran.
BAB II
AL-JUMLAH DAN FUNGSI-FUNGSI SINTAKSISNYA
2.1 Al-Jumlah
Dalam bahasa Arab istilah kalimat disebut Al-kalam atau Al-Jumlah. Al-Kalam atau Al-Jumlah adalah susunan dari dua kata atau lebih yang mempunyai makna yang lengkap (Hasan, tt: 15) Contoh:
‘Aqbala dhoifun.
’Seorang tamu sudah tiba.’
Al-Jumlah dibagi menjadi dua; Jumlah Ismiyyah yaitu kalimat yang diawali dengan ism seperti: Inna Al-`Adla Qiwāmu Al-Muluki ‘Keadilan adalah tiangnya kerajaan.’ dan jumlah fi`liyah. Jumlah Fi`liyyah yaitu kalimat yang dimulai dengan fi`l seperti: Jā’a Al-Haqqu ‘Kebenaran telah datang’ ( Hāsimiy, tt:11)
Jumlah ismiyah bisa disamakan dengan kalimat nominal sedangkan jumlah fi`liyah bisa disamakan dengan kalimat verbal. Jumlah ismiyah terdiri dari mubtada’ + khabar. Adapun jumlah ismiyah tersusun dari fi`l + fā`il + maf`ul bih. Kiranya perlu kita lihat terlebih dahulu fungsi-fungsi sintaksis bahasa Arab.
2.2. Fungsi-fungsi sintaksis bahasa Arab
Menurut Verhaar (1996:165) fungsi “induk” dalam sebuah klausa (kalimat tunggal) adalah predikat.
Fungsi mengacu ke tugas unsur kalimat (Cahyono, 1995: 180)
Menurut Syihabuddin (2002: 42) Fungsi sintaksis adalah tempat yang diduduki oleh sebuah kata dalam menjalankan fungsinya. Dalam istilah Cahyono ( 1995: 180) fungsi adalah tugas dari unsur kalimat.
Dalam bahasa Arab fungsi sintaksis ditunjukkan oleh i`rāb. I`rāb adalah perubahan akhir kata atau frase karena dimasuki ‘āmil yang berbeda-beda. Perubahan tersebut bisa berupa perubahan lafadz dan bisa juga berupa perubahan secara perkiraan (Hasyimi, tt: 27)
Fungsi kata atau fungsi sintaksis bahasa Arab ada enam macam, yaitu musnād ilaih (kata atau frase yang dibciarakan), musnād (kata yang menerangkan musnād ilaih), mukammil (keterangan atau pelengkap informasi), tabi` (yang menerangkan fungsi yang lain), rabit (penghubung antar fungsi), dan tahwil (pengubah modus kalimat). (Badri via Syihabuddin, 2002: 42).
Menurut Gulayaini(2002:604), jumlah merupakan susunan dari musnād dan musnād ilaih. Dalam jumlah fi`liyah, fungsi musnād ilaih berupa fā`il atau nāibul fā`il sedangkan musnādnya berupa fi`l. Adapun dalam jumlah ismiyah, fungsi musnād ilaih dalam jumlah fi`liyah berupa mubtada’ sedangkan fungsi musnād berupa khabar.
Khabar adalah
Mubtada’ adalah
Jadi struktur dasar bahasa Arab adalah sebagai berikut:
Jumlah fi`liyyah dengan fi`l ma`lūm model I
Urutan 3 2 1
Fungsi Mukammil Musnād ilaih Musnād
Peran Mafūl bih Fā`il Fi’l
Kategori ism ism Fi’l ma’lūm muta`addiy
Contoh
Jumlah fi`liyyah dengan fi`l ma`lūm model II
Urutan 2 1
Fungsi Musnād ilaih Musnād
Peran Fā`il Fi’l
Kategori ism Fi’l ma’lūm
Contoh
Jumlah fi`liyyah dengan fi`l majhūl
Urutan 2 1
Fungsi Musnād ilaih Musnād
Peran Nāibul fā`il Fi’l
Kategori ism Fi’l majhūl
Contoh
BAB III
KALIMAT PASIF DALAM BAHASA ARAB
Dalam bahasa Arab istilah kalimat disebut Al-kalam atau Al-Jumlat. Al-Kalamu atau Al-Jumlatu adalah susunan dari dua kata atau lebih yang mempunyai makna yang lengkap (Hasan, tt: 15) Contoh:
‘aqbala dhoifun.
’Seorang tamu sudah tiba.’
Al-Jumlatu dibagi menjadi dua; Jumlatu Ismiyyatu yaitu kalimat yang diawali dengan ism seperti: Inna Al-`Adla Qiwamu Al-Muluki ‘Keadilan adalah tiangnya kerajaan.’ dan jumlah fi`liyah. Jumlatu Fi`liyyatu yaitu kalimat yang dimulai dengan fi`l seperti: Ja’a Al-Haqqu ‘Kebenaran telah datang’ ( Hāsimiy, tt:11)
Jumlah ismiyah bisa disamakan dengan kalimat nominal sedangkan jumlat fi`liyah bisa disamakan dengan kalimat verbal.
Istilah kalimat pasif sebenarnya tidak ada dalam tata bahasa Arab. Dalam kamus istilah lingusitik Arab kami tidak menemukan entri kalimat pasif. Yang ada hanya kata kerja pasif sebagai padanan fi`l majhūl. Hal ini tidak berarti dalam bahasa Arab tidak ada kalimat pasif. Adanya kata kerja bentuk pasif (fi`l majhūl) sudah merupakan bukti yang cukup kuat bahwa dalam bahasa arab ada kalimat pasif. Hanya saja dalam bahasa Arab kalimat pasif tidak selalu dibentuk dengan kata kerja pasif sebagai predikatnya bahkan tidak selalu berbentuk kalimat verbal. Contoh:
Dalam buku-buku nahwu dan sharf memang tidak ada pembahasan tentang kalimat pasif secara detail dan sistematis dalam satu bab tertentu. Akan tetapi kita bisa menemukannya di beberapa bab yang terpisah. Dari hasil studi literatur kami dari buku-buku nahwu, sharf, dan buku-buku yang lain kami menemukan beberapa bentuk kalimat pasif.
2.1 Kalimat Pasif dengan Fi`l Majhūl sebagai Predikat
Sebagai telah kami sebutkan di dalam BAB I , fi`l majhūl adalah fi`l (kata kerja) yang fā`il (pelaku)-nya tidak disebut dalam kalimat, melainkan dibuang karena suatu alasan (Ghulayaini, 1992:105). Fi`l majhūl dibentuk dari fi`l ma’lum dengan mengubah beberapa harakatnya. Untuk membentuk fi`l madhi majhūl huruf sebelum terakhir harakatnya diganti kasrah, dan semua huruf yang hidup yang berada di depannya, harakatnya diganti dengan dhommah (Ghulayaini, 1992:105). Contoh:
Fi`l Ma’lūm Fi`l Majhūl
Adapun untuk membentuk fi`l mudhori majhūl maka harakat huruf yang pertama diganti dengan dhommah dan harakat huruf sebelum akhir diganti dengan fathah (Ghulayaini, 1992:105). Contoh:
Fi`l Ma’lūm Fi`l Majhūl
Fi`l majhūl hanya bisa dibentuk dari fi`l muta’addi (Ghulayaini, 1992:106). Fil muta’addi (kata kerja transitif) adalah fi`l yang membutuhkan maf`ūl bih (Ghulayaini, 1992:98).
Sesuai dengan pengertian dan batasan-batasan fi`l majhūl di atas maka kalimat pasif yang dibentuk adalah kalimat pasif tanpa pelaku.
Kadang ada kalimat pasif dengan predikat berupa fi`l majhūl yang dibentuk dari fi`l lazim. Hal ini diperbolehkan dengan syarat subjek gramatikalnya berupa mashdar atau dharaf (Ghulayaini, 1992:106). Contoh:
Fi`l lazim adalah fi`l yang tidak membutuhkan maf`ūl bih (Ghulayaini, 1992:102)
2.2 Kalimat Pasif dengan Maf`ūl bih Muqaddam
Maf`ūl bih adalah isim yang menunjukkan terjadi atau tidak terjadinya perbuatan yang dilakukan oleh fail. (Ghulayaini, 2003: 412)
Aslinya fiail berjajar langsung dengan fiilnya setelah itu baru diikuti maful bih ( Ghulayaini, 2003: 413)
2.3 Kalimat pasif dengan Fi`l Muthawa`ah
Ada tiga pola fi`l yang berfungsi muthawaah yaitu fi`l berpola infaala iftaala tafa’’ala.
Fi`l yang mengikuti pola ifta’ala antara lain berfungsi sebagai muthawa’ah dari fi`l yang berpola fa’ala (Ma’shum, tt, 22-23) Contoh: Saya mengumpulkan onta, maka terkumpullah onta tersebut.
Fi`l yang mengikuti mengikuti pola infa’ala antara lain berfungsi sebagai muthawaah dari fi`l yang berpola fa’ala dan juga muthawaah dari fi`l yang berpola if’ala (tapi jarang) (Ma’shum,tt 24-15). Contoh: Saya memecah kaca maka terpecahlah kaca tersebut.
Fi`l yang mengikuti pola tafa’’ala antara lain berfungsi sebagi muthawa’ah dari fi`l yang berpola fa’’ala (Ma’shum, tt: 20-21). Contoh: Saya memecahkan pecah maka terpecahkanlah kaca tersebut.
Muthawa’ah adalah.....
2.4 Pasif dengan Ism Maf`ūl
Selain bentuk-bentuk kalimat pasif di atas masih ada bentuk pasif yang lain yaitu dengan menggunakan ism maf`ūl. Hanya saja kami tidak menemukannya sebagai kalimat pasif melainkan sebagi frasa pasif.
Ism maf`ūl adalah ism yang diambil dari fi`l majhūl (Ghulayaini, 2003:135) yang menunjukkan terjadinya suatu perbuatan padanya (Ghulayaini, 1992:112). Contoh:
Ism maf`ūl dapat beramal seperti fi`l majhūl yaitu merafa’kan naibul fā`il (Ghulayaini, 1992:114). Contoh:
‘Ali adalah orang yang perbuatannya terpuji’
Ism maf`ūl dari fi`l śulāśiy mujarrad dibentuk dengan pola maf``ūlun contoh: Adapun yang selain dari sulasi mujarrad dibentuk berdasarkan lafal fi`l mudari`-majhūlnya. Huruf mudhori’nya diganti mim dan diharakat dhomah. Contoh: Ada juga ism maful yang sama dengan ism fail. Contoh : (Ghulayaini, 2003:135)
Ism maf`ūl juga bisa beramal seperti fi`lnya (fi`l majhūl) dengan syarat seperti syarat beramalnya ism fā’il (Hasyimi, tt:313) Contoh: Kau adalah orang perbuatannya terpuji.
Yang dimaksud dengan syarat beramalnya ism fā`il adalah sebagai berikut: Bila ber-al maka bisa beramal tanpa syarat. Adapun bila tidak ber-al maka harus : didahului huruf nafi atau huruf istifham, atau menjadi mubtada’, maushuf (Hasyimi, tt: 310)
Contoh:
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ghalayaini, Syekh Mushthafa. 1916. Ad-Durusu Al-`Arabiyatu. Cetakan I. Beirut: Al-Mathba'atu Al-Ahliyah.
______. 2003. Jami`u Ad-Durusi Al-`Arabiyati. Cetakan ke-21. Beirut: Al-Mathba'atu Al-Ahliyatu.
Al-Hasyimi, Ahmad. tt. Al-Qawa`idu Al-Asaasiyyatu Lilughati Al-`Arabiyyati. Beirut: Dar Al-Kutubu Al-'Ilmiyyati.
Ali, Muhammad. 1922. A Dictionary of Theoritical Lingustics, English – Arabic. Lubnan: Librairie Du Liban
Al-Jarim, Ali Musthafa Amin. 1956. An-Nahwu Al-Wadhihu. Juz I. Mesir: Darul Ma'arif.
Dahdah, Anton Ad. 1987. Mu'jamu Qawa'idi Al-Lughati Al-`Arabiyati. Cetakan III. Beirut: Maktabah Lubnan.
Darwisy, Abdullh.tt.Tahdzibu An.Nahwi.
Dik, S.C. dan Kooij, J.G.1994. ILmu Bahasa Umum,terjemahan dari Algemene taal waten schap oleh T.W. Kamil. Jakarta: RUL
Hasan, Abbas. Tt. An-Nahwu Al- Waviyyu. Almujallad Awwal. Kairo: Darul Ma`arif.
Hasanah, Uswatun. 1998. El-Muna, Kamus Indonesia-Arab. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Kaswanti Purwo, Bambang. 1989. Serpih-Serpih Telaah Pasif Bahasa Indonesia, diterjemahkan dan disunting oleh B. Kaswanti Purwo, diterbitkan sebagai edisi dwibahasa bersama naskah aslinya. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik, cetakan III. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Ma`shum, Muhammad. Tt. Al-`Amsilatu At-Tashrifiyyatu. Surabaya: Maktabat wa Mathbaat Salim Nabhan.
Mahdi dan Wahbih. Tt. Mu`jamu Al-istilāhatu Al-Arabiyyati Fi Al-Lugati Wal-Adab. Beirut: Maktabah Lubnan.
Munawwar, Ahmad Warson. 1984. Al-Munawir, Kamus Arab-Indonesia. Yogyakarta: Al-Munawwir.
Syamsuddin, Abu Abdillah. Tt. Terjemah Fathul Qarib. Kudus: Menara Kudus
Sudaryanto. 1992. Metode Lingusitik: Ke Arah Memahami Metode Lingustik, cetakan III. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
______1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa, Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Lingusistis. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.
Verhaar, J.W.M. 1996. Asas-asas Lingustik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Verhaar, J.W.M. 1984. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ada berbagai jenis kalimat yang kita kenal. Diantaranya adalah kalimat aktif dan kalimat pasif. Kalimat aktif adalah kalimat yang subjek gramatikal verbanya melakukan suatu kegiatan atau proses (Samsuri, 1981;12), contoh: Saya menulis surat
Adapun kalimat pasif adalah kalimat yang subjek gramatikal verbanya menderita atau dikenai verba itu (Samsuri, 1981;13), contoh: Surat itu dibuang. Surat itu ditulis dengan pensil. Surat itu kutulis dengan pensil
Kalimat pasif dalam beberapa bahasa seperti Indonesia dan Inggris menggunakan kata kerja pasif sebagai predikatnya. Hal ini juga berlaku di dalam bahasa Arab. Perhatikan ketiga kalimat di bawah ini:
(Indonesia) Ikan asin dimakan kucing
(Inggris) I was hit by my parent ‘Aku dipukul oleh orang tuaku’
(Arab) Quri’a Al-kitab ‘Buku itu sudah dibaca’
Jadi ada kata kerja bisa dibagi menjadi dua macam; aktif dan pasif. Ketiga kata kerja dalam kalimat-kalimat diatas berbeda dengan kata kerja aktifnya (memakan, hit, Qara`a). Lihat tabel berikut ini.
Kata kerja aktif Kata kerja pasif
Memakan Dimakan
Hit ‘memukul’ Was hit ‘dipukul’
Qara`a Quri’a
Dalam A Dictionary of Theoritical Lingustics English-Arabic (Ali, 1922) dan Mu`jamu Al-istilāhatu Al-Arabiyyati Fi Al-Lugati Wal-Adab (Mahdi,tt) padanan kata kerja aktif (active verb) adalah fi`l ma`lūm sedangkan kata kerja pasif (passive Verb) padanannya adalah fi`l majhūl. Fi`l ma´lum adalah kata kerja yang fā`il-nya disebutkan dalam kalimat (Ghulayaini, 1912;104), sedangkan fi`l majhūl adalah kata kerja yang fā’il-nya tidak disebut dalam kalimat (dihilangkan) dengan tujuan tertentu (Ghulayaini, 1912;104). Kalimat aktif bisa dibentuk dengan menggunakan fi`l ma´lum sebagai predikatnya sedangkan kalimat pasif bisa dibentuk dengan menggunakan fi`l majhūl. Contoh: -Kalimat aktif: Qara’tu Al-Qur`ān ‘Saya sudah membaca Al-Quran’
-Kalimat pasif: Quri’a Al-Qur`ān ‘Al-Quran itu sudah dibaca’
Akan tetapi kita perlu memperhatikan kedua kalimat di atas secara lebih jeli. Ternyata pelaku dalam kalimat aktif di atas (kata ganti orang pertama: Tu ‘Saya’) tidak muncul dalam kalimat pasifnya. Hal ini karena kalimat tersebut menggunakan fi`l majhūl sebagai predikatnya sehingga pelakunya harus dihilangkan (tidak disebut dalam kalimat).
Uraian di atas menunjukkan bahwa fi`l majhūl hanya bisa digunakan untuk membentuk kalimat pasif yang tanpa pelaku. Jadi kalimat pasif yang memunculkan pelakunya tidak bisa dibentuk dengan fi`l majhūl sebagai perdikatnya.
Bila kita ingin membentuk kalimat pasif dengan tanpa menyembunyikan pelakunya maka kita harus menggunakan fi`l ma´lum sehingga kalimat di atas menjadi:
Al-Qur’ānu qara’tuhu
‘Alquran itu sudah kubaca’
Dalam buku-buku Nahwu dan Sarf kami tidak menemukan pembahasan secara khusus dan menyeluruh tentang kalimat pasif. Kami hanya menemukannya dalam bab tentang fi`l majhūl tapi dalam bab tersebut tidak ada pembahasan tentang bentuk kalimat pasif yang pelakunya dimunculkan atau bentuk-bentuk kalimat pasif yang lain. Akan tetapi hal ini tentu tidak berarti kalimat pasif dalam bahasa Arab selalu tidak menyebut pelaku.
Kita bisa menemukan kalimat-kalimat pasif dalam berbagai teks berbahasa Arab. Ada beberapa bentuk kalimat pasif yang tidak menggunakan fi`l majhūl. Contoh:
-Hādihi At-talabatu qad wāfaqaha al-`amidu (Hasanah, 1998: 4)
‘Permintaan ini telah disetujui oleh dekan’
-Al-miyāhu tanqasimu `ala arba`ati ‘aqsāmin (Syamsuddin, tt: 3)
‘Air terbagi menjadi empat jenis’
‘Idā māta ibnu ādam inqata`a amaluhu ‘illā..... (al-Hadis)
‘Apabila anak adam telah meninggal maka terputuslah amalnya’
Kalimat-kalimat di atas menunjukkan bahwa ada bentuk-bentuk kalimat pasif yang tidak menggunakan fi`l majhūl. Hal ini menarik untuk diteliti lebih lanjut. Apakah kalimat pasif bisa dibentuk tanpa menggunakan fi`l majhūl. Untuk itu kami mencoba melihat bagaimana Nawāl As-Sa`dawiy mengungkapkan kalimat-kalimat pasif dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr. Dengan begitu kita bisa melihat bentuk-bentuk kalimat pasif yang beraneka-ragam, setidaknya yang terdapat dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr. Pemilihan novel ini sebagai objek penelitian ini karena dalam novel ini banyak terdapat kalimat-kalimat pasif. Kami menemukan 55 buah kalimat pasif dan 36 frasa pasif.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang kami bahas dalam penelitian ini dapat dirumuskan menjadi kalimat tanya:
Seperti apa bentuk-bentuk kalimat pasif yang terdapat dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr karya Nawāl As-Sa`dawiy ?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk-bentuk kalimat pasif yang terdapat dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr karya Nawāl As-Sa`dawiy.
1.4 Landasan Teori
Dalam penelitian ini data yang kami jadikan objek penelitian berupa kalimat dan yang kami curigai sebagai kalimat pasif. Kami akan melihat bagaimana hubungan antar kata dalam kalimat atau frasa tersebut . Oleh karena itu kami menggunakan teori sintaksis. Sintaksis adalah tata bahasa yang membahas hubungan antar kata dalam tuturan (Verhaar, 1996;161). Ada tiga cara untuk mengkaji kalimat atau klausa secara sintaksis yaitu analisis fungsi, analisis peran dan analisis kategori (Verhaar, 1996;162).
Dengan ketiga analisis ini:
1. Kami menguji apakah data yang terkumpul benar-benar berupa kalimat pasif.
Hal ini bisa dilakukan dengan menemukan subjek gramatikalnya kemudian melihatnya dengan lebih jeli apakah subjek gramatikal tersebut dikenai verba atau melakukan verba yang mengisi fungsi predikat. Bila subjek gramatikal tersebut dikenai verba maka kalimat tersebut adalah kalimat pasif. Demikian sebaliknya, apabila ternyata subjek gramatikal tersebut melakukan verba maka kalimat tersebut bukan kalimat pasif.
2. Kami meneliti bagaimana struktur kalimat pasif tersebut. Apakah berbentuk jumlah ismiyah ataukah jumlah fi`liyah. Kata kategori mana yang mengisi fungsi-fungsi sintaksisnya.
1.5 Tahapan, Metode, dan Teknik Penelitian
Penelitian mempunyai tiga tahapan strategis yaitu; tahap pengumpulan dan penyediaan data, analisis data dan penyajian data.
1.5.1 Tahap pengumpulan dan penyediaan data
Data kami yang berupa kalimat-kalimat pasif kami kumpulkan dengan metode simak dengan teknik catat. Kami membaca novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr karya Nawāl As-Sa`dawiy lalu mencatat kalimat-kalimat pasif yang kami temukan ke dalam kartu data. Selanjutnya data yang terkumpul tersebut kami pilah berdasarkan struktur kalimatnya.
1.5.2 Tahap analisis data
Data yang sudah terpilah berdasarkan struktur kalimatnya kami ambil beberapa untuk dianalisisi. Proses analisis data kami lakukan dengan metode agih. Metode agih adalah metode penelitian yang alat penentunya menggunakan unsur bahasa itu sendiri (Sudaryanto, 1993:15). Lebih lanjut Sudaryanto (1993) menyebutkan bahwa metode agih mempunyai teknik dasar dan beberapa teknik lanjutan. Teknik dasarnya adalah teknik bagi unsur langsung (BUL), yaitu pembagian satuan lingual datanya menjadi beberapa bagian atau unsur.
Adapun teknik lanjutan dari metode agih ini setidaknya ada tujuh macam, yaitu; tekni lesap, teknik ganti, teknik perluasan, teknik sisip, teknik balik, teknik ubah ujud, dan teknik ulang.
Dalam penelitian ini teknik lanjutan yang kami pakai adalah teknik lesap, teknik ganti, teknik balik, dan teknik ubah ujud.
Teknik lesap kami lakukan dengan menghilangkan pelaku pada kalimat yang kami analisis. Penghilangan pelaku ini kami gunakan untuk membuktikan bahwa kalimat tersebut adalah kalimat pasif. Bila pelaku dalam kalimat itu bisa dihilangkan maka kalimat tersebut adalah kalimat pasif. Begitu juga sebaliknya. Bila pelaku kalimat tersebut tidak bisa dihilangkan (wajib hadir) maka kalimat tersebut bukan kalimat pasif.
Teknik ganti kami lakukan dengan mengganti predikat dalam kalimat yang kami analisis dengan fi`l majhūl. Teknik ini juga bisa membuktikan bahwa kepasifan suatu kalimat. Bila predikat kalimat tersebut bisa diganti dengan fi`l majhūl maka kalimat tersebut adalah kalimat pasif.
Teknik balik kami lakukan dengan membalik urutan kata penyusun kalimat yang kami analisis. Teknik ini kami lakukan pada data-data yang berupa kalimat pasif dengan maf`ūl bih muqaddam atau pengedepanan objek. Teknik bisa membuktikan apakah pengedepanan objek tersebut berfungsi menjadikan objek sebagi pelaku.
Teknik ubah ujud kami lakukan dengan mengubah kalimat yang kami analisis menjadi kalimat aktif. Bila kalimat tersebut tidak bisa diubah menjadi kalimat aktif maka perlu diragukan kepasifannya.
Keempat teknik lanjutan dari metode agih di atas kami pergunakan untuk menguji apakah data-data yang kami kumpulkan benar-benar berupa kalimat pasif.
1.5.3 Tahap penyajian data
Dalam menyajikan hasil analisis kami menggunakan metode informal dan metode formal. Metode formal adalah dengan menggunakan bahasa secara biasa sedangkan metoe informal adalah dengan menggunakan lambang-lambang (Sudaryanto, 1993:145)
1.6 Tinjauan Pustaka
1.6.1 Pustaka-pustaka yang membahas Kalimat Pasif
Topik tentang kalimat pasif merupakan topik yang menarik. Hal ini terbukti dengan banyaknya pustaka yang membahasnya. Diantaranya adalah:
1. Laporan penelitian M. Ramlan dengan judul “Masalah Aktif-pasif dalam bahasa Indonesia”, terbit tahun 1977.
2. Buku Bambang Kaswati Purwo (editor)dengan judul “Serpih-serpih Telaah pasif Bahasa Indonesia.” buku yang terbit tahun 1989 ini merupakan kumpulan tulisan beberapa ahli bahasa.
3. Buku Edi Subroto dengan judul “Konstruksi Verba Aktif-pasif dalam Bahasa Jawa”, terbit tahun 1994.
4. Buku Yulisma dengan judul “Konstruksi Verba Aktif-pasif dalam Bahasa Kerinci”, terbit tahun 1995.
5. Skripsi Dewa Putu Neki Suryana dengan judul “Kalimat Pasif dalam Bahasa Bali” tahun 2000.
Kami tidak menemukan pustaka yang membahas kalimat pasif bahasa Arab. Akan tetapi ada beberapa skripsi mahasiswa Sastra Asia Barat Fakultas Ilmu Budaya UGM yang mengambil topik fi`l majhūl (kata kerja pasif); Skripsi Darul Akhirah dengan judul Penggunaan Fi`l Majhul Dalam Novel Salamatu Al-Qas: Analisis Struktural
1.6.2 Pustaka-pustaka yang membahas novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr
Novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr pernah dibahas oleh Amin Ma’ruf dalam skripsinya yang berjudul Penanda Negasi Verba dalam Novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr: Analisis Kategori dan Peran. Dalam skripsi ini Amin Ma’ruf meneliti macam-macam verba penanda negasi verba yang digunakan oleh Nawāl As-Sa`dawiy dalam novel tersebut.
1.7 Sistematika Penyajian
Hasil penelitian ini akan kami sajikan dalam lima bab; BAB I merupakan pendahuluan yang meliputi Latar belakang, Rumusan Masalah, Tujuan penelitian, Tinjauan Pustaka, Landasan Teori, Tahapan, metode dan teknik penelitian, dan Sistematika penyajian. BAB II berisi uraian tentang fungsi-fungsi sintaksis dalam bahsa Arab. BAB III berisi tentang batasan-batasan kalimat pasif dalam bahasa Arab. BAB IV merupakan analisis data yaitu kalimat-kalimat pasif dalam novel Imra’atu `Inda Nuqtati As-Sifr. BAB V adalah penutup yang berisi kesimpulan hasil analisis dan saran-saran.
BAB II
AL-JUMLAH DAN FUNGSI-FUNGSI SINTAKSISNYA
2.1 Al-Jumlah
Dalam bahasa Arab istilah kalimat disebut Al-kalam atau Al-Jumlah. Al-Kalam atau Al-Jumlah adalah susunan dari dua kata atau lebih yang mempunyai makna yang lengkap (Hasan, tt: 15) Contoh:
‘Aqbala dhoifun.
’Seorang tamu sudah tiba.’
Al-Jumlah dibagi menjadi dua; Jumlah Ismiyyah yaitu kalimat yang diawali dengan ism seperti: Inna Al-`Adla Qiwāmu Al-Muluki ‘Keadilan adalah tiangnya kerajaan.’ dan jumlah fi`liyah. Jumlah Fi`liyyah yaitu kalimat yang dimulai dengan fi`l seperti: Jā’a Al-Haqqu ‘Kebenaran telah datang’ ( Hāsimiy, tt:11)
Jumlah ismiyah bisa disamakan dengan kalimat nominal sedangkan jumlah fi`liyah bisa disamakan dengan kalimat verbal. Jumlah ismiyah terdiri dari mubtada’ + khabar. Adapun jumlah ismiyah tersusun dari fi`l + fā`il + maf`ul bih. Kiranya perlu kita lihat terlebih dahulu fungsi-fungsi sintaksis bahasa Arab.
2.2. Fungsi-fungsi sintaksis bahasa Arab
Menurut Verhaar (1996:165) fungsi “induk” dalam sebuah klausa (kalimat tunggal) adalah predikat.
Fungsi mengacu ke tugas unsur kalimat (Cahyono, 1995: 180)
Menurut Syihabuddin (2002: 42) Fungsi sintaksis adalah tempat yang diduduki oleh sebuah kata dalam menjalankan fungsinya. Dalam istilah Cahyono ( 1995: 180) fungsi adalah tugas dari unsur kalimat.
Dalam bahasa Arab fungsi sintaksis ditunjukkan oleh i`rāb. I`rāb adalah perubahan akhir kata atau frase karena dimasuki ‘āmil yang berbeda-beda. Perubahan tersebut bisa berupa perubahan lafadz dan bisa juga berupa perubahan secara perkiraan (Hasyimi, tt: 27)
Fungsi kata atau fungsi sintaksis bahasa Arab ada enam macam, yaitu musnād ilaih (kata atau frase yang dibciarakan), musnād (kata yang menerangkan musnād ilaih), mukammil (keterangan atau pelengkap informasi), tabi` (yang menerangkan fungsi yang lain), rabit (penghubung antar fungsi), dan tahwil (pengubah modus kalimat). (Badri via Syihabuddin, 2002: 42).
Menurut Gulayaini(2002:604), jumlah merupakan susunan dari musnād dan musnād ilaih. Dalam jumlah fi`liyah, fungsi musnād ilaih berupa fā`il atau nāibul fā`il sedangkan musnādnya berupa fi`l. Adapun dalam jumlah ismiyah, fungsi musnād ilaih dalam jumlah fi`liyah berupa mubtada’ sedangkan fungsi musnād berupa khabar.
Khabar adalah
Mubtada’ adalah
Jadi struktur dasar bahasa Arab adalah sebagai berikut:
Jumlah fi`liyyah dengan fi`l ma`lūm model I
Urutan 3 2 1
Fungsi Mukammil Musnād ilaih Musnād
Peran Mafūl bih Fā`il Fi’l
Kategori ism ism Fi’l ma’lūm muta`addiy
Contoh
Jumlah fi`liyyah dengan fi`l ma`lūm model II
Urutan 2 1
Fungsi Musnād ilaih Musnād
Peran Fā`il Fi’l
Kategori ism Fi’l ma’lūm
Contoh
Jumlah fi`liyyah dengan fi`l majhūl
Urutan 2 1
Fungsi Musnād ilaih Musnād
Peran Nāibul fā`il Fi’l
Kategori ism Fi’l majhūl
Contoh
BAB III
KALIMAT PASIF DALAM BAHASA ARAB
Dalam bahasa Arab istilah kalimat disebut Al-kalam atau Al-Jumlat. Al-Kalamu atau Al-Jumlatu adalah susunan dari dua kata atau lebih yang mempunyai makna yang lengkap (Hasan, tt: 15) Contoh:
‘aqbala dhoifun.
’Seorang tamu sudah tiba.’
Al-Jumlatu dibagi menjadi dua; Jumlatu Ismiyyatu yaitu kalimat yang diawali dengan ism seperti: Inna Al-`Adla Qiwamu Al-Muluki ‘Keadilan adalah tiangnya kerajaan.’ dan jumlah fi`liyah. Jumlatu Fi`liyyatu yaitu kalimat yang dimulai dengan fi`l seperti: Ja’a Al-Haqqu ‘Kebenaran telah datang’ ( Hāsimiy, tt:11)
Jumlah ismiyah bisa disamakan dengan kalimat nominal sedangkan jumlat fi`liyah bisa disamakan dengan kalimat verbal.
Istilah kalimat pasif sebenarnya tidak ada dalam tata bahasa Arab. Dalam kamus istilah lingusitik Arab kami tidak menemukan entri kalimat pasif. Yang ada hanya kata kerja pasif sebagai padanan fi`l majhūl. Hal ini tidak berarti dalam bahasa Arab tidak ada kalimat pasif. Adanya kata kerja bentuk pasif (fi`l majhūl) sudah merupakan bukti yang cukup kuat bahwa dalam bahasa arab ada kalimat pasif. Hanya saja dalam bahasa Arab kalimat pasif tidak selalu dibentuk dengan kata kerja pasif sebagai predikatnya bahkan tidak selalu berbentuk kalimat verbal. Contoh:
Dalam buku-buku nahwu dan sharf memang tidak ada pembahasan tentang kalimat pasif secara detail dan sistematis dalam satu bab tertentu. Akan tetapi kita bisa menemukannya di beberapa bab yang terpisah. Dari hasil studi literatur kami dari buku-buku nahwu, sharf, dan buku-buku yang lain kami menemukan beberapa bentuk kalimat pasif.
2.1 Kalimat Pasif dengan Fi`l Majhūl sebagai Predikat
Sebagai telah kami sebutkan di dalam BAB I , fi`l majhūl adalah fi`l (kata kerja) yang fā`il (pelaku)-nya tidak disebut dalam kalimat, melainkan dibuang karena suatu alasan (Ghulayaini, 1992:105). Fi`l majhūl dibentuk dari fi`l ma’lum dengan mengubah beberapa harakatnya. Untuk membentuk fi`l madhi majhūl huruf sebelum terakhir harakatnya diganti kasrah, dan semua huruf yang hidup yang berada di depannya, harakatnya diganti dengan dhommah (Ghulayaini, 1992:105). Contoh:
Fi`l Ma’lūm Fi`l Majhūl
Adapun untuk membentuk fi`l mudhori majhūl maka harakat huruf yang pertama diganti dengan dhommah dan harakat huruf sebelum akhir diganti dengan fathah (Ghulayaini, 1992:105). Contoh:
Fi`l Ma’lūm Fi`l Majhūl
Fi`l majhūl hanya bisa dibentuk dari fi`l muta’addi (Ghulayaini, 1992:106). Fil muta’addi (kata kerja transitif) adalah fi`l yang membutuhkan maf`ūl bih (Ghulayaini, 1992:98).
Sesuai dengan pengertian dan batasan-batasan fi`l majhūl di atas maka kalimat pasif yang dibentuk adalah kalimat pasif tanpa pelaku.
Kadang ada kalimat pasif dengan predikat berupa fi`l majhūl yang dibentuk dari fi`l lazim. Hal ini diperbolehkan dengan syarat subjek gramatikalnya berupa mashdar atau dharaf (Ghulayaini, 1992:106). Contoh:
Fi`l lazim adalah fi`l yang tidak membutuhkan maf`ūl bih (Ghulayaini, 1992:102)
2.2 Kalimat Pasif dengan Maf`ūl bih Muqaddam
Maf`ūl bih adalah isim yang menunjukkan terjadi atau tidak terjadinya perbuatan yang dilakukan oleh fail. (Ghulayaini, 2003: 412)
Aslinya fiail berjajar langsung dengan fiilnya setelah itu baru diikuti maful bih ( Ghulayaini, 2003: 413)
2.3 Kalimat pasif dengan Fi`l Muthawa`ah
Ada tiga pola fi`l yang berfungsi muthawaah yaitu fi`l berpola infaala iftaala tafa’’ala.
Fi`l yang mengikuti pola ifta’ala antara lain berfungsi sebagai muthawa’ah dari fi`l yang berpola fa’ala (Ma’shum, tt, 22-23) Contoh: Saya mengumpulkan onta, maka terkumpullah onta tersebut.
Fi`l yang mengikuti mengikuti pola infa’ala antara lain berfungsi sebagai muthawaah dari fi`l yang berpola fa’ala dan juga muthawaah dari fi`l yang berpola if’ala (tapi jarang) (Ma’shum,tt 24-15). Contoh: Saya memecah kaca maka terpecahlah kaca tersebut.
Fi`l yang mengikuti pola tafa’’ala antara lain berfungsi sebagi muthawa’ah dari fi`l yang berpola fa’’ala (Ma’shum, tt: 20-21). Contoh: Saya memecahkan pecah maka terpecahkanlah kaca tersebut.
Muthawa’ah adalah.....
2.4 Pasif dengan Ism Maf`ūl
Selain bentuk-bentuk kalimat pasif di atas masih ada bentuk pasif yang lain yaitu dengan menggunakan ism maf`ūl. Hanya saja kami tidak menemukannya sebagai kalimat pasif melainkan sebagi frasa pasif.
Ism maf`ūl adalah ism yang diambil dari fi`l majhūl (Ghulayaini, 2003:135) yang menunjukkan terjadinya suatu perbuatan padanya (Ghulayaini, 1992:112). Contoh:
Ism maf`ūl dapat beramal seperti fi`l majhūl yaitu merafa’kan naibul fā`il (Ghulayaini, 1992:114). Contoh:
‘Ali adalah orang yang perbuatannya terpuji’
Ism maf`ūl dari fi`l śulāśiy mujarrad dibentuk dengan pola maf``ūlun contoh: Adapun yang selain dari sulasi mujarrad dibentuk berdasarkan lafal fi`l mudari`-majhūlnya. Huruf mudhori’nya diganti mim dan diharakat dhomah. Contoh: Ada juga ism maful yang sama dengan ism fail. Contoh : (Ghulayaini, 2003:135)
Ism maf`ūl juga bisa beramal seperti fi`lnya (fi`l majhūl) dengan syarat seperti syarat beramalnya ism fā’il (Hasyimi, tt:313) Contoh: Kau adalah orang perbuatannya terpuji.
Yang dimaksud dengan syarat beramalnya ism fā`il adalah sebagai berikut: Bila ber-al maka bisa beramal tanpa syarat. Adapun bila tidak ber-al maka harus : didahului huruf nafi atau huruf istifham, atau menjadi mubtada’, maushuf (Hasyimi, tt: 310)
Contoh:
DAFTAR PUSTAKA
Al-Ghalayaini, Syekh Mushthafa. 1916. Ad-Durusu Al-`Arabiyatu. Cetakan I. Beirut: Al-Mathba'atu Al-Ahliyah.
______. 2003. Jami`u Ad-Durusi Al-`Arabiyati. Cetakan ke-21. Beirut: Al-Mathba'atu Al-Ahliyatu.
Al-Hasyimi, Ahmad. tt. Al-Qawa`idu Al-Asaasiyyatu Lilughati Al-`Arabiyyati. Beirut: Dar Al-Kutubu Al-'Ilmiyyati.
Ali, Muhammad. 1922. A Dictionary of Theoritical Lingustics, English – Arabic. Lubnan: Librairie Du Liban
Al-Jarim, Ali Musthafa Amin. 1956. An-Nahwu Al-Wadhihu. Juz I. Mesir: Darul Ma'arif.
Dahdah, Anton Ad. 1987. Mu'jamu Qawa'idi Al-Lughati Al-`Arabiyati. Cetakan III. Beirut: Maktabah Lubnan.
Darwisy, Abdullh.tt.Tahdzibu An.Nahwi.
Dik, S.C. dan Kooij, J.G.1994. ILmu Bahasa Umum,terjemahan dari Algemene taal waten schap oleh T.W. Kamil. Jakarta: RUL
Hasan, Abbas. Tt. An-Nahwu Al- Waviyyu. Almujallad Awwal. Kairo: Darul Ma`arif.
Hasanah, Uswatun. 1998. El-Muna, Kamus Indonesia-Arab. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Kaswanti Purwo, Bambang. 1989. Serpih-Serpih Telaah Pasif Bahasa Indonesia, diterjemahkan dan disunting oleh B. Kaswanti Purwo, diterbitkan sebagai edisi dwibahasa bersama naskah aslinya. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik, cetakan III. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Ma`shum, Muhammad. Tt. Al-`Amsilatu At-Tashrifiyyatu. Surabaya: Maktabat wa Mathbaat Salim Nabhan.
Mahdi dan Wahbih. Tt. Mu`jamu Al-istilāhatu Al-Arabiyyati Fi Al-Lugati Wal-Adab. Beirut: Maktabah Lubnan.
Munawwar, Ahmad Warson. 1984. Al-Munawir, Kamus Arab-Indonesia. Yogyakarta: Al-Munawwir.
Syamsuddin, Abu Abdillah. Tt. Terjemah Fathul Qarib. Kudus: Menara Kudus
Sudaryanto. 1992. Metode Lingusitik: Ke Arah Memahami Metode Lingustik, cetakan III. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
______1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa, Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan secara Lingusistis. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.
Verhaar, J.W.M. 1996. Asas-asas Lingustik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Verhaar, J.W.M. 1984. Pengantar Linguistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.